Aku, Tante Lisa dan Tetangganya

April 29, 2009 pukul 8:51 am | Ditulis dalam Cerita Dewasa, Pesta Seks | Tinggalkan komentar

Kisah ini berawal dari nafsuku yang boleh dibilang ugal-ugalan. Bagaimana tidak, disaat usiaku yang mencapai 29 tahun, sekarang ini inginnya ML (bersetubuh) terus tiap hari dengan istriku (inginnya 3 kali sehari). Dan para netters duga, pasti seorang istri tidak hanya menginginkan kepuasan seksual setiap waktu, akan tetapi juga kerja mengurus rumah lah, mengurus anak lah dan lain-lain banyaknya. Sehingga nyaris istriku juga sering keberatan kalau tiap malam bersetubuh terus, dan aku juga kasihan padanya. Setiap kali bercinta, istriku bisa 3 kadang 4 kali orgasme dan aku sendiri kadang tidak ejakulasi sama sekali karena istriku keburu lelah duluan. Paling setelah istriku tertidur pulas kelelahan, aku langsung pindah ke meja kerjaku dan menyalakan PC, lalu memutar Blue Film dan aku lanjutkan dengan self service. Setelah puas, aku baru menyusul istriku yang tertidur, dan jika tengah malam aku terjaga dan kudapati “pusakaku” berdiri, aku ulangi lagi hingga aku benar-benar lelah dan tertidur.

Aku sendiri sangat bergairah apabila melihat tante-tante yang umumnya mereka lebih dewasa, lebih pintar dan telaten dalam urusan ranjang. Bahkan aku dalam melakukan onani sering membayangkan dengan tante-tante tetanggaku yang umumnya genit-genit. Begitu hingga suatu saat, aku mendapat pengalaman bercinta yang amat berkesan dalam sejarah kehidupan seksualku.Ceritanya berawal pada saat temanku mengajak karaoke di kawasan wisata prigen dan sebelumnya aku belum pernah masuk ke kawasan semacam itu. Kami bertiga pesan ruang utama yang mempunyai pintu sendiri dan ruangan itu terpisah dengan yang lainnya selama tiga jam penuh.

“Eh, Eko emangnya Elo udah booking cewek untuk nemenin Kita..?” tanyaku pada Eko, salah seorang dari kawanku.
“Sabaarrr Boss, entar Adi juga bawain tuh cewek..” tukasnya.
Sepuluh menit kemudian, saat aku akan menyulut Djarum 76-ku, merapatlah sebuah Kijang dan Civic Wonder berjejeran ke hadapanku dan Eko. Kalau Kijang itu aku kenal, itu adalah Kijang-nya si Adi dan keluar dua orang ABG yang berdandan Ahooyy. Berdesir darah lelakiku melihat dua orang ABG itu. Bagaimana tidak, pakainnya super ketat dan sangat menonjolkan bukit-bukit indah di dada dan pantatnya. Akan tetapi, aku tidak kenal dengan Civic itu. Aku melihat di dalamnya ada seorang cewek ABG dan seorang lagi wanita sekitar 35 tahun (menurut taksiranku dari raut wajahnya).
Eko yang rupanya kenal baik dengan kedua wanita itu langsung menyambut dan membukakan pintu, lantas memperkenalkannya kepadaku.
“Lisa..” seru tante itu disambut uluran tangannya padaku.
“Inneke..” sahut gadis manis disampingnya.
Singkat cerita, kami sudah mulai bernyanyi, berjoget dan minum-minum bersama, entah sudah berapa keping VCD Blue Dangdut yang kami putar. Aku melihat Eko dan Adi mulai mendekati sudut ruangan, dan entah sudah berapa lama ceweknya orgasme karena oral yang mereka lakukan. Sementara aku sendiri agak kaku dengan Lisa dan Inneke. Kami pun tetap bernyanyi-nyanyi, meskipun syairnya awur-awuran karena desakan birahi akibat pertunjukan BF di depan kami.

Aku sendiri duduk di dekat Lisa, sementara Inneke serius menyanyikan lagu-lagu itu. Tante Lisa sendiri sudah habis satu pak A-mild-nya, sementara aku melihat wajah Inneke yang merah padam dan kadang nafasnya terengah pelan karena menahan gejolak yang ia saksikan di layar 29 inch itu. Tiba giliranku untuk mengambil mike dari Inneke, aku bangkit mengambil mike itu dari tangan Inneke dan mengambil duduk di antara Inneke dan Lisa. Pengaruh minumanku dan XTC yang mereka telan membuat kami jatuh dalam alunan suasana birahi itu.
“Boy.., I want your sperm tonight Honey…” bisik Lisa lirih di telingaku, sementara tangan kirinya meraba selangkanganku.

Inneke yang sudah meletakkan pet aqua-nya mengambil sikap yang sama padaku. Dia malah mulai memainkan ujung lidahnya di telinga. Hangat nafas dan harum kedua wanita itu membuatku terbuai dalam alunan melodi birahi yang sudah aku rasakan menjalar menelusuri selangkanganku. Perlahan namun pasti, kejantananku menegak dan kencang, sehingga Lee Cooper-ku rasanya tidak muat lagi, apalagi saat meneganggnya salah jalur dan sedikit melenceng.
“Lho kok.. bengkok punyamu Say..?” tanya Lisa padaku pura-pura seperti seorang amatiran saja.
Belum sempat aku menjawab, buru-buru Inneke membuka zipper dan CD-ku, lantas mengeluarkan isinya.
“Gini lho Tan… mintanya dilurusin, Mas Boy ini..” kata Inneke diikuti penundukkan kepalanya ke arah selangkanganku.
“Aaakkhhh…” pekikku tertahan saat Inneke spontan mulai mengulum kepala penisku ke dalam mulutnya dikombinaksikan dengan sedotan dan jilatan melingkar lidah.
Spotan kedua kakiku menegang dan membuka lebih lebar lagi untuk memudahkan oral Ineke.

“Ooookh My Godd… ssshhh… aakkk…” desahku.
Seluruh tubuhku bergetar dan terasa disedot seluruh sumsun tulangku lewat lubang penisku. Permainan Inneke betul-betul professional, sampai-sampai dentuman musik itu sepertinya tidak kudengar lagi, karena telingaku juga berdesir kencang. Ujung penisku betul-betul ngilu, hangat, geli dan perasaan birahi bercampur jadi satu disana. Lisa lantas membuka kancing kemeja Hawai-ku dan mundaratkan mulut indahnya di puting susu kiriku, sementara puting kanan dimainkan oleh telunjuk dan jempol kirinya.

“Aaakkk… mmmhhh…” desahku tidak menentu.
Aku betul-betul tidak tahan menikmati sensasi ini.
“Gila.., inilah penyelewenganku yang pertama dan dimanja oleh dua orang wanita sekaligus…” bisikku dalam hati.
Aku semakin tidak tahan saja, lalu kurengkuh leher Lisa dan kudekatkan bibirku, kujulurkan lidahku menyapu seluruh rongga mulutnya dan sesekali kuhisap dalam-dalam bibir bawahnya yang sangaat menawan itu. Ini karena jujur saja, aku lebih bergairah dengan Tante Lisa, meskipun sudah hampir mencapai kepala 4 itu (dalam perbincangan kami, akhirnya aku tahu juga umur Lisa, meskipun tidak pasti segitu bahkan bisa lebih).

Badanku lantas kumiringkan dan bersandar pada sofa.
Bukit indah Tante Lisa adalah tujuanku dan benar saja, berapa saat kemudian, “Oookkkhhh… Nimaaatthh… Sayyy… seddooottthhh… terrruuusshhh…” desah Lisa terengah-engah.
Sedotanku kukombinasikan dengan pelintiran jempol dan telunjuk kiriku, sesekali kuputar-putar putingnya dengan telapak tanganku.
“Ssshhh… terussshhh… Sayyy…” Lisa mendesis seperti ular.
Tiba-tiba, “Teeettt..,” suara bel mengejutkan kami, pertanda sepuluh menit lagi akan berakhir.
Aku melihat Adi dan Eko tersandar kelelahan, dan kulihat ada sisa sperma menentes dari ujung penis-nya yang mulai mengkerut.
“Udahan dulu ya Tante.., In..,” pintaku pada mereka.
“Emmhhh… Oke…” jawab mereka dengan nada sedikit keberatan.

Kami pun turun, aku berpisah dengan Adi dan Eko, entah kemana mereka melanjutkan petualangan birahinya. Dan kami pun sudah masuk ke Civic Lisa.
“Kemana Kita nich..?” tanyaku sok bloon seraya menghidupkan mesin.
“Kita lanjutin di hotel yuk Ke..!” ajak Tanta Lisa kepada Inneke.
“Baik Tan… Kita ke hotel **** (edited) yang punya whirpool di kamarnya.” sahut Inneke.
Rupanya Tante Lisa adalah seorang eksekutif, karena itu ia pesan salah satu President Suit Room yang mana seumur-umur aku baru mesuk ke dalamnya. Kamarnya luas, kurang lebih 6 x 8 meter, beralaskan permadani coklat muda kembang-kembang dan dilengkapi whirpool yang menghadap ke arah kehijauan lembah. Kamar itu juga mempunyai sofa panjang di sebelah whirpool.

Begitu masuk, Tante Lisa lalu mengunci pintu, aku dan Inneke mengambil tempat duduk di sofa sebelah whirpool. Aku melingkarkan lenganku ke pundak Inneke, alunan musik malam pun semakin menambah romantis suasana.
“Innn…” bisikku mesra kepada Inneke mengawali percumbuanku.
Inneke yang sudah on berat itu langsung menyambut kecupanku, nafasnya terengah-engah, menandakan bahwa dia sangat menginginkan kehangatan, kenikmatan dan mengisi kekosongan ruang vaginanya yang terasa menggelitik dan lembab. Dengan sedikit tergesa, aku melepas CD-nya, lalu kurebahkan kepalanya di sandaran sisi sofa dan keletakkan pinggulnya tepat diselangkanganku.
“Sreett…” penisku mulai bereaksi saat pantatnya yang dingin menyentuh Lee Cooper-ku dan kulihat Inneke terpejam, sementara tangannya membetulkan rambutnya yang tergerai di sofa.

Aku mulai memainkan jari telunjukku di bibir luar vaginanya yang sudah mulai melelehkan cairan bening dari hulunya. Tidak ketinggalan, bibirku menghisap dalam-dalam dan sesekali kujepit putingnya dengan kedua bibirku lalu kutarik-tarik, sesekali kupilin-pilin dengan kedua bibirku.
“Wuuuaahhh… ssshhh… terussshhh… nikkkmatthhh…” desah Inneke keras-keras saat kuperlakukan seperti itu.
Tubuhnya kejang panas dan seluruh aliran darahnya kini memuncak. Sengaja aku tidak memasukkan telunjukku, karena untuk menstimulasi lebih intens lagi. Kami bercumbu dan sudah tidak ingat lagi apa yang dilakukan Lisa di kamar mandi yang begitu lama.

“Bentar Inn.., Aku pispot dulu yach..?” kataku sambil melepaskan cumbuanku.
“Emmhhh…” desah Inneke sedikit kesal.
Akan tetapi, aku melihat Inneke melanjutkan birahinya dengan dua jari. Aku sendiri berlari kecil menuju ke kamar kecil dan sesampai di pintu, aku kaget karena mendapati Tante Lisa lagi meregang orgasmenya.
“Aaakkkhhh… ssshhh… ssshhh…” desah Tante Lisa, matanya mendelik merem melek.
Tampaknya vibrator mutiara itu masih bekerja, sehingga saat aku kencing, Lisa pun tidak melihatku.
“Boyyy…” sebuah panggilan lembut mengagetkan aku saat hendak meninggalkan kamar mandi itu.
“I… iii.. yaaa… Tan..?” sahutku agak kaget.
“Sini dooonggg..! Hangatin vagina Lisa dengan penis Kamu yang.., ookkhhh…” Tante Lisa terpekik saat vibrator itu ia cabut dari liang vaginanya.

Aku hampiri Tante Lisa di Bath tub itu dan aku baringkan tubuhku disana.
“Oh.., nikmat sekali mandi air hangat dikelonin tante seksi ini.” bisikku dalam hati.
Aku rengkuh lehernya dan kuberikan french kiss yang begitu mesra dan Tante Lisa pun membalas dengan ganas seluruh rongga mulutku, leher dan kadang puting susuku di hisapnya. Penisku yang terendam kehangatan air itu semakin maksimal saja. Selama tiga menit kami bercumbu, Tante Lisa nampaknya tidak dapat mengendalikan nafsunya.
“Mmmppphhh… oookkkhhh… setubuhi aku Boy..! Cepeeetthh..!” pinta Tante lisa sambil menggeliat seperti cacing kepanasan.
“Baik.. Lisss… Terima penisku yang panjaaanggg…” bisikku sambil memasukkan seluruh batang penisku pelan sekali.
“Oohhh… mmmppphhh… nikmatthh…” gumannya saat batang kejantananku mili per mili mulai menjejali rongga rahimnya.
“Kocokkhh.. yaacchhh… terussshhh… aaakhh… nimat bangeettthh..!” serunya ketika aku mulai mengosok-gosok pelan penisku.

Aku keluarkan kira-kira empat senti, lalu kukocok lima atau enam kali dengan cepat dan kusodokkan dalam-dalam pada kocokan ke tujuh. Rupanya usahaku tidak sia-sia untuk menstimulasi G-spot-nya.
“Aaakkkhhh… ooohhh… nimatthhnyaa… oookkkhhh Godd..!” teriaknya mengawali detik-detik orgasmenya.
Sepuluh detik kemudian, “Nnggghhh… aaakkkhhh… sshhhfff… ookkkhhh… Boyy… kocokk… lebih intens lagi Yannk..!” jerit Tante Lisa diiringi geliat liar tubuh indahnya.
Payudaranya diremas-remasnya sendiri, sementara aku tetap berpegangan pada sisi bathtub sambil mengocok lembut vaginanya.
“Akkhh…” teriakku pelan saat Tante Lisa menggigit pundakku karena aku masih saja mengocok penisku di vaginanya.
Rupanya Lisa sudah mulai ngilu.

Aku memeras tegang otot lenganku dan Tante Lisa sepertinya minta time out untuk mengatur nafas dan menghilangkan kengiluan di liang sengamanya. Aku meraih lehernya, lalu aku berdiri pada dua lututku dan Tante Lisa diam mengikuti apa yang akan kulakukan. Aku memondong Lisa dan tetap menjaga penisku tertanam dalam-dalam di vagina Tante Lisa yang mengapit kedua tungakainya ke pinggangku. Kami menghampiri Inneke yang juga lagi meregang orgasmenya dan Inneke tampaknya lebih liar dari pada Lisa, mungkin karena pengaruh XTC dan suasana yang penuh hawa birahi itu.

“Aaaoookkkhhh… ssshhh… aaakkkhhh… aaakkkhhh…” jerit Inneke keras sambil menghujam-hujamkan kedua jari kanannya.
Sementara tangan kirinya meremas dan memilin payudaranya dan sesekali ditekan serta diputar. Aku terkesima sejenak dengan pemandangan yang diciptakan Inneke itu dan aku mebayangkan akan lebih histeris lagi pasti jika yang keluar masuk itu adalah 15 cm penis kebanggaanku.
“Booyy… ayyyoook terusinn..!” pinta Tante Lisa diiringi goyangan lembut pinggulnya.
Ia tampaknya mulai bergairah kembali setelah melihat Inneke yang begitu histeris dan aku pun demikian ketika penisku hampir mengendor di Vagina Lisa. Aku maju selangkah dan mendudukkan Tante Lisa dari arah belakang sofa. Aku sendiri mengambil posisi berdiri untuk memudahkan eksplorasiku. Di lain pihak, Inneke yang sudah mengakhiri masturbasinya itu mengetahui kehadirna kami dan mengambil tempat di belakang Tante Lisa.

“Ookkhhh… Terusin Keee..!” pinta Tante Lisa saat Inneke menyibakkan rambutnya dan mulai mencumbui leher Tante Lisa.
Tidak ketinggalan, kedua telapak tangan Inneke menggoyang, memutar puting dan kadang-kadang dipilin lembut. Aku sepertinya merasakan apa yang Tante Lisa rasakan, darahnya mulai hangat, birahinya sudah memanas. Tubuh lisa bagaikan daging burger di antara aku dan Inneke, pinggulnya masih aktif menggoyang-goyang, kadang menghentak-hentak lembut.
“Oooaaakkkhhh… nngghhh… ohhhh… nngghhh… Kocok terushh… yaaa… iyaa… terusss..!” desah Tante Lisa keras saat aku tepat menstimulasi G-Spot-nya.
Nafasnya tersengal-sengal disela-sela lenguhan-lenguhan panjangnya, tubuh Tante Lisa menggeliat-geliat liar.
Inneke masih aktif membantu Tante Lisa menggapai surgawinya, kecupan-kecupan di belakang tubuh, leher, pinggang dan tiba-tiba Tante Lisa melenguh panjang diiringi percepatan hentakan pinggulnya. Aku semakin penasaran saja apakah yang dilakukan Inneke hingga Tante Lisa tampak lebih histeris lagi dari yang tadi. Kuraba raba punggung Lisa sambil kukulum mesra bibirnya, tanganku mulai turun ke arah pantatnya, kutekan kedua sisi bokongnya yang padat itu dan kuulir-ulir. Berawal dari situlah aku tahu rupanya telunjuk dan bibir Inneke memainkan peran di lubang anus Tante Lisa, telunjuknya yang berlumur vaselin itu keluar masuk lembut di vagina Tante Lisa.

“Oookkhhghh… Goddhh… Ke… truuusss… Yanng… oookkhhh, kontholll… akkhhh… sshhh…” ceracau Tante Lisa tidak beraturan, menjemput ambang orgasmenya.
Kedua lubang Tante Lisa terasa pejal dan hangat. Aku malah semakin terangsang oleh imajinasiku sendiri, aku lantas memeluk erat-erat Tante Lisa saat ia mulai mengencangkan lingkaran tangannya di tubuhku. Darahku juga mulai bergerak cepat menuju ke ujung syaraf di kepalaku, kupingku tidak lagi menghiraukan lenguhan dan desahan-desahan Tante Lisa.

“Oookkkhhh… Lissshhh… nikmathhh… vaginamu… Akkhhh..!” desahku saat birahiku kurasakan menjalar di seluruh tubuhku.
“Booyyy… Akuuu… mmmhhh… mauuu…” seru Tante Lisa menyambut orgasmenya.
Tubuhnya menegang, wajahnya merah merona, menambah cantiknya Tante kesepian ini, sementara bibirnya terkatup rapat.
“Sssebentar… Lissss… Kita keluar bareng…” bisikku yang kuiringi tempo kocokanku secara maksimal, yaitu kukeluarkan hampir sepanjang batangnya dan kubenamkan dalam-dalam di rahimnya.

Rupanya darahku tidak bertahan lama di syaraf-syarafku, hingga berdesir kencang meluncur melalui seluruh nadiku dan bermuara pada sebuah daging pejal di selangkanganku.
“Lisss… Aku nyammmppaaiii… uuaaakkkhhh… aaakkhhh.., aakhhh..,” desahku sambi memutar-mutar penisku yang tertanam maksimal di vagina Tante Lisa, sehingga rambut-rambutku yang disana juga menggelitik klitoris Tante Lisa.
“Sseerrr… serrr…” kurasakan cairan Tante Lisa mendahului orgasmeku, dan seditik kemudian, aku dan Lisa meregang nikmat.
Kami menjerit-jerit sensasional dan tidak khawatir orang lain mendengarnya. Tante Lisa histeris seperti orang kesetanan ketika telunjuk Inneke juga mempercepat kocokan di anusnya.

“Aaakkkhhhggh…” desah kami bersamaan mengakhiri nikmat yang tiada tara tadi dan juga baru kurasakan seumur hidupku.
Maniku meleleh di sela-sela pejalnya bnatang kejantananku yang masih manancap dalam di rahim Tante Lisa. Inneke tampaknya puas dengan hasil kerjanya, lalu ia memeluk Tante Lisa erat dan berbisik, “Enak khan Tannn..?”
Tante Lisa sendiri sudah lemas dan terkulai di atara aku dan Inneke, aku mengecup mesra Tante Lisa dan beralih kepada Inneke untuk memberikan stimulan birahi dalam dirinya yang juga mulai mendidih.

Kedua wanita itu memang hebat, yang tua histeris dan mampu menguasai diri dan yang muda histeris juga dan menuruti jiwa mudanya yang bergejolak. Tante Lisa tampaknya tidak dapat menahan rasa di tubuhnya, sehingga lunglai lemas tidak bertenaga. Inneke lantas membimbingnya melepas gigitan vaginanya dari penisku yang mulai mengendor ke arah ujung sofa untuk beristirahat. Kulihat wajah Tante Lisa amat puas bercampur dengan letih, akan tetapi semua beban birahinya yang tertahan selama dua minggu meledak lah sudah.

“Ooookkkhh… sssshh…” desis Tante Lisa saat penisku kutarik pelan dari gigitan vaginanya.
Aku melangkahi sofa dan duduk di sandarannya, lalu kubuka kedua pahaku. Tampaklah oleh Inneke sebuah meriam yang berlumur sperma masih setengah tegak.
“Oookkkhhh… gellliii… ssshhh… terusssss… Keee..!” pintaku pada Inneke saat ia mulai mengulum penisku dan hampir semuanya terkulum di mulutnya yang sedikit lebar namun seksi.
“Oaaakhhh…. aaakkkhh… sshhhssshshh…” desisku saat aku mulai merasakan lagi denyutan penisku di mulutnya.

Inneke masih menghisap habis seluruh sperma yang tersisa dan kocokkannya semakin cepat, hingga kedua kakiku bergetar menahan ngilu bercampur nikmat.
“Oookkkhhh… terusss… hisappphh Sayy..!” pintaku sambil mendorong kepala Inneke untuk melakukan lebih dalam lagi.
“Oooouakghh.. Plop…” tiba-tiba mulut Inneke melepas kulumannya dan langsung berdiri menjilat leher dan kedua telingaku bergantian.
“Aku ingin di whirpool Sayy..!” bisik Inneke.

Whirpool itu sendiri sudah dilengkapi semacam sofa untuk berbaring, sehingga jika berbaring di situ, maka mulai dada sampai kaki akan terendam air hangat bercampur semburan air di sisi-sisi kolamnya. Aku merebahkan Inneke disana dan memulai percumbuan kami, tubuh kami terasa hangat dan seperti di pijat-pijat, sehingga penisku yang sempat layu mulai menegang kembali. Inneke tampak menikmati sensasi ini dan aku tahu bahwa Inneke akan menginginkan melodi yang berbeda dengan Lisa.

“Masss… sshh… oookkkkhh… masukin Aku… oookkhhh… mmmppphh…” pinta Inneke sambil membuka pahanya lebar-lebar.
Sejenak aku memainkan kehangatan air, kuayun-ayun tanganku di dalam air ke arah vagina Inneke yang membuatnya segera menarik tubuhku untuk menaikinya. Kami memang sudah diselimuti nafsu sehingga rasanya pemanasan Inneke melihat orgasme dari Tante Lisa sudah lebih dari cukup. Tubuh kami hangat oleh air dan kehangatan dari pasangan kami serta semburan-semburan air dari sela-sela kolam membuat kami semakin terbuai jauh ke awang-awang.

“Blesss…” 10 cm dari penisku mulai menjejali vagina Ineke diiringi desahan, “Aaakkkkhhh… mmmppph…” guman Inneke yang membuat Tante Lisa tersadar dan menyusul kami di kolam.
Kuhentakkan pelan, sehingga seluruh penisku mendesak dinding-dinding vaginanya yang terasa lebih perat dan berdenyut. Lisa mengambil posisi memangku kepala Inneke di paha kanannya dan membelai lembut kening Inneke.
“Aaawww… oookkkhhh… gelli… Masssh…” teriak Inneke saat aku memainkan otot lelakiku di leher rahimnya.
“Masss… dikocok pelaannn… yacch..!” pintanya sambil membelai rambutku, membuatku jadi teringat saat-saat romantis dengan pacar-pacarku dulu.

Aku mengangguk dan kuikuti apa yang Inneke mau, lalu kukocok perlahan dengan cara sepuluh senti aku kocok lima atau enam kali dan kubenamkan dalam-dalam, lalu kuputar pada kocokan ke-7. Cara ini efektif untuk menstimulasi G-Spot seorang wanita. Kurang lebih lima menit kemudian, Inneke mengangkat kepalanya dan mendaratkan ciuman bertubi-tubi di mulut dan leherku bergantian. Tubuhnya sedikit menegang dan lebih hangat kurasa, lalu aku memberi isyarat Tante Lisa untuk menyingkir ke arah bagian belakang kami.
“Ooookhhh… Massshh.. aaakuuu… hammmppirr..!” bisik Inneke saat aku mulai menaikkan ritme kocokanku.
“Tahan Ke..!” pintaku, lalu aku memberi isyarat kepada Tante Lisa lagi.
“Akkkhhhgghhh… ssshhh… mmmpppphh…” desahku dan Inneke bersamaan saat telunjuk Tante Lisa mulai memasuki lubang pantatku dan anusnya Inneke.
Rasanya hangat mengelitik, apalagi jika di kocokkan di kedalaman anusku dan aku bisa membayangkan sensasi yang dialami Inneke. Pasti akan terasa pejal dan nikmat serta sensasional pada kedua lubangnya.

“Oookkkhhh… Taaan… aaaakk.. kuuu tak kuuu..atthh…” teriak Inneke mulai mengawali detik-detik orgasmenya.
Para netters yang budiman, sudah bisa diduga, kami pun terbuai dengan alunan sensai jari Tante Lisa dan hisapan vagina Inneke bersamaan. Demikian pula Inneke. Panasnya penisku dan gelitik telunjuk Tante Lisa membuatnya lupa daratan.
“Aaaggghhh… oookkkhhh… oookkkhhh… aaakkkhhhg… mmmm.. ssshshhh.. awww… ssshhh…” ceracauku dan Inneke tidak beraturan.

Dan kurang lebih sepuluh detik kemudian, aku dan Inneke meregang birahi yang dikenal dengan nama orgasmus secara bersamaan. Aku memancarkan spermaku. Terasa lebih banyak dari pada dengan Tante Lisa dan aku juga merasakan aliran mani Inneke dari rahimnya. Aku menghempaskan tubuhku ke samping Inneke dan Tante Lisa mengambil tempat di sisi lainnya. Hangat tubuh mereka dan kami becumbu seolah tiada hari esok. Kami lanjutkan tidur mesra diapit dua tubuh sintal nan hangat berselimutkan sutra lembut. Dan saat salah satu dari kami terjaga, kami mengulanginya lagi hingga spermaku betul-betul terasa kering.

Minggu siang, kami baru terbangun, lantas kami mandi bersama dan kemudian sarapan pagi. Kami meluncur ke Surabaya dan janji akan kencan lagi entah dengan Tante Lisa ataupun Inneke atau kadang mereka minta barengan lagi. Aku akhirnya terlibat kisah asmara yang penuh birahi, namun aku puas karena dapat melampiaskan nafsuku yang meletup-letup itu. Beberapa kali aku ditawari dan berkencan dengan teman Tante Lisa dan kadang ada yang aku tolak, karena prinsipku bukan jual cinta seperti gigolo, akan tetapi sebuah prinsip petualangan.

Ok..! Bagi para netters yang mau kirim komentar atau saran, aku akan membalasnya dengan senang hati.

TAMAT

The Hottest Liveshow

April 29, 2009 pukul 8:50 am | Ditulis dalam Cerita Dewasa, Pesta Seks | Tinggalkan komentar

Nama saya Erwin (23 tahun), WNI keturunan yang tinggal di Bandung dan kuliah ekonomi manajemen di Universitas Maranatha. Kuliahku agak tersendat karena keranjingan membantu orang tuaku menjalankan usaha percetakan keluarga kami, jadi SKS-nya kuambil sedikit-sedikit biar tidak semerawut. Dalam materi aku sama sekali tidak ada masalah, begitupun halnya dalam pergaulan, statusku membuat orang-orang mudah dekat denganku, terutama wanita, sudah beberapa kali aku gonta-ganti pacar dan hampir semua pernah ML denganku. Orang tuaku sudah mempercayai perusahaan ini sepenuhnya padaku sehingga mereka bisa menikmati hari tuanya dengan santai dengan bepergian ke luar negeri atau mengunjungi sanak saudara lainnya. Aku mempunyai seorang cici yang sudah menikah dan ikut suaminya, jadi sekarang aku tinggal sendirian di rumah yang megah ini mengurus bisnis sekaligus kuliah.

Kejadian gila ini terjadi pada bulan Agustus 2004 yang lalu. Waktu itu aku baru putus dengan pacarku, dalam kesepian itu kalau sudah tidak ada kerjaan aku menghibur diriku dengan nonton bokep, clubbing (tapi tidak sering karena besoknya harus bangun pagi-pagi, malu dong bos kesiangan), ataupun main internet berjam-jam. Suatu hari aku membaca cerita-cerita 17tahun.com, disitu aku menemukan hiburan yang menggairahkan, aku sangat terkesan dengan cerita-cerita karya penulis wanita seperti Lily Panther, Citra Andani, Dania, Deknas, dll dimana wanita-wanita itu terlibat dalam seks liar, ternyata wanita jaman sekarang tidak kalah berani dari pria. Lalu aku sampai pada cerita berjudul Kejutan Untuk Teman-temanku yang memberiku inspirasi mengadakan acara gila ini. Terbayang-bayang dalam pikiranku dimana cewek putih cantik, sexy, dan imut dikerjai oleh cowok-cowok kasar, tua, hitam, dan jelek yang statusnya lebih rendah darinya, sungguh suatu kekontrasan seks yang menggairahkan.

Aku kemudian mulai memikirkan rencana untuk mewujudkan fantasi liarku, rencanaku mencari cewek-cewek dari kalangan teman-temanku untuk diadu dengan buruh-buruh bawahanku. Yang pertama harus kulakukan adalah mencari ceweknya dulu, karena cukup sulit dan perlu lobi-lobi yang jitu, kalau untuk prianya itu sih nanti saja, kemungkinan menolaknya pasti kecil, cuma satu banding sepuluh. Besoknya aku kuliah siang dan membicarakan hal ini dengan seorang teman wanita yang pernah ML denganku, hasilnya nol, ditolak mentah-mentah. Aku jadi malu dan hampir mengurungkan niatku, tapi bintangku mulai bersinar di waktu malam ketika ngedugem, di sana aku bertemu Santi (22) dan Sandra (22) yang juga sefakultas denganku, mereka akrab denganku maka aku tanpa tendeng aling-aling mengutarakan maksudku pada mereka. Mulanya mereka merasa risih dengan ideku, tapi setelah susah payah kurayu-rayu, akhirnya Santi bangkit juga gairahnya membayangkan hal itu, sedangkan Sandra, meskipun masih ragu-ragu, akhirnya mengiyakan juga karena kudesak terus (duh…kaya salesman aja nih !). Setelah puas ngedugem, aku mengantar Santi pulang (Sandra naik mobil sendiri), sambil menyetir Santi sempat mengoralku sampai keluar dan dihisapnya habis.

Berikutnya aku mencari seorang lagi untuk lebih meriah, kutelepon beberapa teman yang pernah kencan denganku dan mereka-mereka yang bispak (bisa pakai). Dari tiga orang yang kuhubungi akhirnya ada juga yang setuju yaitu Ivana (23), mahasiswi Sastra Inggris yang pernah pacaran singkat denganku, kebetulan waktu itu dia baru putus dengan pacarnya. Phew…akhirnya jerih payahku dengan menebalkan muka tidak sia-sia. Kini tinggal mencari cowoknya, aku keliling pabrikku untuk menyeleksi kandidat yang pas, lima orang saja kurasa cukup, kalau terlalu banyak takutnya berabe, bisa ada kasak-kusuk ga enak. Sebentar saja aku sudah mendapatkan lima kandidat itu, pilihanku jatuh pada : Pak Andang, seorang buruh tua berumur lima puluhan yang telah bekerja sejak usaha kami masih kecil-kecilan, kurasa pantas dia menerima hadiah ini mengingat pengabdiannya, meskipun berusia senja dan sudah mulai beruban, tubuhnya masih tetap fit karena terbiasa kerja keras; Pak Usep, usianya sebaya dengan Pak Andang, sudah menduda, jadi kupikir inilah saatnya sekali-sekali memberi upah biologis padanya; Mang Nurdin, berusia empat puluhan, badannya kekar dan berisi, inilah yang menjadi pertimbanganku memilih dia; Mang Obar, tiga puluhan, tampangnya mirip tikus dengan kumis tipis, kurus tinggi seperti pohon kelapa; Endang, paling muda dari kelimanya, baru dua puluh tiga tahun, bekerja disini baru setahun lebih, tapi rajin dan kerjanya bagus, patut mendapat hadiah ini.

Seusai jam kerja aku memanggil mereka untuk bertemu secara pribadi di kantorku. Awalnya mereka bingung kok dipanggil mendadak seperti ada salah saja. Namun setelah aku menjelaskan maksudku selama beberapa menit, mereka hampir terlompat, antara kaget dan senang, seperti tidak percaya apa yang baru kutawarkan.
Hah, serius nih tuan ? Pak Andang dan Mang Obar bertanya hampir bersamaan
Iya, siapa yang main-main, pokoknya kalian tinggal datang dan nge-jos, apa-apanya saya yang atur, dan satu hal lagi jangan sampai ada yang tau lagi selain kita, atau tidak sama sekali jawabku meyakinkan.
Seperti yang kuduga, tak satupun dari mereka ragu atau menolak, tidak sesulit mengajak para ceweknya. Ya, sifat dasar pria lah, siapa sih yang bisa melewatkan kesempatan emas gini lalu begitu saja, apalagi kalau soal perempuan, bahkan Raja Daud yang bijak itu saja tidak bisa menghindar dari godaan seksual, ya kan !

Sebenarnya menurut rencana harusnya besok bisa mulai, tapi karena Santi meng-SMS bilang bahwa ada tugas kuliah yang harus diselesaikan, terpaksa acara ditunda besok lusa. Duh, aku jadi agak bete, tidak sabar menunggu hari esok, satu jam jadi terasa setahun karena sudah kebelet. Malamnya aku sampai masturbasi saking bergairahnya, tapi sisi positif dari tertundanya acara ini aku bisa mempersiapkan segalanya lebih baik. Ketiga pembantu wanitaku kubebastugaskan hari itu, yang kebetulan sehari sebelum hari kemerdekaan RI, kusuruh saja mereka berkunjung ke sanak saudaranya atau kemana kek, pokoknya tidak mengganggu acara gilaku. Kupompa kasur udaraku yang empuk (beli dari Dr. TV, hehe..promosi nih ceritanya ?) dan kuletakkan di ruang tamu sebagai arena pertarungan nanti.

Akhirnya sampai juga hari-H itu, sekitar pukul dua siang aku sudah membereskan segala dokumen yang harus kutangani, sisanya, pekerjaan kecil lainnya kuserahkan pada staffku. Saat itu sudah ada SMS masuk dari Ivana yang mengatakan bahwa dia sudah datang dan sedang menunggu di depan kediamanku.
Pagi-pagi amat dia datang, baru juga jam segini pikirku
Aku pun segera menuju ke rumahku yang terletak di samping pabrik, dibatasi dua buah gerbang kayu. Aku memasuki pekarangan rumahku, disana Ivana sedang jongkok mengelus-elus si Buster, kelinci peliharaanku.
Hoi, Na, cepat amat kesininya, kan gua bilang jam limaan sesudah bubar kerja sapaku
Tanggung, kalo pulang, nanti harus bolak-balik jauh lagi jawabnya
Naik apa kesini ?
Tadi nebeng si Stephanie kan dia di Lingkar Selatan sana
Hari itu Ivana terlihat cantik sekali, kaos ketatnya tanpa lengan dan celana panjang sedengkulnya semua serba putih, rambutnya yang panjang diikat ekor kuda. Walaupun pernah putus denganku akibat ketidakcocokan sifat, namun kami masih berteman baik, bahkan terkadang kita melakukan hubungan badan. Secara fisik, dia termasuk perfect, buah dadanya sedang saja, standar cewek Asia, tubuhnya langsing bak biola, dia juga jago dancing dan piano.

Kuajak dia masuk ke rumah, disana kami menonton DVD Troy sambil ngobrol dan makan snack menunggu waktu bubaran pabrik. Ketika film lagi seru-serunya, tiba-tiba intercom berbunyi, ada urusan di pabrik yang memintaku datang.
Gimana sih nih orang-orang, masih butuh gua juga ! omelku dalam hati
Lu nonton sendiri dulu, gua ada perlu dulu nih, sori yah
Huh, ternyata cuma ada dokumen yang perlu kutandatangan, cuma itu saja, itulah kenapa aku tidak mengatur acaranya jam segini, ya banyak gangguan seperti ini loh. Aku memeriksa sejenak kegiatan di pabrik, setelah yakin tidak ada apa-apa lagi aku pun kembali ke samping. Waktu keluar dari sana, kulihat Vios hitamnya Santi sudah ada di halaman pabrik. Aku menengok arlojiku, wah…sudah mau jam setengah lima, ga kerasa ya, cepat amat, berarti sebentar lagi pesta gila-gilaan ala Kaisar Caligula akan segera dimulai hehehe…aku jadi ngeres.

Lho, si Santi mana, tadi ada mobilnya di depan ? tanyaku pada Ivana karena tidak melihat Santi di rumah
Tuh, lagi ke WC, masih lama ga nih acaranya Win, gua udah deg-degan nih ? tanyanya
Bentar lagi kok, jam lima baru bubar, rileks aja Na, ga usah tegang gitu, ntar juga enjoy kataku
Yo, San darimana aja, you are so hot today ! sapaku begitu keluar dari kamar mandi
Waktu itu Santi memakai tank-top merah yang talinya diikat ke leher dan membiarkan setengah punggungnya terbuka. Bawahnya memakai rok yang mini dari bahan jeans ungu memamerkan pahanya yang putih mulus. Aku terpana beberapa detik menatap tubuh mulus Santi yang tinggi semampai (170cm), wajahnya cantik ala oriental namun ekspesinya agak dingin, sehingga sering terkesan jutek bagi yang belum kenal dekat dengannya, tapi kalau akrab dia enak diajak bicara, blak-blakan dan pendengar yang baik, setahuku dia ini orangnya pilih-pilih dalam memilih patner sex, tapi mau saja menerima tantanganku ini, entah dia yang kepingin atau diplomasiku yang hebat.
Dari rumahlah, eh tinggal si Sandra ya yang belum ada ? jawabnya
Iya belum tuh, ga ada berita lagi, tadi gua telepon HPnya ga dinyalain

Lu pake ginian bikin gua kepanasan nih San kataku sambil memandangi dirinya, dibalik celanaku, adikku juga mulai bangun
Tak dapat menahan diri lagi, langsung kupeluk tubuh Santi, tanganku menggerayangi pahanya sambil menyingkap roknya, lalu telapak tanganku bergerak ke belakang meremas pantatnya yang montok.
Nngghh…buru-buru amat sih, ntar aja ah ! katanya antara menolak dan menerima
Sori San…dikit aja, lu bikin gua nafsu sih sahutku seraya memagut lehernya
Rambutnya yang pendek model Utada Hikaru memudahkan aku menjilati lehernya yang jenjang hingga ke tenguknya. Dari sana bibirku menjelajah secara erotis ke dagu, pipi, hingga mencaplok bibirnya yang tipis. Dengan kedua tangan meremas pantatnya, aku menciuminya dengan panas, nafas kami yang memburu terasa pada wajah masing-masing. Perhatian Ivana pada layar TV jadi tersita ke arah mantan pacarnya yang berciuman dengan penuh gairah dengan temannya. Dia menatapi kami tanpa berkedip dan terlihat gelisah, tangannya secara sembunyi-sembunyi meremas payudara sendiri. Aku yakin cintanya padaku masih tersisa sedikit walaupun cuma lima persen, dan hal itu tentu menimbulkan sensasi cemburu yang membuatnya horny.

Santi pun mulai merespon dengan meremas selangkanganku yang sudah menonjol. Lagi enak-enak ber-French kiss, tiba-tiba bel musikku berbunyi, kami melepaskan diri. Hhmm…siapa ya, Sandra atau para bawahanku ? Pintu kubuka, ternyata para buruhku, lima-limanya pula, aku memberitahukan bahwa cewek-ceweknya sudah datang tapi dari tiga baru dua yang datang, kuminta agar mereka bisa berbagi jatah dengan adil.
Ini beneran kan tuan ? kita ga usah keluar uang kan ? si Endang seakan masih tak percaya, aku cuma mengangguk meyakinkannya
Udahlah ga usah banyak bacot, enjoy aja euy ! Pak Usep menepuk punggung pemuda itu
Kubawa mereka ke ruang tengah dan kupertemukan dengan para cewek. Ivana terlihat nervous, dia tetap duduk di sofa dan memberi senyum dipaksa ketika kuperkenalkan buruh-buruhku satu persatu. Sedangkan Santi, meskipun agak gugup, namun lebih luwes, dia berdiri menyambut kedatangan mereka bahkan menyalami mereka waktu keperkenalkan. Ketika Mang Obar dengan nakal mencolek pantatnya pun, dia membalasnya dengan senyum menggoda.

Setelah saling kenal dan basa-basi sejenak kupersilakan mereka memilih sesuai selera mereka, dengan ini pesta resmi kubuka. Pak Usep dan Endang sepertinya lebih memilih Ivana, merekapun menghampirinya dan duduk disofa mengapit kanan dan kirinya. Sedangkan sisanya yang memilih Santi mulai berdiri mengerubunginya. Aku sendiri duduk di sebuah sudut yang strategis untuk menyaksikan the hottest live show ini. Nah, pembaca, dari sini aku sempat bingung bagaimana menguraikan kedua adegan ini secara lengkap dan detail, karena tidak seru kan kalau aku hanya menguraikannya sekilas-sekilas. Akhirnya setelah kupikir-pikir aku memutuskan menceritakannya per adegan plus berdasarkan penuturan mereka, supaya lebih fokus dan pembaca pun turut menghayati kenikmatan yang kurasakan waktu itu, semoga metode berceritaku ini memuaskan pembaca sekalian, aku akan memulainya dengan adegan Santi. (beberapa dialog disini, terutama yang diucapkan para buruhku adalah dalam Bahasa Sunda, sebenarnya aku lebih sreg menuliskan seperti aslinya, namun mengingat pembaca 17tahun bukan cuma dari Jawa Barat, juga peraturan dari admin yang mengharuskan pemakaian Bahasa Indonesia yang baik dan benar, maka aku harus taat sama aturan mainnya)

Santi
Dikerubungi ketiga orang itu Santi nampak tegang, namun dia menutup-nutupi ketegangan itu dengan senyumannya dan juga menjawab pertanyaan-pertanyaan mereka, terkadang mereka mengajukannya pertanyaan nakal yang membuat wajahnya memerah tersipu-sipu. Pak Andang mulai berani mengelusi punggung Santi yang terbuka.
Eeemm…geli Pak ! desahnya menggoda.
Masa digituin aja geli sih Neng, gimana kalo diginiin ? Mang Obar meremas payudaranya
Tangan-tangan kasar itu mulai menggerayanginya. Mang Nurdin juga mulai merayapi lekuk tubuh Santi sambil menyingkap rok mininya, paha mulus itu dia raba-raba, tangannya makin merayap ke atas hingga menyentuh selangkangan Santi yang masih tertutup celana dalam biru langit.

Bapak buka bajunya ya Neng
Tanpa menunggu jawaban Santi, Pak Andang membuka tali leher yang menyangga pakaiannya. Santi tidak memakai bra karena tank top itu mempunyai cup dada didalamnya sehingga begitu melorot payudara montok dengan puting kemerahan itu langsung terekspos. Pak Andang dan Mang Obar mencaplok masing-masing kiri dan kanannya. Mang Nurdin kini berjongkok sedang mengagumi keindahan paha Santi yang jenjang dan mulus itu, tangannya tak henti-hentinya mengelusi paha itu.
Neng, pahanya mulus amat…putih lagi puji Mang Nurdin sambil menjilatnya.
Yang tak kalah menarik tentu bagian pangkalnya dan kini tangan Mang Nurdin telah sampai kesitu membelai kemaluannya dari luar, jari-jarinya lalu menyusup lewat tepi celana dalamnya. Mang Obar mengenyot payudara kanannya. Santi menengadah dengan mata terpejam, mulutnya mengap-mengap mengeluarkan desahan. Dia telah mabuk birahi, tubuhnya menggelinjang saat Mang Nurdin menggosok vaginanya dengan jari-jarinya sampai terlihat bercak cairan vaginanya di tengah celana dalamnya.

Pak Andang, disana aja atuh, cape dong berdiri melulu ? kataku menunjuk kasur pompa yang terletak tak jauh dari situ.
Mereka pun menggiring dan merebahkan tubuh Santi di kasur empuk itu, lalu pakaiannya dilucuti satu persatu hingga tak tersisa apapun lagi di tubuhnya. Tampaklah tubuh mulus Santi yang berpayudara kencang, berperut rata, dan kemaluannya yang masih rapat ditumbuhi bulu-bulu yang tidak terlalu lebat dan tercukur rapi. Setelah menelanjanginya, mereka juga membuka baju masing-masing. Tiga batang kemaluan mengarah padanya bak meriam yang siap menembak, Santi sampai terpana menatap ketiga senjata yang akan segera membantainya itu. Ketiganya kembali mengerubungi Santi yang terlihat nervous dengan menutupi kemaluan dan payudaranya dengan tangan.
Hehehe…si neng malu-malu gini bikin saya tambah nafsu aja ah ! kata Mang Nurdin mengangkat tangan kiri Santi yang menutup payudaranya.
Wah ternyata bodynya amoy bagus banget ya! kata Mang Obar yang tangannya mulai menjelajahi tubuh mulus itu.

Pak Andang menciumi payudara kanannya sambil tangannya meraba-raba kemaluannya. Dijilatinya seluruh gunung itu sampai basah lalu dengan ujung lidahnya dia main-mainkan putingnya. Jantungku berdebar-debar dan mataku melotot menyaksikan adegan itu, ditambah lagi adegan pada sofa di hadapanku dimana tubuh telanjang Ivana sedang dijilati dan digerayangi. Aku membuka celana pendekku dan mengeluarkan penisku lewat pinggir celana dalam lalu mulai memijatnya, ini jauh lebih spektakuler dari film bokep dengan artis tercantik sekalipun. Mang Nurdin mencium dan menjilat leher jenjang Santi sambil mengusap-usap payudara satunya, lalu ciumannya bergerak ke atas menggelikitik kupingnya menyebabkan Santi menggeliat dan mendesah nikmat. Dari telinga mulut Mang Nurdin memagut bibir Santi, mulut lebar dengan bibir tebal itu seolah mau menelan bibir Santi yang mungil lagi tipis. Sekonyong-konyong terdengar kecipak ludah dari lidah mereka yang beradu. Santi nampak sudah tidak merasa risih lagi, yang dirasakannya sekarang adalah birahi yang menggebu-gebu akan pengalaman barunya ini, terlihat dari matanya yang terpejam menghayati permainan ini. Sikapnya yang semula pasif mulai berubah dengan meraih penis Mang Nurdin dalam genggamannya.

Mang Obar sedang berlutut diantara kedua paha Santi, tapi dia belum juga mencoblosnya. Agaknya dia masih belum puas bermain-main dengan tubuh mulus itu. Sekarang dia sedang membelai-belai tubuh bagian bawahnya, terutama pantat dan kemaluannya. Dia mengangkat paha kiri itu, lalu menciumi mulai dekat pangkalnya, terus turun ke betis, pergelangan, dan akhirnya dia emut jari kaki yang lentik itu. Lagi enak-enak nonton live-show sambil ngocok, tiba-tiba ada SMS masuk, kuraih HP-ku, oh…si Sandra, hampir lupa aku sama anak ini saking asyiknya, pesannya berbunyi demikian :
Win, pstanya jd g? psti lg asyk y? sori nih tlat, td diajak tmn jln2 sih, kl stgh7 gw ksana msh bsa g?
Brengsek bikin orang nunggu aja, mana datangnya telat banget lagi, tapi aha…terbesit sebuah cara untuk menghukumnya, hihihi…aku nyeringai sambil mereply SMS-nya
Gile tlat amt sih, y dah u dtg aja, mngkin msh kburu, kl g kta skalian mkn mlm aja, ok

Wow, kini Santi sedang menjilati secara bergantian penis Pak Andang dan Mang Nurdin yang berlutut di sebelah kiri dan kanan kepalanya. Sementara itu Mang Obar menjilat serta menusuk-nusukkan lidahnya ke dalam vagina Santi, rangsangan itu membuatnya sering mengapitkan kedua paha mulusnya ke kepala Mang Obar. Kini Santi membuka mulut dan mendekatkan kepalanya pada penis Pak Andang, setelah masuk ke mulutnya, dia mulai mengulum benda itu dengan nikmatnya sambil tangan kanannya mengocok pelan penis Mang Nurdin. Tak lama kemudian Mang Obar menghentikan jilatannya dan merentangkan paha Santi lebih lebar, dia bersiap memasukkan penisnya. Santi juga menghentikan sejenak oral seksnya, menatap penis yang makin mendekati bibir vaginanya dengan deg-degan.
Pelan-pelan yah Mang, saya takut sakit abis kontol Mang gede gitu ! ucap Santi memperingatkan
Tenang aja Neng, Mamang ga bakal kasar kok ! hiburnya sambil mengarahkan senjatanya ke liang senggamanya.

Nampaknya Mang Obar kesulitan memasukkan penisnya ke dalam vagina Santi karena ukurannya itu, maka dia lakukan itu dengan gerakan tarik-dorong.
Aakkhh…nggghhh…sakit ! rintih Santi menahan rasa nyeri, padahal penis itu belum juga masuk seluruhnya
Masa pelan gitu sakit sih Neng ? kata Pak Andang yang memegangi tangannya sambil membelai payudaranya
Mungkin si Neng aja yang memeknya kekecilan kali ! sahut Mang Nurdin cengengesan.
Aaaaahhh… jeritnya saat Mang Obar menghentakkan pinggulnya ke depan hingga penisnya terbenam seluruhnya ke dalam liang itu.
Selanjutnya, tanpa ampun dia menggenjotnya dengan buas tanpa menghiraukan perbandingan ukurannya dengan vagina Santi. Sementara di kiri dan kanannya kedua orang itu tak pernah berhenti menggerayangi tubuhnya. Mang Nurdin dengan mulutnya yang lebar menelan seluruh susu kanannya yang disedot dan dikulum dengan rakus. Pak Andang menelusuri tubuh itu dengan lidahnya, bagian-bagian sensitif tubuh Santi tidak luput dari jilatannya. Santi mendesah-desah tak karuan sambil menggeleng-gelengkan kepalanya, tubuhnya menggelinjang hebat.

Sebentar saja Santi sudah mencapai klimaks, badannya menegang dan menekuk ke atas, desahannya makin hebat. Namun Mang Obar masih belum keluar, dia menaikkan kedua betis Santi ke bahunya dan memacu tubuhnya makin cepat sampai menimbulkan bunyi kecipak. Akhirnya dia menggeram dan menyemprotkan spermanya di dalam vagina Santi, cairan itu nampak menetes dari daerah itu bercampur dengan cairan kewanitaannya. Santi hanya sempat beristirahat kurang dari lima menit sebelum giliran Pak Andang mencicipi vaginanya. Mula-mula dia meminta Santi membasahi penisnya dulu, setelah dikulum sebentar, dia menindih Santi sambil memasukkan penisnya, pinggulnya mulai bergerak naik-turun diatas tubuhnya, Santi yang gairahnya mulai pulih juga ikut menyeimbangkan irama goyangannya. Pak Andang melumat bibir mungil Santi yang mengap-mengap itu meredam desahannya. Waktu itu aku sudah keluar sekali, kuambil tissue mengelap tanganku yang basah. Mang Obar mengambil aqua gelas yang kusiapkan dan meminumnya, dia duduk di sofa sebelahku.
Gimana Mang, sip ga ?
Enak banget Bos, Mamang ga pernah mimpi bisa dapet kesempatan ini, sering-sering bikin yang kaya gini ya! komentarnya dengan antusias
Tenang Mang, jangan boros tenaga dulu, ntar masih ada satu lagi loh ! nasehatku, kemudian aku menjelaskan apa yang harus dilakukan pada Sandra kalau dia datang nanti.

Pak Andang tiba-tiba menggulingkan tubuhnya sehingga Santi kini diatasnya. Dia lalu menegakkan badan sambil terus menaik-turunkan pinggulnya diatas penis yang mengacung bagai pasak itu. Terkadang dia memutar-mutar pinggulnya sehingga penis itu mengaduk-aduk vaginanya. Matanya merem-melek dan mulutnya mengeluarkan desahan nikmat. Keringat telah membasahi tubuhnya, menempel di dadanya seperti embun, juga menetes-netes dari mukanya. Mang Nurdin berdiri di sebelahnya lalu mendekatkan penisnya yang masih keras ke mulutnya. Santi mulai menjilatinya dimulai dari kepalanya yang disunat hingga seluruh permukaan batang itu, buah zakarnya yang besar dia emut beberapa saat.
Uuuhh…ayo Neng, enak gitu…mmm ! desah Mang Nurdin
Semakin hanyut dalam lautan birahi, Santi tidak malu-malu lagi mengemut penis itu sambil mengocoknya dengan satu tangan. Payudaranya bergoyang-goyang naik-turun seirama gerak tubuhnya, dengan gemas Pak Andang menjulurkan kedua tangannya mencaplok gunung kembar itu serta meremasnya.

Saat itu Endang baru saja selesai dengan Ivana, setelah menyemprot perut Ivana dengan spermanya dia minum dulu dan langsung menuju Santi, sementara itu Mang Obar mulai mencicipi Ivana. Endang duduk di sebelah kanannya dan meminta ijin Pak Andang yang sedang menguasai kedua payudaranya untuk memberinya jatah satu saja. Sepertinya dia menggigit putingnya karena badan Santi mengejang dan mendesah tertahan di tengah aktivitasnya mengoral Mang Nurdin, dia mengenyot dan kadang menarik-narik puting itu dengan mulutnya.
Ooohh…isep Neng…iseepp !! tiba-tiba Mang Nurdin mendesah panjang dan makin menekan kepala Santi ke selangkangannya
Spermanya menyembur di dalam mulut Santi, mungkin karena badannya berguncang-guncang hisapan Santi tidak sempurna, cairan itu meleleh sebagian di pinggir mulutnya. Mang Nurdin beranjak pergi meninggalkan Santi setelah di cleaning service, diambilnya segelas aqua dari meja untuk diminum.

Tiba-tiba goyangan Santi makin gencar lalu berhenti dengan tubuh mengejang, kepalanya menengadah sambil mendesah panjang, kedua tangannya memegang erat lengan Pak Andang. Dia telah mencapai klimaks, tapi Pak Andang belum, dia terus menghentakkan pinggulnya ke atas menusuk Santi. Tubuh Santi melemas kembali dan ambruk ke depan menindihnya. Saat itu Endang sudah pindah ke belakangnya, dia meremas pantat yang sekal itu sambil mengorek duburnya. Kemudian dia menindihnya dari belakang, tangannya menuntun penisnya memasuki liang dubur itu diiringi rintihan pemiliknya. Tubuh Santi kini dihimpit kedua buruh itu seperti sandwich, kedua penis itu menghujam-hujam kedua lubangnya dengan ganas.
Ooohh….oooh…aakkhh ! gairah Santi mulai bangkit lagi, vaginanya berdenyut-denyut memijat penis Pak Andang yang sudah di ambang klimaks
Pak Andang lalu melenguh panjang menyemburkan maninya di dalam vagina Santi akhirnya dia terbaring lemas di kolong tubuh Santi dengan nafas terengah-engah.

Setelah ditinggalkan Pak Andang, Santi cuma melayani Endang saja, namun pemuda ini lumayan brutal mengerjainya sehingga dia menjerit-jerit. Duburnya disodok-sodok sementara payudaranya yang menggantung di remas dengan kasar. Hal ini berlangsung sekitar sepuluh menit lamanya sampai keduanya klimaks, sperma Endang tertumpah di pantatnya sebelum keduanya ambruk tumpang tindih. Keadaan Santi sudah babak-belur, tubuhnya bersimbah peluh, bekas-bekas cupangan masih terlihat pada kulitnya yang mulus, sperma bercampur cairan kewanitaan meleleh dari selangkangannya. Aku jadi kasihan melihatnya, maka aku menghampirinya dengan membawa air dan tissue. Kuangkat tubuhnya dan kusandarkan pada lenganku, dengan tissue kuseka keringat di dahinya, minuman yang kuberikan langsung diteguknya habis.
Udah ya San, kalau dah ga kuat jangan dipaksain lagi, ntar pingsan lu ! saranku
Namun dia cuma tersenyum sambil menggeleng, ga apa-apa katanya cuma perlu istirahat sedikit, dia juga bilang rasanya seperti diperkosa massal saja barusan itu. Waktu itu Pak Usep menghampiri kami bermaksud menikmati Santi, tapi kusuruh dia bersabar karena kondisinya belum fit.

Karena tubuh Santi yang sudah lengket-lengket itu, aku menyuruhnya mandi agar lebih segar. Setelah agak pulih, kubantu dia berdiri dan memapahnya ke kamar mandi, kunyalakan shower air hangat untuknya. Sebelum keluar kami berpelukan, kucium dia sambil mengorek vaginanya dengan dua jari, cairan sperma meluber keluar begitu kukeluarkan tanganku, sehingga aku harus cuci tangan.
Dah mandi dulu yang bersih, supaya nanti siap action ! kataku
Dia cekikikan sambil menyeprotkan shower ke arah kakiku, aku melompat kecil dan keluar sambil tertawa-tawa. Begitu aku keluar, waw…gile, Ivana mantan pacarku itu sedang dikerjai kelima orang itu, dia sudah tidak di sofa lagi, melainkan sudah di lantai beralas karpet, the hottest gangbang ive ever seen ! Untuk lebih lengkapnya lebih baik kita ikuti kisah Ivana dari awal

Ivana
Endang dan Pak Usep duduk mengapit Ivana masing-masing di kanan dan kirinya. Ivana terlihat tegang sekali beberapa kali dia memanggil-manggil namaku.
Kenapa Na, kok sekarang tegang gitu katanya mau ngebalas pacarlu itu ! kataku
Oh, jadi Neng udah punya pacar yah ! kata Pak Usep
Ngga, baru putus kok jawabnya malu-malu
Putusnya kenapa Neng ? tanya Endang
Ivana cuma menggeleng tanpa menjawabnya.
Udah ah lu, kalau ga mau dijawab jangan maksa ! kata Pak Usep pada rekannya
Eh, Neng sama pacar yang dulu pernah ngentotan ga ? tanya Endang cengengesan
Rona merah jelas sekali pada wajah Ivana yang putih mulus, dia hanya mengangguk pelan sebagai jawabnya sambil tersenyum malu-malu.

Kalo gitu pernah diginiin dong Neng hehehe ! Pak Usep tertawa-tawa meremas buah dada Ivana
Diginiin juga pernah ! Endang meraih selangkangannya dan meremasnya dari luar
Ivana menjerit kecil sambil tertawa geli karena kejahilan tangan mereka. Pak Usep makin gemas memijati payudaranya, si Endang sengaja meniupkan udara ke kupingnya untuk memambangkitkan birahinya perlahan-lahan sambil tangannya membantu Pak Usep meremas payudara yang satunya. Ivana hanya diam menikmatinya dengan mata terpejam. Keduanya mulai menyingkap kaosnya, Ivana sepertinya menurut saja, dia mengangkat lengannya membiarkan kaos itu dilolosi. Dia tinggal memakai bra warna krem dan celana panjang selututnya.
Ini dibuka aja ya Neng pinta Endang
Ivana mengangguk, maka Endang pun dengan cekatan membuka bra-nya sehingga dia telanjang dada. Endang langsung melumat yang kanan dengan rakus.
Pentilnya bagus ya Neng, kecil, merah lagi komentar Pak Usep sambil memilin-milin putingnya

Pak Usep menjulurkan lidahnya, lalu menyapukannya telak pada leher jenjang Ivana membuatnya merinding dan mendesis. Dia meneruskan rangsangannya dengan mengecup lehernya membuat tanda kemerahan disitu, rambut Ivana yang terikat ke belakang memudahkannya menyerang daerah itu. Tangannya pun tak tinggal diam, terus bergerilya di dada kirinya dan pelosok tubuh lainnya. Mendadak Pak Usep menghentikan kegiatannya dan memanggil Endang yang lagi asyik nyusu dengan mencolek kepalanya.
Eh, Dang, kita taruhan yu, yang menang boleh ngentot si Neng duluan ! tantangnya
Taruhan apaan Pak, saya mah ayu aja
Coba tebak, si Neng ini jembutan ga ? tanyanya dengan nyengir lebar
Muka Ivana jadi tambah memerah karena kenakalan mereka ini, aku juga jadi terangsang dibuatnya. Suatu sensasi tersendiri menonton mantan pacarku ini dikerjai orang lain.
Hmmm…ada ga Neng ? tanya Endang sambil menatapi selangkangan Ivana
Eee…nanya lagi, orang disuruh tebak ! omel Pak Usep menyentil kepalanya
Ivana senyum mesem dan menjawab tidak tahu menjawab si Endang.

Ada aja deh ! tebak si Endang
Yuk kita tes, bener ga ! kata Pak Usep dengan menyusupkan tangannya ke balik celana Ivana
Eemmhhh… desis Ivana saat merasakan tangan Pak Usep merabai kemaluannya
Weleh…sialan, bener juga lu Dang ! gerutunya karena ternyata kemaluan Ivana memangnya berbulu, lebat lagi.
Endang tersenyum penuh kemenangan karena dapat giliran pertama merasakan tubuh Ivana. Merekapun kembali menggerayangi tubuhnya. Tangan Pak Usep tetap didalam celananya mengobok-obok kemaluannya sejak mengetes tadi. Endang mulai membuka sabuk yang dikenakan Ivana dan menurunkan resletingnya, sebelumnya dia menyuruh Pak Usep menyingkirkan tangannya dulu. Cairan vagina membasahi jari-jarinya begitu dia mengeluarkan tangannya dari sana. Endang turun dari sofa dan jongkok di lantai beralas permadani itu untuk menarik lepas celana Ivana. Tampak kemaluan Ivana dengan bulu-bulu yang tebal dari balik celana dalamnya yang semi transparan. Sesaat kemudian pakaian terakhir dari tubuhnya itu dilepaskannya pula. Jadilah Ivana telanjang bulat terduduk separuh berbaring di sofa.

Keduanya tertegun melihat tubuh putih mulus dan terawat di hadapan mereka. Si Endang masih berjongkok di antara kedua paha Ivana, tentu dia bisa melihat jelas selangkangan berambut lebat yang tampak menggunung dalam posisi demikian.
Duh, cantik banget sih Neng ini, bikin saya ga tahan aja ! kata Pak Usep sambil mendekap tubuhnya
Bibirnya mencium pipi Ivana, lalu lidahnya keluar menjilati pipi dan hidungnya, menikmati betapa licin dan mulusnya wajah mantan pacarku itu, belakangan bibirnya dilumat dengan ganas. Sementara kedua tangannya tidak tinggal diam, selalu berpindah-pindah mengelusi punggungnya atau meremas payudaranya. Wajah Endang makin mendekati vagina Ivana sambil kedua tangannya mengelusi paha mulus itu. Tubuh Ivana bergetar ketika jemari Endang mulai menyentuh bibir kemaluannya, pasti dia bisa merasakan nafas Endang menghembus bagian itu. Perlahan-lahan Endang membuka kedua bibir bawah itu dengan jarinya. Erangan tertahan terdengar dari mulut Ivana yang sedang dilumat Pak Usep, keringatnya mulai bercucuran.
Wah…asyik, saya baru pernah liat memeknya amoy, dalemnya merah muda, seger euy ! komentar Endang mengamati vagina itu.

Pak Usep, mau liat ga nih, bagus banget loh ! sahut Endang padanya
Hmmm…iya bagus ya, kamu aja dulu Dang, saya mau netek dulu ! kata Pak Usep sambil mencucukkan sejenak jari tengah dan telunjuk ke vaginanya, waktu dia keluarkan cairan lendirnya menempel dijari itu.
Pak Usep mulai menjilati payudaranya mulai dari pangkal bawah lalu naik menuju putingnya, dia jilat puting itu lalu dihisapnya kuat-kuat, sementara tangannya memilin-milin putingnya yang lain.
Hhhnngghh…Mang, oohh ! Ivana mendesah menggigit bibir sambil memeluk erat kepala Pak Usep
Ivana makin menggelinjang saat wajah Endang makin mendekati selangkangannya dan
Aaaahh…! desahnya lebih panjang, tubuhnya menggelinjang hebat, kedua pahanya mengapit kepala Endang
Pemuda itu telah menyapu bibir vaginanya, lalu lidah itu terus menyeruak masuk menjilati segenap penjuru bagian dalam vaginanya, klitorisnya tak luput dari lidah itu, sehingga tak heran kalau desahannya makin tak karuan saling bersahut-sahutan dengan desahan Santi yang saat itu baru ditusuk Mang Obar.

Oi, kalian berdua kok belum buka baju sih, kasih liat dong kontolnya ke Neng Ivana pasti dah ga sabar dia ! kataku pada Endang dan Pak Usep.
Pak Usep nyengir lalu dia membuka kaos berkerah dan celananya hingga bugil, dia menggenggam penisnya yang tebal dan hitam itu memamerkannya pada Ivana
Nih, Neng kontol Mamang gede ya, sama pacar Neng punya gede mana ? tanyanya sambil menaruh tangan Ivana pada benda itu
Gede yah Mang…keras jawab Ivana yang tangannya sudah mulai mengocoknya
Ivana yang tadinya malu-malu hilang rasa malunya saking terangsangnya, sepertinya dia sudah tidak peduli keadaan sekitar, yang dipikirkannya hanya menyelesaikan gairah yang sudah membakar demikian hebat itu. Hampir sepuluh menit berlalu, tapi Endang masih seperti kelaparan, belum berhenti menjilati vaginanya sementara Ivana sudah mengapir dan menggesek-gesekkan pahanya pada kepala Endang menahan birahinya yang meninggi.

Cepetan dong, kan kamu harusnya nusuk duluan, kalo ngga mau saya tusuk juga nih ! kata Pak Usep yang tidak sabar ingin segera menyetubuhi Ivana.
Iya sabar atuh Pak, ini udah mau nih kata Endang yang mulai menanggalkan pakaiannya
Yuk Neng, basahin dulu nih…isep ! dia sodorkan penisnya ke mulut Ivana sambil memegangi kuncirnya.
Ivana agak ragu memasukkan penis Endang, mungkin agak jijik kali belum pernah merasakan yang sehitam itu. Namun Endang terus mendesaknya, apalagi dengan kepala dipegangi seperti itu, akhirnya dengan terpaksa Ivana membuka mulutnya membiarkan penis itu masuk. Sebentar kemudian Endang mengeluarkan penisnya, diangkatnya kaki Ivana ke sofa sehingga dia kini terbaring di sofa dengan kepala bersandar pada perut tambun Pak Usep. Endang memegang miliknya dan mengarahkannya ke vagina Ivana. Pelan-pelan mulai memasukinya, tubuh Ivana menekuk ke atas.

Aaakkhh…! demikian keluar dari mulutnya hingga penis Endang mentok ke dalam vaginanya.
Endang pun mulai menggoyangkan pinggulnya perlahan kemudian makin lama makin cepat. Endang melakukannya dalam posisi satu kaki naik sofa dan kaki lainnya berdiri menginjak lantai, kedia tangannya memegangi betis Ivana.
Ah-ah-ah….uuhh…!! desah Ivana dengan mata terpejam
Enak ya Neng ? kata Pak Usep dekat telinganya
Sejak Endang menggenjot Ivana, Pak Usep terus saja menyangga tubuhnya sambil menghujani leher, telinga, dan payudaranya dengan ciuman dan jilatan. Kini dia sedang mengulum daun telinga Ivana dan tangannya meremas kedua payudaranya. Tentu puting Ivana sudah sangat keras karena daritadi dimain-mainkan. Ivana sendiri tangannya menggenggam penis Pak Usep, dia mengocok-ngocok penis itu karena hornynya. Kedua kakinya menjepit pinggang Endang, seolah minta disodok lebih dalam lagi.

Tanpa mencabut penisnya, Endang memiringkan tubuh Ivana sehingga posisinya berbaring menyamping, satu kakinya dinaikkan ke bahunya. Wow…seru sekali melihat paha Endang bergesekan dengan paha mulus Ivana dan penisnya keluar masuk dari samping. Pak Usep menempelkan penisnya ke wajah dan bibir Ivana, memintanya melakukan oral seks. Ivana masih sangat risih memasukkan benda itu dalam mulutnya, hanya berani mengocoknya dengan tangan, sepertinya dia masih merasa tidak nyaman dengan penis Endang di mulutnya tadi, belakangan dia bilang ke aku bahwa dia memang tidak terbiasa dengan penis hitam dan berbau tidak enak seperti itu, dan dia juga tidak suka dengan cara mereka yang suka maksa tidak tau diri, makannya dia tidak pernah mau ngeseks dengan orang-orang kaya gitu, cukup kali ini saja, pertama dan terakhir demikian tegasnya.
Jilatin dong Neng, jangan cuma main tangan aja ! pinta Pak Usep tidak sabar merasakan mulutnya
Ngga Mang…jijik…ga mau..ahh ! gelengnya dengan sedikit mendesah.
Lho, gimana sih si Neng ini, tadi kan dia dikasih, masa saya ngga ?

Ayo dong Neng, sebentar aja kok ! Pak Usep terus mendesak dengan menekan kepalanya dengan tangan kanannya ke penis yang dipegang dengan tangan kirinya. Penis itu pun akhirnya memasuki mulut Ivana, karena mulutnya mengap-mengap mendesah, kesempatan itulah yang dipakai Pak Usep menjejalkan penisnya. Sesudah penisnya dimulut, Pak Usep memaju-mundurkan kepalanya dengan menjambak kuncirnya.
Emmhh..eehmm…Mang…saya…mmm ! Ivana berusaha protes tapi malah tersendat-sendat karena terus dijejali penis.
Mmmm…gitu dong Neng baru namanya anak manis, udah lama Mamang ga diginiin uuh ! Pak Usep melenguh dan merem-melek keenakan dioral Ivana.
Kalau saja ada orang berani berbuat seperti itu padanya setengah tahun lalu, pasti sudah kuhajar sampai masuk ICU, tapi sekarang berbeda, aku malah terangsang melihat bekas pacarku ini diperlakukan demikian sehingga aku makin cepat mengocok penisku, apalagi waktu itu Santi juga sedang main kuda-kudaan diatas penis Pak Andang sambil mengoral penis Mang Nurdin dengan bernafsu.

Akhirnya Ivana orgasme duluan, badannya berkelejotan dan mulutnya terdengar erangan tertahan. Pak Usep rupanya cukup pengertian, dia melepaskan dulu penisnya membiarkan Ivana menikmati orgasmenya secara utuh. Badannya menegang beberapa saat lamanya, Pak Usep menambah rangsangannya dengan meremasi payudaranya. Endang pun menyusul sekitar tiga menit kemudian, sodokannya makin dahsyat sampai akhirnya dia melepaskan penisnya dan menumpahkan cairan putih di perut yang rata itu. Sambil orgasme dia memegang erat-erat lengan kokoh Pak Usep yang mendekapnya hingga tubuhnya lemas dan terbaring dalam dekapan pria tambun itu. Si Endang cuma duduk sebentar, minum dan menyeka keringat, lalu dia langsung beralih ke Santi seperti yang telah kuceritakan di atas, posisinya segera digantikan Mang Obar yang baru recovery setelah istirahat. Pak Usep memberikan minum pada Ivana mengambilkan tissue mengelap keringatnya.
Euleuh…si Endang teh gimana, buang peju sembarangan aja ! gerutu Mang Obar yang baru tiba melihat ceceran sperma di perut Ivana.
Pak Usep sambil tertawa meneteskan sedikit air dan mengelap ceceran sperma itu sampai bersih, Ivana juga ikut tertawa kecil.
Udah, gampang Mang, dibersihin aja kan beres ! hiburku padanya

Mang Obar langsung mencumbui payudara Ivana yang masih didekap Pak Usep, mulutnya berpindah-pindah antara payudara kiri dan kanan.
Ooohh…oohhh !! desahnya ketika merasakan putingnya digigit dan ditarik-tarik dengan mulut oleh Mang Obar.
Tangan satunya di bawah sedang meremasi bongkah pantatnya yang kenyal, diremasnya berulang kali sekaligus mengelusi paha mulusnya. Dari pantat tangannya merayap ke kemaluan, tubuh Ivana bergetar merasakan kenakalan jari Mang Obar yang mengusap-usap klitoris dan bibir kemaluannya. Di belakangnya, Pak Usep sangat getol mencupangi leher, tenguk dan bahunya.
Hehehe…liat nih udah basah gini ! sahut Mang Obar mengeluarkan jarinya dari vagina Ivana Emm…enak pisan ! dijilatinya cairan yang blepotan di jari itu
Kemudian Pak Usep menarik pinggang Ivana, mendudukkannya di pangkuannya dengan membelakanginya, satu tangannya meraih vaginanya dan membuka bibirnya

Masukin Neng, pelan-pelan ! suruhnya
Ivana tanpa malu-malu memegang penis itu dan mengarahkan ke vaginanya, lalu dia menekan badannya ke bawah sehingga penis itu terbenam dalam vaginanya. Namun kerena besar penis itu baru masuk kepalanya saja, itu sudah membuat Ivana merintih-rintih dan meringis menahan nyeri.
Duh…sakit nih Mang, udah ya ! rintihnya
Wah, kagok dong Neng kalo gini mah, ayo dong dikit-dikit pasti bisa kok ! kata Pak Usep
Nanti juga enak kok Neng, sakitnya bentar aja ! timpal Mang Obar
Beberapa kali Pak Usep menekan tubuh Ivana juga menghentakkan pinggulnya, akhirnya masuk juga penis itu ke vaginanya, mata Ivana sampai berair menahan sakit. Pak Usep mulai menggoyangkan tubuhnya
Arrgghh…uuhhh…sempit amat…enak ! gumam Pak Usep di tengah kenikmatan penisnya dipijat vagina Ivana
Sementara Mang Obar meraih kepala Ivana, wajahnya mendekat dan hup…mulut mereka bertemu, lidahnya menerobos masuk mempermainkan lidah Ivana, dia hanya pasrah saja menerimanya, dengan mata terpejam dia coba menikmatinya lidahnya, entah secara sadar atau tidak turut beradu dengan lidah lawannya.

Limabelas menit lamanya batang Pak Usep yang perkasa menembus vagina Ivana, runtuhlah pertahanan Ivana, sekali lagi badannya mengejang dan mengeluarkan cairan kewanitaan membasahi penis Pak Usep dan sofa di bawahnya (untung sofanya bahan kulit jadi gampang dibersihkan). Ivana memeluk erat-erat kepala Mang Obar yang sedang mengenyot payudaranya. Sekonyong-konyong terlihat cairan putih meleleh dari selangkangan Ivana, rupanya Pak Usep juga telah orgasme. Desahan mereka mulai reda, keduanya melemas kembali. Nampak olehku ketika Pak Usep melepas penisnya, dari vagina Ivana menetes cairan sperma yang telah bercampur cairan cintanya. Waktu beristirahat baginya cuma sebentar karena Mang Obar langsung menyambar tubuhnya, menindihnya, dan mengarahkan senjatanya ke liang kenikmatan. Segera saja tubuhnya memacu naik-turun diatasnya. Ivana menggelinjang setiap kali dia menghentakkan tubuhnya. Saat itu Mang Nurdin dan Pak Andang mendekati keduanya untuk menonton lebih dekat adegan panas itu. Mereka menyoraki temannya yang sedang berpacu diatas tubuh mantan pacarku itu seperti menonton pertandingan olahraga saja.

Setelah itu aku kehilangan sedikit adegan karena sedang mengantar Santi ke kamar mandi, maka adegan yang hilang ini kuceritakan berdasarkan penuturan Mang Nurdin yang kuanggap paling akurat. Dari sofa, Mang Obar menurunkan Ivana ke karpet, dia berlutut di antara paha Ivana dan terus menyodoknya. Mang Nurdin membungkuk agar bisa mengemut payudara yang menggiurkan itu. Pak Andang berlutut di samping kepalanya dan menjejalkan penisnya ke mulutnya, sambil diemut dia memegangi payudara Ivana. Endang dan Pak Usep yang nganggur kembali mendatanginya, merekapun ikut bergabung mengerjai Ivana. Tangan-tangan hitam kasar menggerayangi tubuh mulus itu, ada yang mengelus pahanya, ada yang meremas payudaranya, ada yang memelintir putingnya, beberapa diantaranya sedang dikocok penisnya oleh Ivana. Ikat rambutnya sudah terbuka sehingga rambutnya tergerai sebahu lebih. Pemandangan itulah yang kulihat ketika keluar dari kamar mandi.

Lebih dari lima menit dia menjadi objek seks kelima buruhku. Mulanya aku sangat menikmati tontonan ini, terlebih ketika sperma mereka muncrat di tubuhnya, ada yang nyemprot di dada, perut, dan mukanya. Namun aku mulai merasa kasihan ketika mereka memaksanya membersihkan penis-penis mereka dengan mulutnya, beberapa bahkan menjejalkan paksa ke dalam mulutnya, aku terpaksa turun tangan menyudahinya ketika kulihat air matanya mulai menetes. Aku tahu semasa pacaran denganku dulu dia memang tidak terlalu suka oral seks dan menelan sperma, jijik katanya, apalagi sekarang dengan yang hitam-hitam gitu, tentu saja aku tidak tega melihatnya dipaksa-paksa sampai menangis.
Udah-udah Mang, cukup…jangan diterusin lagi, nangis nih dia ! kataku membubarkan mereka
Kemudian aku sandarkan dia di kaki sofa dan memberinya minum, kulap sperma yang membasahi mukanya. Dia memelukku dan menangis sesegukan, aku balas memeluknya dan menenangkannya, tidak peduli lagi dengan tubuhnya yang masih lengket-lengket.
Duh…maaf banget Neng, abis tadi kita kirain Neng nikmatin, ga taunya nangis beneran ! kata Mang Obar
Iya, kalo tau Neng ga suka ngemut kontol, kita juga ga maksa, tadi Neng reaksinya malu-malu sih, jadi kita juga tambah nafsu tambah Pak Usep

Sori, sori, Na gua lupa bilang tadi, abis mandi lu pulang aja yah ! hiburku mengelus-elus rambutnya
Ngga, ga papa kok Win, gua enjoy, cuma tadi gua kaget aja dipaksa-paksa gitu, gua kan ga suka oral katanya setelah lebih tenang sambil membersihkan air mata.
Legalah kami mendengar dia berkata begitu, kami kira dia bakal trauma atau shock. Aku lalu menyuruhnya mandi dan membantunya bangkit, dia pun berjalan sempoyongan ke kamar mandi. Aku dan para buruhku duduk-duduk di ruang tamu merenggangkan otot, kupersilakan mereka menyantap snack dan minuman sambil menunggu Sandra. Aku ngobrol-ngobrol tentang pendapat mereka sekalian memberi pengarahan apa yang harus dilakukan untuk menghukum Sandra yang terlambat nanti. Sandra memang bukan type yang malu-malu seperti Ivana, tapi aku tetap harus memperingatkan mereka agar tidak bertindak kelewatan, aku tidak ingin terjadi hal-hal yang tidak diinginkan gara-gara mewujudkan fantasi gilaku.
Win, Ivana diapain aja sampe nangis gitu ? terdengar suara Santi bertanya dari belakang, dia berjalan ke arahku dengan handuk kuning terlilit di tubuhnya, rambutnya masih agak basah
Ga kok, cuma belum biasa dikeroyok aja, jadi sedikit…ya gitulah ! jawabku sambil meraih pinggangnya mengajak duduk di sebelahku.

Mang Nurdin mengajak Santi duduk disebelahnya saja, tapi Santi menolaknya
Nggak ah Pak, mending simpen tenaga aja buat si Sandra ! tolaknya
Ketika kami ngobrol-ngobrol ada yang misscall ke HP-ku, si Sandra, semenit kemudian disusul bunyi bel, nah pasti ini dia, pikirku.
Aku menyuruh buruh-buruhku sembunyi di dapur dengan membawa pakaian masing-masing, aku berencana membuat surprise sekaligus hukuman baginya. Kupakai celana pendekku untuk menyambutnya (iya dong, kalau ternyata bukan Sandra, masa aku menyambutnya memakai celana dalam).
Hai, sori yah telat katanya begitu pintu terbuka gua jadi ga usah main sama buruh-buruhlu yah
Udah malam gini, kita baru aja bubar, masuk ! ajakku Ngapain aja seharian tadi ?
Nge-bowling di BSM, pada minta nambah game melulu sih, kan ga enak kalo gua pulang dulu, sori banget
Sandra orangnya cantik, rambut panjang kemerahan direbound, tinggi kurang lebih 160cm, dadanya tegak membusung 34B, lebih montok daripada Ivana dan Santi, tampangnya sedikit mirip Vivian Chow, artis HK tahun 90an itu loh, dengan modal itu dia pantas bekerja paruh waktu sebagai SPG. Hari itu dia memakai baju putih lengan panjang dengan dada rendah dan rok selutut dari bahan jeans.

Sandra
Hi, baru lembur nih ! sapanya pada Santi
Kubiarkan mereka berbasa-basi sebentar sampai aku menarik rambutnya dari belakang sehingga dia merintih kaget
Udah arisannya nanti lagi, kaya ga tau lu punya salah aja !
Aww…aduh, ngapain sih sakit tau ! rintihnya
Mohon pembaca jangan salah paham mengira aku ini psikopat atau apa, dalam bermain sex dengannya aku memang sering memakai cara kasar, karena dia juga menikmati dikasari, cuma sebatas main jambak dan tampar sih, tidak sampai masokisme dengan pecut, lilin, dan sejenisnya. Karena dia suka variasi seks kasar inilah aku mengajukan tantangan padanya.
Aku mendekapnya dan menciumi bibir dan lehernya habis-habisan sampai nafasnya mulai memburu. Dia pun mulai meraba selangkanganku. Setelah memberi syarat dengan gerakan tangan ke arah dapur, mendadak aku melepas ciumanku dan menepis tangannya dari selangkanganku

Heh, dasar gatel, datang-datang udah pengen kontol, kalo lu mau kontol gua kasih lu lima sekaligus ! makiku sambil mendorong tubuhnya hingga tersungkur di lantai
Dia menjerit kecil dan begitu menengok ke belakang disana sudah berdiri para buruhku yang bugil yang senjatanya sudah di reload, mengacung tegak siap untuk pertempuran selanjutnya. Sebelum sempat bangun dia sudah diterkam kelima orang itu.
Heeaaa…sikat ! seru mereka sambil menyerbunya
Win…sialan lu, gila !! jeritnya
Huehehehe…tenang San, gua masih nyisain buat lu kok, kan lu suka dikasarin, coba deh biar tau rasanya diperkosa, dijamin sensasional abis ! aku menyeringai padanya
Sandra meronta-ronta, tapi dia tidak bisa menghindar karena kedua kaki dan tangannya dipegangi mereka, malah itu hanya menambah nafsu mereka. Mereka tertawa-tawa sambil mengeluarkan komentar jorok bagaikan gerombolan serigala melolong-lolong sebelum menyantap mangsanya.

Keributan disini memancing Ivana melongokkan kepalanya dari kamar mandi untuk melihat apa yang terjadi, kupanggil dia, tapi dia bilang nanti, mandinya belum selesai. Pak Usep meremasi payudaranya yang masih terbungkus pakaian
Waw…teteknya gede nih, asyik ! komentarnya
Mang Obar dan Pak Andang yang memegangi kakinya juga tak mau kalah, mereka menyingkap roknya sehingga terlihatlah celana dalamnya yang warna hitam dan pahanya yang putih mulus, tangan-tangan mereka segera mengelus-elus pahanya dan terus naik ke pangkal pahanya, bukan cuma itu, jari-jari itu juga mulai menyelinap lewat pinggir celana dalam itu menggerayangi kemaluannya. Mang Nurdin menyusupkan tangannya lewat bawah kaosnya sehingga dada kirinya menggelembung dan ada yang bergerak-gerak. Si Endang meraih tangan Sandra dan menggenggamkannya pada penisnya.
Kocok Neng, kocokin yang saya ! suruhnya
Erwin…mhhpphh…Win…gua…mmm ! desahnya di tengah cecaran bibir Pak Usep yang akhirnya melumat bibirnya.

Aku menyaksikan adegan ini dari jarak satu meteran sambil duduk merangkul Santi.
Win, dasar kelainan seks lu, tega amat lu ngeliat kita digituin tiko! katanya sambil mencubit pahaku
Tapi lu suka kan, gua liat tadi lu hot gitu goyangnya, ngaku lo ! sambil memencet payudaranya Buka ah handuknya ngehalangin aja ! kutarik lepas handuk yang melilit badannya
Lu juga dong buka, biar adil ! balasnya sambil melepasi pakaianku
Sepongin San, sambil nonton si Sandra dismack down nih ! suruhku
Dengan posisi duduk di sebelahku, dia merunduk menservis penisku, jilatan dan kulumannya menyemarakkan acara yang sedang kusaksikan, seperti popcorn yang menemani nonton di bioskop. Sambil menikmati liveshow dan sepongan, tanganku memijati payudaranya dan menelusuri lekuk-lekuk tubuhnya.

Rontaan Sandra semakin lemah, dia sudah pasrah bahkan hanyut menikmati ulah mereka. Aku berasumsi dia sudah tenggelam dalam hasrat seksualnya, hasrat terliar dalam dirinya, dia menikmati pagutan bibir Mang Nurdin tanpa ada paksaan, mengocok penis Endang dengan sukarela, juga ketika Pak Usep menempelkan penisnya ke mulutnya, tanpa diminta dia sudah menjilat dan mencium penis itu.
Telanjangin euy, biar kita bisa ngeliat bodinya ! kata salah seorang dari mereka
Iya bugilin, bugilin, ewe…ewe !! timpal yang lain
Mereka bersorak-sorak dan mulai melucuti baju Sandra, pakaiannya beterbangan kesana-kemari hingga akhirnya tak satupun tersisa di tubuhnya yang indah selain arloji, cincin, dan gelang kakinya. Kelimanya memandangi tubuh telanjang Sandra tanpa berkedip.
Anjrit, kulitnya mulus banget, cantik lagi ! komentar seseorang
Wih, teteknya…jadi ga tahan pengen netek eemmm…! sahut Mang Nurdin yang langsung melahap payudara kanannya

Sebelah sini juga bagus sahut Pak Andang membuka lebar kedua belah pahanya.
Bersama Mang Obar dia memandangi daerah kemaluan Sandra yang berbulu lebat dengan tengahnya yang memerah. Keduanya menjilati vaginanya yang mulai becek. Tubuhnya menggelinjang hebat merasakan dua lidah menggelikitik vaginanya. Endang menciumi leher, bahu dan sekitar ketiak, sambil jarinya memilin-milin putingnya. Pak Usep menjilati bagian pinggir tubuhnya sambil tangannya menelusuri punggung dan pantatnya. Sandra hanya bisa menggeliat-geliat dikerubuti lima buruh kasar, mulutnya mengeluarkan suara desahan. Saat itu Ivana baru selesai mandi, dia menjatuhkan pantatnya di sebelahku, seperti Santi tadi dia juga memakai handuk melilit badannya, rambutnya masih agak basah.
Buka ah ! ngapain sih malu-malu gitu ! kataku menarik lepas handuknya
Bekas cupangan memerah masih nampak pada kulit payudara dan lehernya yang putih, kurangkul tubuhnya yang mulus itu di sisi kiriku. Santi tidak terlalu menghiraukan kedatangan Ivana, dia terus saja menjilat penisku dengan gerakan perlahan sambil memijat lembut buah pelirnya

Kasian ih, masa lu tega si Sandra dikeroyok gitu ! kata Ivana
Santai aja Na, Sandra kan ga kaya lu, dia sih enjoy aja dikasarin gitu, dah biasa jawabku santai
Ooo…ga kaya gua yah ! sehabis berkata dia langsung menyambar putingku dan menggigitnya
Adawww…!! jeritku refleks menepis kepalanya Jahat ih, keras gitu masa gigitnya, putus nanti kataku mengelus-elus putingku yang nyut-nyutan digigitnya
Dia malah tertawa melihatku begitu, si Santi juga ikutan ketawa.
Lho, kan ke Sandra lu bilang suka main kasar, baru digituin aja dah kaya disembelih hihihi ! Santi mengejekku
Ini sih bukan kasar, tapi sadisme gila gerutuku Dah ah, lu terusin aja sana, jangan ngeledek ah ! kutekan kepalanya ke bawah
Sini lo ! kusambar tubuh Ivana yang masih cekikikan ke pelukanku
Dengan bernafsu kupaguti lehernya dan payudaranya kuremas-remas sehingga dia mendesah-desah kenikmatan.

Bukan cuma menjilat, Mang Obar juga memasukkan jarinya ke liang vagina Sandra, diputar-putar seperti mengaduknya sementara lidahnya terus menjilati bibir vaginanya. Setelah puas menjilat, Mang Obar menyuruh Pak Andang menyingkir, dia angkat sedikit pinggul Sandra dan menekankan penisnya pada belahan kemaluan itu, dia melenguh ketika kepala penisnya sudah mulai masuk, lalu ditekan lagi dan lagi. Sandra menahan nafas dan menggigit bibir merasakan benda sebesar itu menyeruak ke vaginanya.
Aaakkhh ! erangan panjang keluar dari mulut Sandra saat penis Mang Obar masuk seluruhnya dengan satu hentakan kuat.
Penis itu keluar-masuk dengan cepatnya, suara desahan Sandra seirama dengan ayunan pinggul Mang Obar. Desahan itu sesekali teredam bila ada yang mencium atau memasukkan penis ke mulutnya.
Hehehe…liat tuh teteknya goyang-goyang, lucu ya ! sahut Pak Usep memperhatikan payudara yang ikut tergoncang karena tubuhnya terhentak-hentak
Mulutnya enak, hangat, terus Neng, mainin lidahnya ! kata Endang yang lagi keenakan penisnya diemut Sandra.
Uuuhh…uuhh…iyahh ! jerit klimaks Mang Obar, penisnya dihujamkan dalam-dalam dan menyemprotkan spermanya di dalam sana.

Posisi Mang Obar segera digantikan oleh Pak Andang, dia melakukannya dalam posisi sama dengan rekannya tadi sambil tangannya menggerayangi pahanya dengan liar. Sementara Endang mengerang lebih panjang, wajahnya mendongak ke atas dan meringis. Rupanya dia telah orgasme dan spermanya ditumpahkan ke mulut Sandra, dia menyedotnya, namun sebagian meleleh keluar bibirnya, dikeluarkannya sebentar untuk dikocok dan diperas, maka sperma itu pun nyiprat ke wajahnya. Kemudian dijilatnya lagi penis Endang yang mulai menyusut membersihkannya dari sisa-sisa sperma. Tugas Sandra menjadi sedikit lebih ringan setelah dua orang yang telah dibuatnya orgasme menyingkir, keduanya kini terduduk di pinggirnya, memulihkan tenaga sambil sesekali megang-megang tubuhnya. Tubuh Sandra menggelinjang merasakan sensasi yang selama ini belum dia rasakan, tangannya yang menggenggam penis Pak Usep nampak semakin gencar mengocoknya sehingga pemiliknya melenguh keenakan.
Aahhh…emm…gitu Neng, enak…oohhh ! sambil tangannya meremasi payudaranya.
Mang Nurdin yang tadi menyusu sekarang mulai menciumi perut Sandra yang rata, tangan kirinya memainkan putingnya, tangan kanannya mengelus pantatnya.

Saat itu aku sedang menikmati penisku dipijati oleh cengkraman vagina Ivana yang duduk di pangkuanku dengan posisi membelakangi. Aku membiarkannya mengendarai penisku sementara aku menikmati Sandra digangbang, menonton sambil melakukan, suatu kenikmatan seks yang sejati. Kudekatkan wajahku ke lehernya dan kuhirup aroma tubuhnya, hhmm..wangi, habis mandi sih, di lehernya masih membekas cupangan mereka, tapi aku tak peduli, kulit lehernya yang mulus kuemut dan kugigiti pelan membuatnya semakin mendesah kesetanan. Tangan kiriku mendekap Santi sambil memutar-mutar putingnya, tapi kemudian Santi bangkit dan berdiri di hadapan kami, dia dekatkan kemaluannya pada Ivana, tanpa disuruh Ivana menjilatinya. Santi mendesah menikmatinya, dipeganginya kepala Ivana, seolah meminta dia tidak melepaskannya. Aneh si Ivana ini, kalau diminta mengoral punya cowok susah, harus dibujuk-bujuk baru terpaksa diiyakan, tapi ini ke sesama jenisnya tanpa disuruh kok mau, mungkin sih akibat terlalu horny, tapi peduli amat ah, yang penting enjoy aja (emang iklan LA Light ?). Kuminta Santi menepi sedikit karena sempat menghalangi pandanganku terhadap Sandra. Ruang tamuku jadi dipenuhi oleh desah birahi yang sahut menyahut.

Sandra kembali orgasme oleh genjotan Mang Obar, badannya lemas bercucuran keringat, namun mereka terus menggumulinya. Gerakan Mang Obar semakin cepat dan menggumam-gumam tak jelas, tapi sebelum spermanya keluar, dia mencabut penisnya dan langsung menaiki dadanya.
Misi, minggir dulu dong, tanggung nih, pengen ngentot pake teteknya sebelum ngecret !
Segera dia jepitkan penisnya diantara dua gunung kembar itu lalu digesek-gesekkannya penisnya disana dengan lancar karena sudah licin oleh cairan cinta. Tak sampai tiga menit spermanya sudah muncrat, cipratannya berceceran di dada, leher, wajah dan sebagian rambut Sandra. Setelahnya dia menyuruh Sandra menjilati penisnya hingga bersih mengkilat. Dua orang lagi yang masih menggumulinya, Mang Nurdin dan Pak Usep, mengangkat tubuhnya dan membaringkannya ke kasur udara tempat Santi digarap. Mang Nurdin membalikkan tubuh Sandra hingga telungkup, pantatnya diangkat hingga menungging, dengan posisi ini dia memasukkan penisnya ke vagina Sandra dari belakang. Disodokkannya benda itu berkali-kali dengan keras, sehingga Sandra mengerang makin histeris.

Pak Usep tidak meneruskan aktivitasnya dengan Sandra, dia meninggalkannya berduaan dengan Mang Nurdin. Sementara dia sendiri menghampiri kami dan kedua tangan gemuknya melingkari perut Santi dari belakang, agaknya dia masih penasaran karena belum sempat menikmati Santi. Telapak tangannya bergerak ke atas membelai payudara Santi, sedangkan yang satunya ke bawah membelai kemaluannya, mulutnya mencupangi bahunya. Santi memejamkan mata menghayati setiap elusan tangan kasar itu pada bagian-bagian sensitifnya, desahan pelan keluar dari mulutnya. Tangannya lalu menarik wajah Santi ke belakang, begitu dia menoleh bibirnya langsung dipagut. Keduanya terlibat percumbuan yang panas, sedotan-sedotan kuat dan permainan lidah terlibat di dalamnya. Dengan terus berciuman tangan kanannya beraksi di kemaluan Santi, jari-jari itu menggosok-gosok belahan kemaluannya, kadang juga masuk dan berputar-putar di dalamnya. Permainan jari Pak Usep yang lihai membuat tubuh Santi bergetar dan vaginanya melelehkan cairan. Sedangkan tangan kirinya meraba-raba bagian tubuh lainnya, lengan, dada, perut, paha, pantat, dll. Setelah mencumbunya selama beberapa menit, lidah Pak Usep kini menjilati lehernya dan menggelikitik telinganya.

Di pihakku, Ivana menaik-turunkan tubuhnya dengan lebih kencang, diantara desahannya terdengar kata-kata tak jelas, tanganku juga diraih dan diremaskan ke payudaranya, gelagat ini menunjukkan dia sudah di ambang orgasme.
Aaahh…Win, dikit lagi nih…enak ! erangnya sambil meremas tanganku
Akupun merasa mau keluar juga saat itu, maka kupacu juga pinggulku sampai sofanya ikut goyang, penisku menusuk makin keras dan dalam padanya. Penisku serasa diperas oleh jepitan vaginanya, himpitannya makin lama makin kencang saja. Akhirnya cairan nikmat itu keluar dibarengi desahan yang panjang, aku pun mendapat orgasmeku lima detik setelahnya. Sperma bercampur lendirnya meleleh keluar dari sela-sela vaginanya membasahi selangkangan kami dan sofa di bawahnya. Kami saling berpelukan tersandar lemas di sofa, kubelai-belai lembut rambut dan wajahnya selama cooling down.
Goyangan lu tambah asyik nih say, bersihin dong pake mulut, boleh ya ? pujiku sekaligus memintanya melakukan cleaning service.
Nggak mau, lu sendiri aja ! jawabnya sambil manyun
Ayo dong say, lu kan baik, please dikit aja, yah…! mohonku lagi memencet putingnya

Ok, tapi cuma bersihin aja yah, ga lebih katanya sambil turun dari pangkuanku
Dia berjongkok diantara kedua kakiku, dipegangnya penisku, kemudian mulai menjilati sisa-sisa cairan pada penisku hingga bersih. Di kasur sana, Mang Nurdin menyetubuhi Sandra dengan ganasnya dengan doggie style. Mata Sandra merem-melek dan mendesah tak karuan akibat sodokan-sodokan yang diberikan Mang Nurdin. Mang Obar menghampiri mereka lalu duduk mekangkang di depan Sandra. Tangannya menjenggut rambut Sandra dan menjejalkan penisnya ke dalam mulutnya, tentu saja benda sebesar dan berdiameter selebar itu tidak muat di mulut Sandra yang mungil. Susah payah Sandra berusaha menyesuaikan diri, pelan-pelan kepalanya mulai naik-turun mengisap benda itu. Desahan tertahan masih terdengar dari mulutnya, pada dinding pipinya kadang terlihat tonjolan dari penis Mang Obar yang bergerak maju-mundur. Mang Obar mengelus punggung dan dadanya sambil menikmati penisnya dikulum Sandra. Mang Nurdin hampir klimaks, genjotannya semakin cepat, tak lama kemudian dia mendesah panjang dengan mencengkram erat bongkahan pantatnya, spermanya menyemprot di dalam vaginanya, ketika dia cabut penisnya, nampak cairan kental itu masih menjuntai seperti benang laba-laba, sebagian meleleh di sekitar pangkal paha Sandra.

Melihat vagina Sandra nganggur, Mang Obar menyuruhnya menghentikan kulumannya dan naik ke pangkuannya. Sandra yang klimaksnya tertunda karena Mang Nurdin sudah keluar duluan segera menaiki penis Mang Obar. Sebelum mulai, pria kurus itu meminta tissue basah pada Endang untuk mengelap ceceran sperma di sekujur tubuh Sandra. Sandra menaik-turunkan pinggulnya dengan gencar di atas penis Mang Obar, payudaranya pun ikut terayun-ayun seiring gerak badan. Pemandangan itu membuat Mang Obar tidak tahan untuk tidak melumatnya, mulutnya menangkap payudara yang kanan dan mengenyot-ngeyotnya, sementara tangannya bergerilya menyusuri lekuk-lekuk tubuh yang indah itu. Keringat sudah bercucuran membasahi tubuh Sandra yang sudah bekerja keras melayani lima pria sekaligus, rambutnya sudah acak-acakan, namun itulah yang menambah pesonanya. Desahan nikmat Sandra memacu Mang Obar untuk terus melahap dada, leher, dan ketiaknya.

Setelah puas melakukan foreplay bersama Santi, Pak Usep menyuruhnya nungging, masih dalam posisi berdiri, Santi mencondongkan badan ke depan dengan tangan bertumpu pada kepala sofa. Santi yang sudah horny berat itu pun tanpa sungkan-sungkan mengulurkan tangan ke belakang membuka bibir vaginanya, gatel minta ditusuk. Mang Obar mengerti bahasa tubuh Santi, dia pun segera melesakkan penisnya masuk ke lubang itu.
Aarrghh…enak Mang, terus…terus ! jerit Santi
Adegan ini berlangsung tepat di sebelahku sehingga aku dapat mengamati ekpresi wajah Santi yang sedang menikmati sodokan penis Mang Obar, dia merintih-rintih dan sesekali menggigit bibir bawah. dari belakangnya Mang Obar menggerayangi tubuhnya sambil terus menggenjotinya, payudaranya tampak berayun-ayun menggodaku iseng meremas salah satunya. Beberapa kali tubuh Santi tersentak-sentak kalau Mang Obar memberikan sodokan keras padanya. Aku suka sekali melihat wajahnya yang seksi saat itu.

Tamat

Aku, istri dan temanku

April 29, 2009 pukul 8:42 am | Ditulis dalam Cerita Dewasa, Pesta Seks | Tinggalkan komentar

Sebenarnya aku sudah kurang lebih 10 tahun berumah tangga dan kehidupan kami baik-baik saja. Aku sendiri berusia 10 tahun lebih tua dari pada istriku yang saat ini berusia 30 tahun dan sudah beranak seorang berusia 7 tahun. Walaupun sudah beranak, tetapi istriku tetap mempunyai wajah yang cantik dan bentuk tubuh yang indah sebab sering senam dan merawat wajah, rambut ke salon dan juga karena anaknya dulu minum susu kaleng sehingga bentuk buah dadanya yang besar itu tetap indah dan masih kencang serta kenyal. Juga lubang vaginanya saat habis melahirkan langsung dijahit sehingga lubangnya kembali seperti saat masih perawan. Jadi hubungan seks kami tetap indah.

Suatu hari di tahun 1995, kami diajak sebelah tetangga untuk nonton blue film karena baru beli laser disc. Kami dan suami istri tetangga nonton film itu yang cukup seram karena ada seorang wanita bule disetubuhi oleh dua orang Negro, mereka bergantian memasukkan penisnya yang seorang ke vaginanya dan yang seorang ke mulutnya untuk dihisap. Melihat adegan itu rupanya istriku jadi naik birahinya sehingga memegang tanganku erat-erat dan berbisik,
“Waah rupanya nikmat sekaligus lubang atas dan bawah kemasukkan penis.” Kutanya pelan-pelan,
“Apakah kamu kepingin adegan begitu?” Istriku dengan malu-malu menganggukkan kepalanya.
Setelah selesai memutar laser disc, kami segera pulang dan karena nafsu birahi kami sudah memuncak segera kami puaskan dengan bersetubuh malam itu. Sambil bersetubuh, aku tanya lagi kepadanya, “Mi, apakah kamu kepingin disetubuhi sekaligus dengan dua laki-laki?” Istriku memandangiku sambil malu-malu manggut-manggut kepalanya. Kutanya lagi, “Kalau lakinya dua, satunya kamu ingin dengan siapa?” Istriku menjawab, “Terserah sama Papi saja.” Aku teringat punya dua teman baik sejak sekolah di SMA, yaitu Lud seorang anak turunan Ambon dengan Belanda dan Tono seorang Cina seperti kami. Lalu kutanya lagi, “Kalau Lud atau Tono mau?” Dia menggangguk juga. Lalu kujelaskan lagi, “Mami senang yang penisnya besar, lebih besar dari kupunya atau yang kira-kira sama?”

Istriku menjawab, “Enak yang besar saja, seperti di film tadi.”
“Oh kalau gitu ya si Lud saja sebab dia punya panjang dan besar.”

Memang kita dulu pernah mandi sama-sama bertiga saat masih sekolah ternyata Lud punya penis dalam keadaan mati saja besar dan panjang hanya warnanya agak hitam lalu bulu kemaluannya juga banyak sampai menyambung ke bawah pusar juga dadanya penuh dengan bulu maklum orang Ambon. Besok paginya segera kuinterlokal Lud yang ada di Jakarta dan kuceritakan maksudku, ternyata Lud menyambut dengan antusias dan sanggup datang besok sore sebab hari Sabtu kantor di Jakarta tutup. Aku kemudian booking motel yang terdiri dari 2 kamar dan sebuah ruang tamu dan TV.

Hari Sabtu sore aku menjemput Lud di airport bersama istriku, setelah menitipkan anak pada pembantu. Istriku sudah siap membawa tas dengan membawa perlengkapan baju tidur segala, saat itu istriku memakai rok panjang warna coklat tapi bagian atas terbuka sampai dada hanya memakai baju tipis (modelnya Yuni Sara) dengan bagian bawah ada belahannya agak tinggi di depannya sehingga kalau jalan atau duduk pahanya terlihat putih menggairahkan. Juga bagian atasnya terlihat sedikit belahan buah dadanya, karena istriku hanya memakai bra strepples tanpa tali, sehingga di airpot banyak mata laki-laki curi pandang lihat belahan buah dadanya istriku, apalagi kalau tangannya didekapkan di bawah buah dadanya maka buah dadanya semakin menyembul ke atas. Makin syuur..! Tepat pukul 17.15 pesawat Merpati dari Jakarta mendarat, dari penumpang yang turun kulihat Lud menuruni tangga pesawat dengan menenteng tas kecil. Dia memakai T-shirt dan celana jeans.

Setelah keluar pintu airport segera kusalami dia, dia menepuk-nepuk bahuku dan berkata, “Waah, nanti malam kita betul-betul ke nirwana”, dengan logat Ambonnya. Kemudian dia memeluk istriku sambil mencium pipi kiri dan kanan yang mulus dan putih dari istriku. “Apa kabar Hwa?” tanyanya pada istriku. Dia kalau panggil istriku dengan Hwa. Kita berjalan menuju parkir dan naik mobil, untuk sementara dia duduk di belakang sendirian dulu sambil kita cari makan. Istriku usul makan sate kambing saja biar hot katanya. Dan usul itu kita setuju semua.

Setelah sampai motel kita segera check in, temanku sebagai tamu kuberi kamar yang besar dengan twin bed sekaligus untuk tempat bermain seks-ria nanti. Baru saja aku selesai dari kamar kecil menuju ruang TV yang bersebelahan dengan kamarnya Lud yang masih terbuka pintunya, kulihat Lud memeluk istriku dari belakang menghadap kaca rias sambil tangannya meremas-remas buah dada istriku sehingga kedua pentil buah dadanya yang coklat kemerah-merahan itu menyembul keluar sambil menciumi pipi istriku yang wajahnya menengadah ke wajahnya Lud. Tangannya lud yang kanan kadang-kadang terus meraba turun ke perut dan terus turun untuk disusupkan ke belahan atas dari rok istriku untuk meraba pangkal paha serta vagina istriku. Tampak istriku mulai mendesis kenikmatan serta menggeliat dengan tangan kanannya coba memijit penisnya yang masih pakai jeans itu. Adegan ini masih berlangsung beberapa saat walaupun mereka tahu aku di dekatnya. Ketika kutanya pada istriku, “Mi, nikmat ya permainannya Lud?” Istriku menjawab, “Waah, aku nggak tahan lagi Pi, habis sejak dalam mobil tadi Lud terus mempermainkan dan meremas buah dadaku terus.” Memang istriku kalau buah dadanya sudah dipermainkan lalu nafsunya meroket naik, mungkin ciri khas wanita-wanita yang punya buah dada besar. Karena Lud mau mandi dulu, maka aku dan istriku yang sudah mandi dari rumah duduk di sofa menonton TV dulu.

Istriku berkata kepadaku, “Waah Pi, pertama aku dirangkul dan diciumi oleh Lud badanku rasanya merinding dan panas dingin. Habis bulu tangannya dan kumisnya begitu geli rasanya waktu menggesek tubuh dan pipiku.”
“Tapi Mami bisa nafsu ya dengan Lud?” tanyaku. Istriku dengan malu manggut-manggut. Lalu dia bilang lagi,
“Kalau nanti malam Papi tidur sendirian bagaimana? Sebab katanya aku akan diajak tidur dengannya semalam.”
“Nggak apa-apa, yang penting Mami bisa keturutan mendapat kepuasan”, jawabku.
Memang entah kenapa perasaanku saat melihat Lud memeluk dan meremas buah dada istriku aku tidak cemburu bahkan nafsuku menjadi berkobar, apa mungkin aku punya kelainan seks pikir dalam hatiku.
“Tadi Lud bilang kalau nanti malam air maninya akan disemprotkan terus ke seluruh tubuhku dan vaginaku sampai habis. Dan lendir santanku akan dikuras sampai kering dengan penisnya”, kata istriku. Aku pesan pada istriku agar satu hal yang jangan dilakukan adalah minum air maninya, walaupun nanti kalau nyemprot saat dihisap. Jadi harus diludahkan.

Beberapa saat kemudian Lud bertanya pada istriku, “Hwa, apakah kamu tak bawa pakaian tidur? Tapi kalau tak bawa ya tak apa-apa sebab nanti malam kan tak ada pakaian yang boleh menempel di tubuhmu sebab akan kuselimuti dengan tubuhku.”
“Macam-macam kamu”, sahut istriku. Lalu istriku masuk ke kamar untuk ganti pakaian dan sikat gigi, juga aku masuk kamar untuk lepas pakaian dan hanya pakai CD saja. Sebentar istriku sudah selesai dan keluar dengan mengenakan pakaian tidur dari bahan tipis warna pink hingga terlihat CD mininya warna merah juga branya yang mini juga dari renda warna merah juga. Melihat istriku keluar dengan pakaian yang sensual sekali, Lud geleng-geleng dan bilang, “Waah aku bisa langsung tegang lho”, sambil pegang-pegang penisnya. Lalu istriku duduk di sofa sebelahku dan tangan Lud ditarik juga untuk diajak duduk di sofa juga. Sekarang istriku diapit sebelah kiri aku dan kanan oleh Lud. Tangan istriku dipegang Lud dan digosokkan ke bulunya di bawah pusar sampai menyambung ke bulu kemaluannya. “Wuuuiihh, cek… cek… cek”, gumam istriku sambil menarik tangannya.

Sambil nonton TV tanganku dan tangannya Lud mulai bekerja. Lud menciumi pipi, telinga dan lehernya istriku sehingga kepalanya disandarkan ke bahu Lud dan menengadah untuk terus menerima ciuman-ciuman disertai permainan lidah Lud dan tangan kanannya terus mulai meraba dan meremas buah dada sebelah kanan dan naik turun ke paha istriku. Aku sendiri segera melepas kancing atas baju tidurnya dan kurogoh buah dadanya sebelah kiri untuk segera kuhisap pentilnya serta tangan kiriku meraba paha kirinya dan vaginanya bergantian dengan tangan Lud. Istriku tak tahan terus menggeliat-geliat sambil tangan kirinya memijit penisku dan tangan kanannya merogoh ke dalam celana santainya Lud untuk memegang penisnya. Adegan ini tak berlangsung lama hanya sekitar 5 menit, karena istriku tak tahan dan minta langsung ditancap dengan penis vaginanya. Lalu kita sama-sama masuk kamar, kulepas CD-ku dan ternyata Lud hanya pakai celana santai saja tanpa CD sebab begitu dilorot celananya langsung nampak penisnya.

Walaupun belum hidup penisnya cukup panjang kira-kira ada 15 cm dan besar sekali dan kepalanya sudah menongol keluar karena dia disunat, tetapi kantong pelirnya agak kecil. Kupunya panjang dan besarnya hanya kira-kira 65 persennya saja. Istriku juga sudah bugil benar, lalu dia ditarik Lud ke hadapannya dan tubuhnya agak dirapatkan ke tubuh istriku jadi buah dada istriku yang menempel agak ketat dengan dadanya yang penuh bulu. Lalu Lud berpegang pada kedua lengan Hwa dan badannya digeser-geserkan naik turun, ke kiri dan kanan sehingga bulunya menggesek ke seluruh tubuh depan Hwa juga bulu kemaluannya kulihat sempat menggesek vagina istriku, hingga istriku kenikmatan sambil memejamkan mata. Aku jadi syuur melihatnya. “Addduuuh Lud, gila benar gesekan bulu atas bawahmu itu, tak tahan vagina dan buah dadaku kena gesekannya”, kata istriku.

Selesai itu lalu Lud tidur dan istriku diminta menungging agak di bawahnya sehingga mulutnya pas depan penisnya dan aku diminta mengerjakan vaginanya dengan penisku. Saat menungging kelihatan buah dada istriku menggantung bebas dan langsung saja ditangkap dengan kedua tangan Lud dan terus diremas-remas. Istriku tanpa komando langsung mencaplok penis Lud yang mulai agak tegang dan mempermainkannya dengan mulut dan lidahnya. Lubang penisku dibuka-buka dengan ujung lidahnya dan kadang-kadang dikocok naik turun dengan mulutnya sehingga Lud mengerang nikmat. Aku sendiri langsung tegang keras dan terus kuhunjamkan maju mundur ke vaginanya. Mendapat dua penis yang sekaligus mengisi lubang atas dan bawah apalagi yang satu gede sekali istriku tampak bernafsu sekali, nafasnya kelihatan terus memburu sedang vaginanya mulai keluar santannya dan kental sekali. Kulihat istriku kadang-kadang tak menghisap penis Lud tapi memepetkan buah dadanya kepenis Lud dan ditaruhnya di belahan buah dadanya dan digosok-gosok dengan buah dadanya.

Melihat itu lalu kupegang pantat istriku dan langsung kugoyangkan maju mundur sehingga sekaligus buah dadanya bisa menggosok-gosok penis Lud dan vaginanya mengocok penisku. Praktis kami laki-laki berdua diam hanya dengan goyangan pada pantatnya sudah membuat nikmat penis dua laki-laki dan kulihat vaginanya makin banyak dengan santan kental yang berwarna putih seperti susu. Aku bilang, “Waduuuh Lud, santannya Hwa mulai keluar dan kental sekali Lud”. Langsung dia bilang, “Aku juga tegang banget penisku disedot-sedot dan dipermainkan lubangnya oleh Hwa, ayo kita ganti posisi.” Temanku usul supaya istriku jangan capai sebab masih terus akan dikerjakan semalam suntuk, maka istriku disuruh yang tidur tapi pantatnya di ujung bawah kasur hingga kakinya bisa menapak ke lantai. Temanku nanti akan menancapkan vaginanya dari bawah sambil memegang dan membentangkan kaki istriku. Dan aku yang bertugas mengisi mulut atas dengan penisku dengan jongkok tepat di atas buah dadanya sehingga penisku tepat di hadapan mulutnya.

Penisku juga langsung dicaplok oleh Hwa yang sudah memuncak nafsunya, baru beberapa saat Hwa melepas penisku dan mengaduh, “aachh…. Lud!” Aku melongok ke belakang ternyata Lud masih sibuk mau memasukkan penisnya sebab belum bisa masuk, yaah karena kelewat besar bendolan kepala penisnya saat tegang banget itu kira-kira ada 5 cm diameternya. “Sulit banget An masuknya coba kuberi minyak sedikit dulu”, katanya. “Masak toch padahal sudah kumasukan penisku dan sudah ada santannya lho”, sahutku. Lalu temanku ambil botol kecil isi minyak dan dioleskan kepala penisnya dengan minyak lalu dia mengambil semacam longsong dari karet dengan bagian dinding luarnya penuh bulu dari karet kira-kira panjangnya 1 cm. Longsong itu lebarnya kira-kira 10 cm.

Kemudian dipakaikan ke penisnya hingga batang penisnya sebagian tertutup dengan longsong berbulu itu. “Ini supaya Hwa mendapat kenikmatan yang lebih hebat. Mau coba ya Hwa?” katanya sambil ditunjukkan ke istriku penisnya yang sudah gede dan panjang lagi hitam itu dilongsongi dengan gelang karet putih berbulu itu sehingga benar-benar menakjubkan kelihatannya. Istriku bilang, “Waah kayak apa rasanya nanti Lud, aku belum bisa membayangkan. Tapi pokoknya habisi ya Lud air mani dan santanku!”
“Oke” sahutnya. Lalu Lud mengangkat dan mementang lagi kaki istriku dan ujung penisnya ditempelkan tepat di lubang vagina istriku yang mulai menganga itu dan disentakkan ke dalam. “aacch… Lud, masuk Lud penismu”, kata istriku. Memang kepala penisnya Lud sudah masuk lalu digoyang-goyangkan keluar masuk pelan-pelan kepala penisnya supaya agak terbiasa. “Waduh Lud, Pi, rasanya seret sekali bibir vaginaku bisa merasakan bentuk penismu Lud”, kata istriku sambil matanya terpejam dan menggigit bibir. Setelah itu baru dimasukkan seluruh batang penisnya yang tertutup gelang bulu itu pelan-pelan.

Setelah terbenam semuanya, istriku mendesis lagi, “Aduh Pi, penis Lud mentok sampai dalam kepalanya rasanya menyodok mulut rahimku. Enaaknya luar biasa dan gelinya juga hebat kena gelang bulu itu”, dengan penis tetap terbenam penuh Lud mulai menggoyangkan pantatnya naik-turun bergantian dengan kiri-kanan, sehingga penisnya menyapu seluruh dinding vagina istriku. Tangan istriku mulai meremas kain sprei dan minta penisku untuk dihisapnya. Penisku juga dipermainkan dengan lidah, lubangnya dibuka-buka dengan lidah, enaknya luar biasa. Aku sambil melihat ke belakang, kulihat penis Lud mulai digoyangkan keluar masuk sehingga bulu karetnya menyentuh clit-nya juga dan terlihat bulunya banyak santan istriku yang menempel. Setelah gampang masuk keluar penisnya, maka kaki istriku disuruh membuka dengan telapak kakinya manjat di pinggir kasur sehingga tangan Lud langsung meremas buah dada yang ada di bawah pantatku.

Baru 3 menit jalan adegan ini, istriku sudah mengaduh, “Aah.. aah, aku mau klimaks, Lud, Pi!” Benar juga sekejap lagi istriku tampak lemas sehingga menghisapnya kendor dan Lud berkata, “Gila An, pijatan vagina istrimu kuat sekali di penisku.” Memang kalau klimaks istriku vaginanya memijit penis dengan kuat dan nikmat rasanya. Setelah agak kuat, istriku bilang, “Pi, Lud tolong semprotkan semua manimu ya, aku sudah pengin hangatnya manimu sekalian.” Aku tanya pada istriku, “Mi, gimana? Mami nikmat dan puas keinginan Mami untuk merasakan 2 penis sekaligus terlaksana?”
“Ya Pi, Mami puas banget dan memang enaknya dan grengnya luar biasa sekaligus melihat, memegang dan menikmati 2 penis, apalagi ada yang gede-gede. Mami jadi kepingin terus”, sahutnya. Lalu Lud sudah mulai menggenjot lagi vagina Hwa dengan penisnya dan penisku dihisap lagi sambil dibantu dikocok dengan tangan. Setelah 5 menit lagi, istriku mencapai klimaks lagi. Lalu temanku bilang, “Ayo An, sekarang kita puaskan Hwa dengan semprotan mani secara berbarengan.”

Lud mulai menggerakan lagi keluar masuk dan kadang memutar sehingga istriku sering menggelinjang tubuhnya dan penisku mulai dihisap lagi sambil kadang-kadang dikocok dengan tangan, sedang buah dada istriku tetap menjadi bagian dari tangan Lud yang tak bosan-bosan meremas-remasnya. Makin lama Lud semakin cepat dan semakin keras menghunjamkan penisnya ke vagina Hwa dan mulai mendengus-dengus seperti sapi. Melihat itu akan jadi memuncak nafsuku dengan penis terus dikocok oleh istriku maka air maniku tak tertahan lagi, creet…. creet…. cret, maniku menyemprot masuk ke mulut istriku. Karena seminggu tak bersetubuh maka maniku banyak serta kental juga sehingga mulut istriku penuh dengan mani yang putih seperti cendol itu. Lalu penisku kukeluarkan dari mulutnya dan mani yang masih menetes dari lubang penisku kugeser-geserkan ke bibir istriku dan langsung ditelan semua maniku. Baru saja habis menelan maniku terdengar suara mengaduh dari temanku, “Uuuuuh…. uuuuhh…. uuuhh”, sambil menekankan kuat-kuat penisnya yang terbenam itu ke vagina istriku. Dan tiap kali Lud mengaduh istriku pun ikut mengaduh, “aah Lud… aahh Lud… aah Lud.” Jadi rupanya tiap kali semprotan mani Lud terasa sekali nikmatnya oleh istriku. Aku lalu rebah tidur sebelah istriku dan temanku juga langsung rebah menindih tubuh istriku.

Walaupun dengan nafas yang masih memburu tangan temanku tetap masih meremas buah dada Hwa. Kemudian tubuh Lud dipeluk erat oleh istriku dan kakinya pun dilipatkan erat-erat ke pantat Lud dengan maksud agar penisnya jangan buru-buru dicabut dari vaginanya. Kira-kira sampai 5 menit kita bertiga terdiam tanpa kata-kata hanya dengan nafas tersengal-sengal, baru kemudian aku turun menuju kamar mandi untuk cuci dan ternyata Lud dengan merangkul istriku juga ikut ke kamar mandi untuk cuci bersama. Untuk mencuci penis-penis, istriku yang bertugas karena kepunyaan Lud yang banyak belepotan santan dari mani istriku maka penisnya yang dicuci dulu. Kulihat dari vagina Hwa meleleh sedikit mani yang keluar ke pahanya dan kulihat bibir vaginanya memerah.

Istriku bilang, “Ya Pi bibir vaginaku merah? Itu gara-gara penis temanmu itu toch yang seretnya bukan main mulai dari bibir vagina sampai dinding dalam vagina seret terus, sehingga vaginaku bisa merasakan lekuk-lekuk penis Lud.”
“Tapi nikmat dan nikmat toch sayang?” balas Lud. Istriku tertawa tanda setuju, sambil terus mencuci penis Lud dan kemudian penisku. Setelah itu giliran istriku vaginanya mau dicuci oleh tamanku, istriku duduk di closet dengan kaki terbuka lebar kemudian vaginanya dicuci dan jari tengahnya dimasukkan pelan-pelan untuk mengambil mani yang menempel di dalam dan ternyata ada sedikit dan ditunjukkan ke istriku. Istriku bilang,
“Wah Pi, maninya Lud ngendon dalam vaginaku nih sebab tadi semprotannya banyak dan sampai tiga kali tapi yang keluar sedikit sekali. Mungkin masuk ke rahim sebab dalam perutku masih terasa hangat dan saat nyemprot ujung lubangnya benar-benar disodokkan sampai rasanya masuk lubang rahimku. Gimana ya Pi?”
“Biarin saja lama-lama kan keluar sendiri, sekarang dikeluarkan percuma nanti malam kamu kan masih akan disemprot lagi.”
“Bukan malam ini saja mungkin sampai besok pagi akan kusemprotkan sampai habis maniku ke vaginamu”, sahut Lud. Istriku menjawab,
“Betul Lud, kamu biar kembali ke rumah dengan tempat yang kosong jadi manimu 2 hari ini harus dihabiskan sampai tuntas.”

Setelah selesai mencuci, kita bertiga dengan berbugil ria duduk di sofa sambil makan kacang mete dan nonton TV. Temanku berkata,
“An, kamu beruntung sekali punya istri dia, walaupun sudah setengah baya dan punya anak tapi buah dadanya masih berdiri menantang tidak jatuh, juga perut dan pahanya mulus sekali tidak keriput, siapa yang tak tegang terus lihat tubuh seindah ini. Apalagi hisapannya juga yahut, kalau jadi istriku tiap hari bisa kusetubuhi minimum 2 kali! Istriku berbisik padaku,
“Sudah kesampaian keinginanku untuk melayani nafsu birahi 2 laki-laki sekaligus dan ternyata memang tambah besar nafsunya serta nikmatnya pun tambah. Oya Pi, malam ini aku tak tidur dengan Lud ya, aku akan melayani Lud untuk menyalurkan nafsu sexnya sepuas-puasnya supaya tak kecewa kalau balik ke Jakarta.” Aku menjawab,
“Boleh saja, Lud malam ini Hwa biar melayani kamu supaya kamu bisa melampiaskan semua nafsu binatangmu padanya.”
“Memang sejak aku makan sate kambing, aku sudah minta supaya dia malam ini dan besok pagi melayani nafsu binatangku”, kata Lud.

Kemudian istriku minta tiduran, kepalanya di pangkuan Lud sedang pahanya di pangkuanku sambil tangannya memegang-megang penis Lud lalu digosokan ke pipinya dan diciuminya. Tangan Lud diletakkan di buah dada istriku sambil mengusap, meremas dan kadang menunduk untuk mengecup bibir istriku. Dia kalau mengecup sampai lama hingga istriku sampai sulit bernapas dan minta dilepas kecupannya. Sedang bagianku adalah mempermainkan clit-nya dan memasukkan jari tengahku ke dalam lubangnya dan penisku sambil digesek-gesek dengan betisnya. Lud kadang-kadang memeluk tubuh istriku dan kemudian menciumi pipi dan mengecup kening dan bibir istriku dan tangan istriku pun mengusap-usap dadanya yang berbulu itu.

Kemudian Lud berkata padaku, “An, sebenarnya aku sudah lama tiap kali bertemu dengan Hwa, aku kepingin menikmati tubuhnya dan malam ini jadi kenyataan. Untuk itu malam ini istrimu kupinjam untuk menemani tidur sebab aku akan melampiaskan seluruh nafsu binatangku pada Hwa dan penisku akan kusimpan dalam vaginanya sepanjang malam. Aku akan memberikan kenikmatan dan kepuasan yang tak terkira pada Hwa.”
“Boleh Lud, malam ini istriku biar melayanimu agar kamu benar-benar puas”, sahutku.
“Tapi kalau nanti malam Papi butuh ya Papi ikut masuk saja sebab Mami tetap akan melayani Papi juga malam ini, untuk itu nanti pintu kamarnya biar terbuka saja jadi Papi dapat lihat dan dapat masuk ikut juga”, kata istriku. Setelah itu Lud bertanya pada istriku,
“Apakah kamu sudah fit lagi untuk main?” Istriku menjawab,
“Aku selalu siap setiap saat untuk melayanimu dan Papi. Malam ini aku benar-benar sehat makin mendapat semprotan mani semakin sehat rasanya, sebab manimu tadi yang keluar hanya sedikit lainnya masih berada di dalam rasanya masih hangat di dalam perutku, Lud.” Setelah itu Lud berdiri sambil membopong istriku dibawa masuk ke kamar dan ditidurkannya. Lud memanggilku untuk menemani istriku dulu karena dia akan ke toilet dulu, kesempatan itu kupakai untuk mencium dan mengecup bibirnya dan mengulangi pesanku,
“Mi jangan lupa kalau maninya lud disemprotkan ke dalam mulut hati-hati jangan sampai tertelan dan jangan mau kalau penisnya dimasukkan ke dalam lubang anusmu!”
“Iya Pi, akan kuingat terus pesan Papi”, sahut istriku.
“Selamat menikmati penisnya Lud yang gede ya Mi, nanti Papi diberi ceritanya ya!” kataku. Saat itu Lud sudah balik masuk kamar dan aku duduk lagi di ruang TV sambil menonton juga mau menonton adegan permainan Lud dengan istriku karena pintu kamarnya terbuka.

Lud naik ke tempat tidur dengan posisi di atas istriku, kemudian dadanya yang penuh bulu digesek-gesekkan ke buah dada istriku sehingga istriku menggelinjang kegelian dan terus digesekkan ke bawah yaitu perut, dan vaginanya. Setelah itu Lud naik lagi lalu mulai menciumi kening hidung dan pipi dari istriku lalu mencium telinga istriku dengan mengeluarkan lidahnya untuk mengorek lubang telinga istriku sampai istriku meronta karena geli dan tangan istriku segera meraih penisnya yang selama ini menggelantung dan ujungnya menggesek-gesek paha istriku. Segera dipijit-pijitnya penis Lud dan kadang-kadang dikocok juga serta kantung buah pelirnya diremas-remas juga. Hal itu membuat Lud lebih ganas dia segera mencucupi puting buah dada istriku sambil tangannya meremas-remas buah dadanya dengan harapan ada air susu yang keluar.

Tapi walaupun buah dada istriku montok tak keluar air susunya kalau diperas. Penisnya dipermainkan oleh istriku tampak tegang dan panjang banget, lalu Lud mengambil posisi gaya 69, hingga mulutnya pas di vagina dan penisnya tepat di wajah istriku. Keduanya yang langsung beraksi, penisnya yang gede segera dijilati dan dilumat dengan lidah seluruh bagian kepalanya yang nampak gempel besar itu sambil batang penisnya dipijit terus oleh istriku dan dia terus mencucup clit dan lubang vagina istriku. Kurang lebih 10 menit adegan ini lalu gantian Lud yang tidur dan istriku yang duduk di atas penisnya tepat dengan vaginanya. Kepala penisnya dimasukkan ke dalam vagina istriku lalu mulai diputar pantatnya sehingga penisnya berputar dengan dipegang bibir vagina istriku sedang tangan Lud tetap meremas buah dada istriku.

Kira-kira sudah 10 menit lewat mani Lud tetap belum menyemprot dan istriku juga belum klimaks, lalu oleh istriku mulai digoyang naik turun pantatnya kadang-kadang pelan kadang-kadang cepat sehingga penisnya keluar masuk vagina seperti dikocok dengan vagina. Dengan posisi ini baru 5 menit istriku klimaks dan dia diam terduduk di atas penis Lud dengan vaginanya memijit penis. Setelah fit lagi digoyang lagi sampai klimaks lagi istriku. Akhirnya istriku menarik Lud untuk duduk dan istriku tetap duduk di penisnya dan kakinya diselonjorkan di antara tubuh Lud. Lalu Lud yang ganti menggoyangkan pantat istriku maju mundur sambil kadang-kadang istriku ditidurkan ke belakang dan Lud tetap mendekapnya. Dalam waktu 15 menit dengan posisi ini istriku sudah mengerang karena klimaks sampai 2 kali.

Puas dengan posisi ini ganti istriku ditelentangkan, lalu Lud menindih istriku setelah penisnya dimasukkan semuanya ke vagina istriku, lalu pantatnya digoyang memutar sehingga bulu kemaluannya menggesek clit dan seluruh vagina istriku dan penisnya memutar di dalam lubang vagina sehingga istriku menggelinjang lagi dengan tangannya menarik lepas sprei. Sedangkan mau mengerang sulit, karena bibirnya dikecup kuat-kuat oleh Lud. Yaah, menonton itu penisku jadi tegang terus sampai kemeng rasanya, dan adegan ini berjalan cukup lama sampai kira-kira 10 menit lebih. Dan dalam waktu 10 menit itu paling tidak istriku sudah mencapai klimaks sampai 2 kali. Setelah itu kakinya yang kekar itu keduanya ditumpangkan ke kedua kaki istriku yang ramping dan indah itu lalu pantatnya digoyangkan naik turun hingga penisnya ikut juga. Dengan posisi ini penisnya betul-betul kejepit dengan bibir vagina istriku sehingga gesekannya betul-betul terasa di vagina istriku sampai istriku berulang kali menelan air liurnya dan geleng-geleng kepala saat klimaks.

Lud minta ganti posisi lagi, sekarang dia agak mengangkat pantatnya dan ganti istriku yang harus menggoyangkan pantatnya memutar hingga penis Lud diputar dengan vagina istriku. Kira-kira 5 menit lewat masih belum lepas juga maninya, padahal kalau aku yang diputar penisnya oleh istriku 5 menit langsung muncrat maniku, akhirnya malah istriku sendiri yang klimaks lagi. “Aduuh Lud… aduh Lud…. nikmatnya luar biasa aku sudah tak kuat menahannya lagi semprotkan manimu Lud”, pinta istriku. Baru kemudian posisi istriku ditarik ke bawah sehingga pantatnya di pinggir kasur, kemudian Lud turun dan kaki istriku diminta mentang lebar-lebar dan diangkat tinggi lalu Lud menancapkan penisnya dari bawah dengan sedikit membungkuk agar tangannya bisa meremas buah dadanya.

Lalu mulailah ditembaknya vagina istriku dengan penisnya, pertama mulai pelan-pelan lalu tambah lama tambah keras dan cepat menembaknya sampai tiap kali ditekan pantat istriku terpental naik. Untuk itu terpaksa tangannya melepas buah dada istriku dan memegang pinggangnya supaya kalau ditembak keras vaginanya, pantatnya tak naik tapi penisnya yang deras menghunjam masuk menerobos sampai mulut rahim istriku. “Aduuh Lud… aduh Lud… nikmat banget penismu Lud, tapi aku tak kuat menahan nikmatnya Lud…, aku butuh manimu Lud dan penismu sudah makin hangat Lud”, teriak istriku. Akhirnya “Huuuuh”, desis Lud dan “Cruttt”, maninya muncrat, “Huuuh”, desis Lud lagi dan “Cruttt”, maninya muncrat lagi dan setiap kali maninya muncrat istriku mengerang, “aach… sseett!” Setelah itu Lud tengkurap di tubuh istriku, “Lud tubuhku hangat rasanya kena semprotan manimu”, kata istriku. Kemudian tubuh istriku diangkat naik dan Lud segera tidur di sebelahnya dengan memeluk istriku dan penisnya yang masih tegang itu dimasukkan lagi ke dalam vagina istriku dan kemudian kedua tubuh yang bugil itu diselimuti. Melihat itu walaupun penisku tegang aku tak ikut masuk sebab kupikir istriku capai apalagi vaginanya masih disumpal dengan penis Lud, jadi terpaksa aku masuk ke kamar dan tidur.

Suatu saat aku terbangun, karena terasa penisku dipijit-pijit dan ketika membuka mata ternyata istriku dengan masih dibopong di muka berpelukan oleh Lud tangan istriku memijit-mijit penisku. Ketika aku bangun, istriku bilang, “Ayo Pi jangan tidur saja Mami mau disemprot Mani lagi berdua berbarengan.” Eeeh, ternyata pikiranku tadi meleset, kukira istriku yang lemah lembut itu sudah capai tadi ternyata masih ingin dikerjain berdua lagi. Aku lihat ternyata vagina istriku tetap didongkrak dengan penis Lud, jam saat itu sudah jam 1 tengah malam jadi aku sudah tidur dua jam. Kemudian istriku ditidurkan di bawahku dan langsung Lud mulai menembak vagina istriku dengan penisnya yang gede itu dan aku terpaksa bangun mendekatkan penisku ke mulut istriku untuk dihisap. Penisku terus dijilati disedot lubangnya sambil kantong penisku diremas-remas dan rambut bawah kantong penisku ditarik-tarik juga pinggiran lubang anusku dielus-elus dengan jarinya hingga aku terus bernafsu dan tegang lagi.

Memang kalau kita main bertiga ini tambah terangsang demikian juga Lud yang menembakkan penisnya semakin seru dan nafasnya mulai ngos-ngosan dan crot… crot… crot, maninya muncrat ke dalam vagina istriku, kulihat itu tak tahan juga langsung maniku kulepaskan juga dan memenuhi mulut istriku dan setelah ditelan mulutnya dibuka ditunjukan padaku kalau maniku sudah habis masuk. Dan Lud pun lalu menelungkup di atas istriku untuk istirahat, tapi mulutnya masih sempat menghisap-hisap pentil istriku. Lalu dia bilang,
“Waah Pi, mani Lud rupanya masuk terus ke dalam rahimku sebab tiap nyemprot tak pernah keluar lagi, apa karena vaginaku disumpal terus dengan penisnya Lud ya Pi? sebab biasanya kalau punya Papi paling 1 jam sudah mengalir keluar lagi walaupun nyemprotnya keras banget.” Belum sempat kujawab, Lud bilang,
“Gila, istrimu itu minta disumpal terus vaginanya, pokoknya penisku malam ini tak boleh lepas dari vaginanya.”
“Nggak Pi, Lud yang minta dulu supaya penisnya dipendam semalam suntuk dalam vaginaku, dan aku setuju”, jawab istriku.

“Penisnya terasa hangat terus di vaginaku, dan kalau mulai tegang terasa mulai goyang-goyang dan semakin keras yang menyodok-nyodoknya Pi, kalau tidur walaupun sudah tidur pula penisnya tetapi kepala penisnya tetap nyantol di bibir vaginaku jadi tak mau lepas seperti Papi punya biasanya lepas sendiri kalau tidur.” kata istriku. Setelah fit kembali istriku dibopong lagi dengan masih disodok vaginanya dengan penisnya dan dibawa balik ke kamar depan dan aku pun tertidur lagi karena mengantuk. Seperti biasa aku selalu bangun jam 4.30 pagi selain kebiasaan kadang-kadang penisku tegang sendiri jam-jam itu. Pagi itu penisku juga tegang lalu aku bangun dengan maksud mau naiki istriku, kumasuk ke kamarnya ternyata istriku masih tidur berpelukan dengan Lud dengan tubuh diselimuti. Aku mencoba mendekati kepala istriku dan kubelai-belai pipinya dan istriku terbangun.
Aku bilang, “Penisku tegang nih, yo tak semprotkan ke vaginamu.”
Istriku berbisik, “Aduuuh Pi, penis Lud masih menancap terus dalam vaginaku kalau tak ditarik tak bisa lepas sebab nyantol kepalanya, Papie tak hisap saja ya penisnya?”
“Oke”, sahutku.
Lalu istriku menengadah dan kudekatkan penisku supaya bisa masuk ke mulutnya, lalu kukocok sendiri penisku dan kugosok-gosokkan kepalanya ke bibirnya dan kadang-kadang kumasukkan dalam-dalam ke mulutnya. Karena sudah cukup lama tegangnya tak lama hanya 5 menit maniku sudah muncrat lagi ke dalam mulut istriku dan kemudian seluruh bagian kepala penisku dijilati untuk membersihkan maniku dan setelah itu baru ditelan semua maniku. Aku bertanya,
“Mami tidak nelan maninya Lud toch dan tak dimasuki lubang anusnya juga ya?”
“Tidak Pi, semua maninya Lud masuk ke dalam vaginaku dan sampai sekarang belum keluar sehingga rasanya ada sesuatu barang dalam perut yang hangat! Lalu Lud hanya mencabut penisnya kalau minta dihisap setelah itu dimasukkan kembali ke vaginaku”, jawab istriku.

Kukecup bibirnya dan kubisiki, “Baik-baik ya Mi, semoga dapat kenikmatan lagi!” Lalu aku keluar kamar dan tiduran lagi. Aku terbangun lagi pukul 6 pagi langsung kupergi mandi dan kemudian duduk di sofa menonton TV. Ternyata istriku baru saja diajak bersetubuh lagi oleh Lud, karena baru saja berada di atas istriku kemudian tidur lagi dengan berangkulan lagi. Karena bosan lihat TV lalu kupergi keluar untuk lihat pemadangan alam dan jalan-jalan di taman. Kira-kira sejam kemudian aku balik ke motel dan kulihat kamarnya sudah kosong, rupanya mereka mandi berdua. Aku masuk ke kamar dan melihat di tempat tidur ada gelang karet berbulu yang dipakai dan ada cincin dari bulu buntut kuda. Aku nonton TV lagi, rupanya lama sekali mereka mandi. Kucoba mendekat ke pintu kamar mandi dan menempelkan kupingku di pintu, oh ternyata mereka main lagi dalam kamar mandi sebab terdengar rintihan istriku, “Aduuuh Lud… aduuh Lud… enaknya penismu Lud, nikmat banget Lud rasanya.” Kemudian suaranya Lud, “aach… Hwa, vaginamu juga nikmat, aku kangen terus dengan vagina dan payudaramu yang kenyal ini Hwa!”

Aku balik nonton TV lagi jadinya, kira-kira 30 menit lagi mereka keluar dari kamar mandi dengan masing-masing berbalut handuk tubuhnya dan sekarang sudah pisah tidak nyantol lagi penisnya di vagina istriku. Mereka masuk ke kamar dan ganti pakaian, kulihat istriku pakai celana dalam mini warna merah dan pakai bra mini warna merah juga, lalu pakai rok bawah mini hitam dan kaos strip hitam putih tapi pendek jadi hanya sampai bawah bra saja, jadi perutnya yang langsing putih agak kelihatan dari luar. Melihat istriku pakai kaos agak ketat, Lud bilang, “Hwa, kamu jangan pakai bra saja lebih bagus karena kaosmu ketat.” Istriku pertama menolak, “aah katanya mau keluar makan dan nanti mau pulang segala nggak enak kalau tak pakai BH.” Lud bilang, “Kita kan hanya makan di restoran sini saja sebelum pulang, sebab nanti aku masih mau main lagi Hwa.” Jadi terpaksa istriku menurut dengan melepas lagi BH mininya. Eeeehh, ternyata betul juga pendapat Lud, sebab tanpa BH pun ternyata buah dada istriku tetap tegak menantang hanya bedanya putingnya agak nampak jelas dari kaosnya dan kalau jalan kelihatan sedikit bergoyang-goyang buah dadanya.

Setelah semua siap kami pergi makan ke restoran hotel pukul 8.15, di sana kita lihat ada 2 pasangan lagi rupanya juga bermalam di hotel itu sebab yang cewek ada yang masih pakai pakaian tidur segala. Selesai makan kita jalan-jalan di taman sebentar sambil ngobrol-ngobrol lalu balik ke motel dan duduk untuk nonton TV. Baru beberapa menit perutku terasa sakit, terpaksa aku ke kamar mandi untuk buang air besar. Selesai buang air besar aku mau menonton TV lagi, ternyata mereka berdua sudah tak ada dan masuk ke kamar lagi. Aku melihat istriku sudah tak mengenakan kaos lagi tapi sedang memakai BH mininya, sedang Lud sedang melepas celana dan kemudian bajunya lalu dia menarik istriku dan ditidurkannya ke ranjang lalu ditindihnya lagi istriku, yaah rupanya mau main lagi mereka. Ternyata benar, rok mini istriku dilepas lalu CD mininya disingkap ke pinggir pangkal paha lalu penisnya dikeluarkan dari CD-nya dan dimasukkan ke vaginanya istriku. Jadi Lud main dengan masih pakai CD dan istriku pakai BH dan CD mini. Karena branya mini, otomatis payudara istriku mencuat keluar ketika terkena remasan tangan Lud sambil pantatnya terus menggenjot naik turun dengan cepatnya. Kira-kira hampir 10 menit terdengar istriku berteriak, “Aduuuh Lud, hangatnya manimu, lepaskan semua manimu Lud!” karena sebelumnya istriku cuma mendesis terus kenikmatan. Nampak sesaat lagi Lud jatuh menelungkup di atas istriku.

Karena sudah hampir jam 10 kubangunkan mereka, sebab Lud harus berangkat pulang dengan pesawat jam 11.00. Kuselesaikan semua rekening hotel sementara mereka berpakaian lagi. Kita langsung menuju airport tepat sampai airport pk 10.30. Lalu kita ngomong sebentar dan Lud usul, “Kalau lain kali kita main berempat dengan istriku, bagaimana?” Pertama istriku keberatan sebab aku tak boleh main dengan wanita lain. Tapi Lud menjelaskan kalau wanita itu adalah keponakannya sendiri yang kerja jadi sekretarinya dan kadang-kadang melayani tamu-tamunya yang membutuhkan hiburan. Jadi pasti bersih dan usianya masih muda baru 19 tahun, cukup seksi hanya buah dadanya agak sedikit lebih kecil dari istriku. Kalau istri dia pasti kurang ramai karena agak kerempeng dan tidak ceria, jadi aku dikhawatirkan tak bisa tegang. “Jadi bisa ramai Hwa, kita main 2 pasang dalam satu kamar pasti hot”, kata Lud.

Akhirnya istriku setuju kapan-kapan main berempat, tiba-tiba istriku pergi lari-lari ke kamar mandi. Setelah pulang dari kamar mandi, aku bertanya, “Ada apa?” Dia menjawab sambil menunjukkan CD mininya yang digenggam. “Waah, maninya Lud mulai keluar, CD-ku sampai basah dan lengket jadi tak nikmat dipakai. Mungkin rokku juga basah belakangnya.” Ternyata betul bagian bawah vaginanya basah, karena Lud sudah hampir check in lalu kami berdua langsung pamit pulang dulu setelah dikecup bibirnya oleh Lud. Kami segera menuju mobil dan jok tempat istriku duduk dilembari dengan kertas koran, hampir sampai di rumah istriku mengeluh lagi, “Aduh Pi, maninya keluar lagi rasanya basah dan lengket semua pahaku. Cepat dikit Pi!” Kukebut terus dan sampai di rumah mobil kuparkir di tepi jalan dan istriku turun lalu menekan bel, setelah dibuka oleh pembantuku dan segera istriku masuk ke kamar utama kita dan masuk ke kamar mandi dalam tanpa ditutup pintunya. Karena anakku sedang tidur di kamarnya, aku langsung masuk ke kamar utamaku, kulihat istriku lagi melepas rok mininya lalu duduk di closet.

Melihat aku datang, istriku bilang, “Papi sini lho, lihat Pi pahaku kena cendol maninya Lud dan itu keluar terus banyak.” Kulihat paha istriku dan bulu kemaluannya basah kena mani dan dari lubang vaginanya keluar jatuh mani Lud yang seperti cendol itu. Melihat itu aku malah jadi nafsu, penisku jadi tegang, terpaksa aku melepas semua pakaianku. “Papi pasti tegang toch kalau lihat vaginaku belepotan mani begini”, kata istriku sambil mulai memegang penisku. Lalu kutarik lepas kaos istriku. “BH-nya jangan dulu ya supaya Papi lebih terangsang kalau Papi mainan payudara Mami!” kata istriku. Istriku bilang kalau tadi malam sampai pagi tadi dia disemprot mani Lud sampai 7 kali, yaitu jam 8 malam saat bareng dengan saya, jam 11 malam saat main saya nonton TV, jam 1 tengah malam waktu main di kamar saya, jam 3 fajar waktu penis Lud tegang sendiri, jam 6 pagi sehabis saya nyemprot ke mulutnya, jam 8 pagi saat di dalam kamar mandi dan jam 10 pagi waktu mau pulang. “Hebatnya Lud itu sejak dari awal sampai yang terakhir semprotannya keras terus dan kental serta hangatnya dan banyaknya sama, maka dari itu rasanya penuh dalam perutku tadi sampai suatu saat kutekan perutku dan mulai keluar terus maninya”, kata istriku. “Mi, kalau sudah habis cuci dulu vaginanya, aku sudah nggak tahan nih.”

Istriku buru-buru mencucinya dan mengeringkan dengan handuk, lalu kuangkat dia dan kuletakkan di atas tempat tidur. Tanpa tunggu macam-macam aku segera menaiki istriku dan kutancapkan penisku ke vaginanya. “Wah Mi, vaginamu masih seret juga buat penisku, kukira jadi longgar kemasukkan penis gedenya Lud”, kataku. Istriku lalu cerita, “Waktu penis Lud ditanam semalam suntuk dalam vaginaku, begitu mulai kurang tegangnya vaginaku kumulai renggangkan sehingga sampai kepalanya saja yang nyantol di bibir vaginaku dengan maksud supaya jangan sampai longgar liangnya. Apalagi Lud selalu pakai cincin bulu kuda itu kalau di dalam banget geli rasanya kalau goyang sedikit, kalau di luar kurang geli sebab yang kena cuma bibir vagina saja. Kalau mainnya Papi dan Lud sama saja, hanya Lud kalau sudah nafsu banget agak kasar mainnya, lain dengan Papi tetap semangat tapi mesra. Hanya Papi punya kalah besar dan panjangnya saja, tapi Mami mau belikan alat yang bisa buat memperbesar dan memperpanjang penis, tiap pagi nanti Mami yang melakukannya supaya punya Papi bisa jadi panjang dan besar. Memang saat Lud mau menyemprot, Mami selalu tekan pantat Mami ke atas supaya penisnya bisa amblas masuk semua sebab kalau nyemprotnya di dalam rasanya hangat, nikmat dan nikmat. Papi punya kalau nyemprotnya keras dan kebetulan maninya agak encer juga bisa langsung kena mulut rahimku jadi hangatnya nikmat Pi.”

“Pi ini lho selain leher buah dadaku juga dicupang oleh Lud, tapi nanti Mami gosok dengan minyak kayu putih supaya cepat hilang”, kata istiku sambil melihatkan buah dadanya yang dicupang.

Mendengar cerita istriku itu aku semakin menggebu mengangkat turunnya pantat dan segera hak BH istriku yang terletak di bagian depan itu kubuka hingga buah dadanya yang semakin kencang itu tak tertutup lagi yang sebelah kuremas dan yang sebelah kukecupi dan kugigit-gigit putingnya. “Aduuh Pi, nikmat banget Pi, aku sudah kangen dengan penisnya Papi sejak Papi minta tadi malam, masih seret ya Pi, aku masih merasakan seret gesekan penisnya Papi. Pi mau keluar ya? kok sudah anget banget penisnya?” tanya istriku. Benar juga tak lama lagi creeett…. creeettt, maniku menyemprot. “Waah… maninya Papi nyemprot ke dalam, sebab semprotannya keras tapi agak encer. Bisa jadi satu dengan Lud punya nih!” kata istriku. Karena capai kami berdua tiduran tapi akhirnya tertidur juga.

TAMAT

Birahi Anna dan Jeritan Kenikmatannya

April 29, 2009 pukul 8:34 am | Ditulis dalam Cerita Dewasa, Pesta Seks | Tinggalkan komentar

Anna dan Dicky menyiapkan jamuan makan mewah, sebab masakan yang dipesan dari salah satu restoran mahal di bilangan Jakarta ini. Dengan mengenakan celana panjang coklat tua dan kaos berleher berwarna coklat muda, aku tiba di rumah mereka pukul 18 dan melihat Sinta telah ada di sana. Dicky mengenakan celana panjang hitam dan hem biru muda bertangan pendek. Anna mengenakan gaun warna biru muda, seperti warna hem suaminya, agak ketat membungkus tubuhnya yang seksi, gaun itu tergantung di pundaknya pada dua utas tali, sehingga memperlihatkan sebagian payudaranya. Sinta tak ubahnya seorang putri, memakai gaun berwarna merah muda, ketat menampilkan lekuk-lekuk tubuhnya yang menggairahkan, juga dengan belahan dada agak rendah dengan potongan setengah lingkaran. Keduanya seolah-olah ingin menunjukkan keindahan payudaranya di depanku dan Dicky untuk menyatakan payudara siapa yang paling indah. Payudara kedua perempuan itu memang tidak terlalu besar, tetapi cukup merangsang buatku. Milik Anna lebih kecil sedikit daripada milik Sinta. Hal itu sudah kubuktikan sendiri ketika mencoba menelan payudara keduanya. Payudara Sinta masih tersisa lebih banyak daripada payudara Anna, waktu kuisap sebanyak-banyaknya ke dalam mulutku.

Kami berempat duduk di ruang makan menikmati jamuan yang disediakan tuan rumah. Hidangan penutup dan buah-buahan segar membuat kami sangat menikmati jamuan tersebut.

Dari ruang makan, kami beranjak ke ruang keluarga. Anna menyetel musik klasik, sedangkan Dicky mengambil minuman bagi kami, ia menuangkan tequila buat Anna dan Sinta, sedangkan untuknya dan aku, masing-masing segelas anggur Prancis, agak keras kurasa alkoholnya. Rona merah membayang pada wajah mereka bertiga, dan kupikir demikian juga denganku, akibat pengaruh minuman yang kami teguk. Percakapan kami yang semula ringan-ringan di seputar kerja dan kuliah Sinta makin beralih pada hal-hal erotis, apalagi waktu Anna melihat ke arahku dan berkata, “Wah, pengaruh anggur Prancis sudah membangunkan makhluk hidup di paha Agus. Lihat nggak tuh Sin?” Sinta menengok ke bagian bawah tubuhku dan membandingkan dengan Dicky, “Lho, yang satu ini pun sudah mulai bangkit dari kubur, hi… hi….hi…”

Sinta yang duduk di dekatku menyenderkan kepalanya pada bahu kananku. Anna mengajak suaminya berdiri dan berdansa mengikuti irama lagu The Blue Danube-nya Strauss. Entah pernah kursus atau karena pernah di luar negeri, mereka berdua benar-benar ahli melakukan dansa. Setelah lagu tersebut berlalu, terdengar alunan Liebestraum. Dicky melepaskan pelukannya pada pinggang Anna dan mendekati Sinta, lalu dengan gaya seorang pangeran, meminta kesediaan Sinta menggantikan Anna menemaninya melantai, sementara Anna mendekatiku.


buy generic soma without prescription
keywords cialis levitra vs
prevent hair loss information propecia
buy paxil on line
dreampharmaceuticals levitra online
viagra purchase uk
forest laboratories litigation celexa washington
viagra woman work
effexor xr drug facts
cialis drug online prescription soma
cialis interaction aspirin
cheap drug levitra prilosec propecia
buying online soma
tramadol dod drug tests
women takes viagra
online propecia from dreampharmaceuticals
viagra 50mg online
100 mg viagra price
levaquin pharmacology
cheap cialis for you
medications to treat depression lexapro
prescription ultram er
health side effects cialis
ultram online now
effexor experience personal xr
wellbutrin sr alcohol
vardenafil hcl levitra
buy cheap zoloft
bad side effects of ultram
herbal online viagra viagra
side effects to taking viagra
generic medications zoloft
where to buy viagra uk
starting wellbutrin sr
what is the generic for lipitor
levitra third quarter 2004 sales
drug information tramadol
super generic viagra silagra
soma drug tes
buy casodex online shops
viagra st cialis st viagra cialis
does generic viagra really exist
acne treatment accutane medicine
machaca natural viagra
drug ultram er 200 mg
cheapest viagra world
women libido cialis
celexa side affect online qoclick
drug test tramadol
viagra nation times online
effects of soma pills
levitra shop buy
viagra patent last
celebrex celecoxib anti inflammatory buy without
people who use viagra
pied piper of prozac acolyte
effexor xr and study
carisoprodol watson soma
topamax and binge eating disorder
6 increased hair loss after propecia
inhaled steroids and singulair
allegra d refund
buy line viagra
online shop viagra
discount celexa online
symtons from effexor xr
viagra in india
lipitor and asthma medication
generic rx for nexium
viagra cialis espa ol
serotonin syndrome frova effexor xr
450 mg wellbutrin sr a day
take health insurance paxil online prescription
cheap tramadol buy online
viagra free gratis
tadalafil cialis apcalis regalis
new levitra
viagra levitra dosage
taking viagra with cialis
cialis jokes
boards generic name online qoclick tramadol
order pravachol online dream pharmaceutical
buy prozac with out a prescription
best online soma buy tramadol now
viagra viagra edinburgh pages search generic
viagra on line no prescripton
cure for propecia side effecrs
what is the price of viagra
online pharmacy for hgh
taking old viagra symptoms
augmenting remeron with prozac
levitra tablets
what is the alternative to viagra
cheap drug generic tramadol zyrtec
ultram 50mg with methadone 10mg
find viagra free charles edinburgh
illegal uses of lexapro
tadalafil and proscar propecia success
about viagra pill
buy prescription soma without
drugs like celebrex
tramadol saturday delivery no prescription
cheap keyword tramadol
which state shares viagra
buying viagra in the uk
lexapro sensory deficit
carisoprodol and soma at huge savings
effexor xr and suicide
can i make generic viagra
cheap cialis pharmacy online
identify real cialis
order imitrex oral online dream pharmaceutical
effexor xr side effect relief
lyrica medication with ultram seizures
generic equivalent for lipitor
overnight express delivery generic cialis
inventor prozac
tramadol overnight cash on delivery
cheapest viagra uk
difference between viagra and levitra
viagra inventor’s men of kent
no prior prescription tramadol
viagra levitra increase pleasure
levitra levitra vasculitis
ultram er tablets
generic online order viagra
viagra viagra find ago edinburgh hours
cheapest viagra online plus zenegra
viagra sales in uk
cipro online ups
generic viagra and generic soma
drug interaction between tramadol and ibuprofen
ultram order prescription
acne pills accutane
effectiveness of generic brands of prozac
generic cialis pills tadalafil
buying free sale viagra
does sertraline hcl generic zoloft work
tramadol and cod
opinion of prozac
buy imitrex buy imitrex
cialis levitra better
lipitor generic sale
withdrawal from tramadol in canines
where to buy prozac
aura soma karten online
problems levitra flomax
buying cheap viagra
buy cialis tadalafil at horizon drugs
cheapest generic viagra caverta veega
actos drugs
levaquin and coumadin
ultram prescription dosage
what is effexor xr
generic equivalent to zoloft
zovirax cream is there a generic
cialis peak
1order cialis online
medications leg pain neurontin lyrica
order accutane
order the drug zyban
cheap viagra pill
tramadol no rx visa onlt
generic form of lexapro
cheap generic pill ultram ultram zyrtec
viagra party drug
5 90 pill ultram
wellbutrin sr bupropion hcl sr
online prescription for cialis
generic viagra contains sildenafil citrate
soma drug interactions
soma online free fedex
1 buying ultram
joint pain zoloft withdrawal
generic generic cialis pills
effexor xr warnings
generic viagra drugstore india
paxil online pharmacy
wellbutrin zyban bupropion side
viagra pills cheap
back lipitor lower pain symptom
norvasc and erectile dysfunction
6buy generic levitra
ultram product information
pfizer viagra cheap
levitra sales third quarter 2004
what does viagra pill look like
soma slim
site sr wellbutrin
buy nexium in canada
line pharmacy propecia
chemical supplier tramadol hcl
generic drug for dilantin
photo or picture of tramadol pill
tramadol ketorolaco side effects
viagra without presciption online
woman taking levitra
cialis and muscel cramps
medication called tramadol 50mgs tablet s
buy online propecia
college pharmacy pre tramadol
2 levitra vardenafil
ebay bidding buy viagra
cheap quality viagra
cialis canadian generic
viagra online miscellaneous
mail order viagra online
ultram is it a good drug
generic drug for depakote
mixing viagra and cialis
1 cialis tadalafil jpg
angeles lawyer los paxil
cialis uses
viagra other use
viagra buy it online now
viagra herbal singapore legal
levitra 2007 sales
lowest prices tramadol
viagra dosage for fsad
prescription frr cialis
buy cialis online pharmacy
canada free sample viagra
ultram drug classification
keyword online soma
buy sale viagra
buy hydrocodone tramadol free online consultation
cheap cheap deal pill viagra viagra
cialis rx online
topamax online prescription
name viagra
personal review cialis
gary null’s viagra
tramadol cod sisters pharmacy
effexor xr ulcers
cheapest nexium online
tramadol wellbutrin retin-a cheap ultram
maid order viagra
effexor xr sexual
what is the generic for cipro
generic tramadol 377
viagra suicide
buying viagra on weekends
car insurance lawsuit celebrex
levitra online us
buy topamax phentermine
equivalent herbal viagra
levitra uk
lamisil tablets in mexico
osteoporosis evista actonel
generic cialis pills free trial
clomid causing sids
buy rimonabant cod
budeprion sr vs wellbutrin
pfizer drug viagra
cialis home
bayer cialis
tramadol hcl breastfeeding
buspar prescription drug
levitra playboy college party
celebrex medication side effects
acetaminophen per tramadol hcl
effexor xr reviewed
order viagra online in wisconsin
online pharmacy cost levitra
generic cialis lowest price discount cheapest
prices viagra
clomid successes
effexor xr rash
viagra propecia propecia xenical xenical celebrex
drug abuse soma
viagra alternitives
discount prozac online
viagra pages edinburgh search free forum
paxil pharmacy online
tramadol hci effects depression
tramadol acetaminophen hcl
viagra and gastroparesis
drug like viagra
best cheap viagra viagra viagra
viagra sample 25mg
women’s natural viagra
generic cialis pills drug
632 online levitra tablet 911
loss ultram weight
is there a generic nexium
medication neurontin depression
viagra search edinburgh ago hours
lipitor the drug
buying cheap viagra viagra
form generic order print viagra
effexor 75 xr dexedrine
pharmacy portland oregon viagra
generic cialis $1.00 per pill
keyword viagra sale
cirrhosis frequency levitra
buying cialis online guide
buy tramadol online cheap
2cialis levitra sales viagra
viagra xanax phentermine online pharmacy carisoprodol
geneic cheapest cialis
imitrex sale discount
cialis online free overnight delivery
generic uk viagra
tramadol 50mg potentcy equivilant
express delivery viagra
prevacid definition online
herbal phentermine discontinued
discount ultram generic
viagra fact
viagra ans levitra risk
pregnancy and effexor xr
ultram 377 oblong tablet
better more effective cialis or viagra
effexor xr positive experiences only
effexor xr and roserem
generic name for cipro
discount pharmacy prilosec
buy tramadol online pharmacy online
ultram 50 mg euphoric effects
buy levitra on sale online
tramadol 300ct 50mg
viagra sample overnight
tramadol no prescription with ups shipping
cialis softtabs online
celebrex online buy
discount adidas soma shoes
viagra in mexico cabos san lucas
network health plan paxil
tramadol side effects canine
adipex-p interactions with prozac
online prescription soma
best free herbal viagra viagra viagra
importing cialis from canada to us
soma online prescription us
222 pill viagra
tramadol 180 tablet
we to buy viagra online
levitra 20mg
online viagra order
diet pills zantac
description of viagra pill
tramadol images
buy tramadol ultram
rxlist viagra
2737 aid levitra retin
best alternative for viagra
allegra discount pharmacy purchase
cialis drug approved
guaranteed lowest price tramadol
buy tramadol 300 tabs
dangers of generic cialis pills
withdrawl symptoms ultram
knee joint pain and lipitor
viagro cialis holland
is buying propecia online legal
buy can reply viagra
purchase altace online rolipram pharmacy
cialis genuinerx net viagra viagra viagra
harmful side effects from viagra
viagra buy viagra online pharmacy bookmarks
best buy on protonix
herbal equivalent of viagra
effexor xr ingredients
prescription drugs casodex online
neil miller and viagra and research
phot os of generic zoloft
cheap zithromax
mail order and viagra
malpractice levaquin lawyer nc
viagra pc100
from uk viagra
discount nexium rx
celebrex drug prices canada
lexapro and painful ejaculation
prescription price propecia
ultram 50mg buy
viagra bicycle shirt
wellbutrin sr bupropion rhode island
information on the drug ultram
splitting generic zoloft pills half
internet pharmacy tramadol
can viagra be split in half
tapering off effexor xr
effexor xr and testimonials
tramadol hydrochloride capsule 50mg
when is viagra generic
herbal iv viagra
mail online order propecia
by money order viagra
lexapro joint pain
lipitor side effects joint pain
generic viagra today atlanta
aura soma courses usa
effexor xr interaction with allegra
lexapro diet
medical report on taking soma pills
viagra for sale australia
non prescription viagra online
viagra instructions for use
buy namebrand tramadol
buy tramadol no rx
canadian drugs cialis
cialis and levitra viagra made site
110mg viagra
day next online prescription2c propecia
chinese cialis
effects viagra 200mg
buy 100 mg viagra
viagra pill color
levitra generic price
ultram buy
buy viagra assist cheap cialis
buy effexor xr online
info ultram
purchase imitrex on the net
purchase 100mg tramadol online
paxil lawsuit generic
generic quality and viagra
herbal herbal pill sale viagra viagra
cialis br
non prescription cialis pills
information on medicine tramadol
lipitor arthritis
best buy viagra uk
generic viagra 0d 0a
viagra prescription houston
levitra and cialis and viagra
celexa erectile dysfunction
ultram negative side effects
imitrex pain relief
buying cialis review
negative reports on zyrtec
diflucan prescription drug
cialis cut the pill
viagra detials
buy cod tramadol ultram
zoloft and pain medication
viagra falls movie pics
order zovirax online rx pharmaceutical
buy soma with out prescription
suhagra generic viagra is good
purchase pravachol pharmacy online
fosamax evista both
viagara cialis
lowest priced viagra in the uk
safe for females to use viagra
wellbutrin sr dosages
wellbutrin sr bupropion indiana
ataxia es buy tramadol
generic viagra for sale on line
buy prozac no prescription
cipro amoxicillin
accutane and joint pain
order tramadol c o d
nasacort aq flonase levitra prescription drugs
switching from lexapro to wellbutrin
purchase flomax pharmacy rx on line
neurontin medication nerve pain
best buy online sale viagra viagra
viagra online
100 mg viagra from canada pharmacy
sleep hyperhydrosis and effexor xr
180 cheap tramadol
citrate generic sildenafil viagra php
cheap evista online cheap
mixing effexor xr and cocaine
changing medication depakote lithium prozac
google groups order viagra online
tramadol cheapest online
simvastatin lipitor exchange
viagra cialis differences
buy deal herbal viagra viagra
seap debt counseling prozac
viagra web site
effexor xr induced dyspepsia
questions and answers for cialis tadalafil
caverta cialis viagra tadalis
splitting viagra pills
effect of viagra on female
tramadol overnight delivery online prescription
celebrex drug pharmacy online
3 buy generic viagra online
ordering viagra online
clomid for bodybuilding
back hytrin pain zocor
generic prescriptions for lipitor
cialis pills users
generic prozac 40mg
when will generic lexapro be available
augmentin discount
interaction lumin effexor
viagra by mail order
on-line doctors viagra
viagra mg pharmacy online
herbs like viagra
buy imitrex at universal drugstore
pharmaceutical side effects viagra
buy cheap ultram now
search viagra find cheap pages
buy premarin
when will lexapro go generic
too small dose cialis
buy tramadol cash on delivery
online tramadol cod
cod tramadol money orders
denavir levitra
discount generic lipitor
online pharmacy prilosec
generic cialis pills cheap
viagra cialis levitra free
genf hgh online pharmacy
buy tramadol and xenical at jagtek
pain management in dogs ultram dosage
debt negotiation buy tramadol
effexor xr arthralgia
cod soma overnight
cialis and levitra viagra medications internet
order clomid
cheap drug renova ultram zyrtec
nexium and foot cramps
other names for prozac
direct loan buy soma
celebrex with other drugs
zocor diabetes
buy ultram no prescription
cialis absorption
1 discount tramadol
lexapro prozac boards shop qoclick
cialis buy generic
find viagra free charles linskaill
natural viagra uk
elavil and pain management
cheap prices on propecia
order ultram in united states
levitra breast augmentation scottsdale
diflucan pharmacy online
zyban weight loss claims
pharmacy group propecia cheap
minimum effective dosage of viagra
lipitor and diabetes
cheap nexium free consultation
effexor lawsuti
4 20mg generic cialis softtabs free
cheap pharmacy u s ultram zithromax
effexor diabetes
magazine sp cialis
buy cheap p viagra
premium generic viagra
purchase nexium
cardinal health tramadol on line
iowa city’s tornado cialis
ultram long term
viagra alternate
find buy cheap viagra search generic
cat health cheap tramadol
viagra delivered from uk pharmacy
drugs similiar to viagra
buy imitrex injectable
effexor xr an cocaine use
board cialis discount image message optional
cialis online order
buy casodex online
cost levitra low
do wellbutrin and lexapro work together
viagra pages edinburgh find generic girl
kaiser permanente and tramadol
viagra napewno mi zagra
empiric chemotherapy with carboplatin and paxil
cialis internet online pharmacy prescription soma
what is the generic of lexapro
viagra overdose stories
buy viagra onlines
buy levitra online discount cheap pharmacy
viagra new zealand free sample
levitra boob flash
viagra price canada
cheap online levitra
levitra prescription online
is there generic viagra
name order cialis
tramadol cheap free overnight fedex
allegra accolate interactions
alcohol abuse and effexor
cialis canada generic
ucl order viagra
50mg generic viagra
viagra 100mg dosage
buy imitrex tablets
online prescription soma viagra zoloft
crestor and erectile dysfunction
rxlist cialis tadalafil
levitra vardenafil generic
nexium generic alternatives
a generic for lipitor
kaufen online viagra
viagra in monterey mexico pharmacia
cheap tramadol rss feed
effexor xr addiction
ambien online phentermine purchase soma
overnight cialis soft
soma price per pill
generic cialis pills doses
is mexican viagra real
trick viagra friends joke practical
tramadol image
versus wellbutrin zyban
cheapest viagra homepage
yerba diet pills
atorvastatin 10mg generic lipitor
zoloft and borderline personality disorder
effexor xr and diarrhea
generic cialis pill
ultram uses
wellbutrin sr bupropion pennsylvania
cheap prescription tramadol
fm soma carisoprodol as low as
uk viagra london
cialis tadafil order online
drug interactions tagamet synthroid celebrex
buy buspar on-line
soma 2410 watson
pain relief ultram
purchase zantac pharmacy online
wellbutrin sr bupropion alaska
edinburgh uk viagra search linskaill charles
buy cialis online overnight
online prescription tramadol
celexa href online net
viagra in usa
zoloft buy zoloft
tramadol order cod
cialis pills doses
viagra golf
lexapro percocet
paroxetine viagra
buy ultram cheaply
man health buy now tramadol
purchase diflucan online without prescription chea
order cialis now
drug interactions lipitor
cialis buy cialis generic cialis
viagra 2007 hmo california
lexapro dreams
tell me all about viagra
buy cheap cialis softtabs
viagra in neonates
puppy prozac
underground prescription cialis
best discount soma
difference levitra viagra
buy tramadol online no medical records
zithromax urinary
when did cipro go generic
buy viagra without prescription online pharmacy
cheapest cialis online
buy tramadol anonymously
celebrex and prostate cancer
first time viagra use
online celexa from dreampharmaceuticals
1 mg order propecia
lipitor generic alternatives
cod ultram
topamax for alcohol treatment
information on medication celebrex
weight loss with lamictal and lexapro
viagra cyallis
zantac 3 diet pill
generic drug for zyrtec
healthy herbal viagra
best levitra prices
uk viagra zenegra
order ultram carisoprodol
buy cialis onlinebuy cialis online
soma carisoprodol manufactured by mutual pharmaceuticals
poker sites that accept nexium financial
effexor xr and dyspepsia
buy now evista
celexa impotence pills
lowest price viagra check money order
trick viagra
herbal female viagra
is viagra a prescription drug
tramadol hcl medication
buy viagra 100mg
zithromax arthritis
viagra propecia pain relief headache
weight loss zyban
tramadol 50 mg tramadol
effexor xr conception
3.43 online order viagra
viagra buy generic
dosage tramadol
viagra over the counter mexico
efficacy of effexor xr
soma air purifiers
buy accutane without a perscription
buy zyban online guaranteed lowest prices
buying tramadol with paypal
online ordering tramadol carisoprodol
purchasing viagra in mexico
buy discount viagra viagra viagra
viagra prescribed females
mexican pharmacy and viagra
ultram 200mg er side effects
tramadol with no prescription
zoloft binge eating disorder
cheap viagra lowest prices online index
thailand pharmacy online diflucan
singulair prices and online pharmacy
discount prescriptions cialis tadalafil
celebrex pharmacy online
next day tramadol order
suppliers of viagra
buy cialis soft tabs
cialis sample free
dangers of taking lexapro and cocaine
azithromycin and motrin ok to mix
generic levitra tab 20mg
soma order carisoprodol
us drugs store cheap viagra
cheap ultram prescriptions
locked in syndrome and viagra
muscle relaxer drugs soma
ultram 059 order phentermine
4 generic cialis softtabs
buy levitra online from canada
nexium depletion
buying deal discount viagra
cialis 20 mg 10 pills
breakthrough treatment sildenafil viagra
ratings or rankings tadalafil generic viagra
best price for lipitor generic
infertility and clomid
levitra mg
day next ultram
tadalafil levitra generic viagra
cialis viagra levitra phorum view topic
mexican pharmacy nolvadex
ultram er tramadol hydrochloride
buy in spain viagra
tramadol cod free shipping
is cialis or levitra better
buy purchase viagra online confidential
online pharmacy propecia viagra
online prescription phentermine zyban valtrex
effexor xr insomnia
canada pharmacy macrobid zestril international pharmacy
soma 2b cod
diet pill lipitor
buy levitra online from dreampharmaceuticals
insomnia online prozac qoclick
buy zithromax 1g oral suspension pack
soma sleeping pill
edinburgh uk viagra find sites search
reduced dosage propecia
generic over sea viagra
lipitor drug side affects
klonopin prozac interaction
dizzy while getting off effexor xr
viagra risk
effectiveness of generic prozac
cheapest viagra on the internet
medication called tramadol
viagra drug class
information about viagra
purchase evista pharmacy online
viagra pharmacy sales londom
effexor and generic date
achetez le viagra de levitra
cheap tramadol free shipping
buy tramadol online overnight fedex delviery
2002 cialis daily discount mar statistics
medication costs aciphex
generic viagra rd
safe internet shopping generic viagra eng
ultram pills
bestellen levitra online
vaginal dryness from taking effexor
effectiveness viagra levitra cialis
viagra by the pill
generic drugs for zocor
tramadol pain management
seroquel and diet pills
edinburgh find search free viagra sites
phizer stock and viagra infertility
2000 cheap daily feb statistics viagra
tramadol side effects canines
penis on viagra
levitra free
effexor xr for panic disorder
1 cialis vardenafil
6finasteride proscar propecia
buy cialis on line uk
avandia actos warning
tramadol rx online
cheap tramadol online
buying ultram
female viagra new viagra for women
cialis legal online order
buy generic cialis online
online prescription ultram
herbal viagra viagra
search results generic online viagra
delaware caverta generic viagra veega
buy 300 tramadol cod
prescription or not viagra
generic cialis pills free sample
buspar or xanax
use ultram
viagra refill
purchase norvasc pharmacy rx on line
online viagra uk
tramadol 100 tablets
180 cheap saturday tramadol
lexapro loss weight wellbutrin
rx viagra insurance
generic sildenafil viagra
ultram er overnight
las vegas and imitrex zoloft
cheapest online cialis
pharmacy tech online tramadol on line
soma online physcian online
edinburgh uk viagra search cialis charles
buy prescription viagra
effexor xr panic disorder
0 herbal viagra
peripheral neuropathy after levaquin
high fsh clomid
discount for cialis
viagra price shopper
buy discount diflucan online
multiple erections on cialis
viagra impotence pill
cialis viagra levitra pump
ultram side effects mental
mexico and viagra
best price on viagra from canada
1 low cost cialis
viagra testosterone mail order
prescription for viagra in canada
viagra doesnt work
zithromax z-pack
cheap levitra uk
viagra best prices fda approved
effexor xr leaking breast
dosage for tramadol for recreational use
buy prozac without a prescription
evalutation of generic lipitor
levitra online consultation
metamucil effexor xr absorbtion
ultram not for sale
atacand and viagra
online tramadol shipping cod to florida
premarin weight loss
where to purchase viagra
cheap cod fre tramadol
generic and lexapro
viagra drug classification
buy viagra without prescription pharmacy online
buy prozac through the mail
cr loss paxil weight
buy lamisil online
viagra news edinburgh cfm moo tid
search results viagra price
aciphex and diabetes
where can i buy generic plavix
cialis mixing viagra
online prescription for levitra us
viagra generic sildenafil
side effects of tramadol hcl 50mg
get cheap cialis lowest prices
arthritis medication mobic etc
soma pill identification
generic drug for viagra
break cialis tablets
timed release pain medicine ultram
tramadol cheap overnight inexpensive
diflucan pharmacy
hydocodone amitriptyline cymbalta lyrica back pain
buy the movie prozac nation
discount online soma
buy cialis online on sale
tablet tramadol
viagra multiple acts
dj vadim viagra
buy nexium international pharmacy
viagra department of pharmacy services
cla weight loss pill
topamax and wellbutrin for weight loss
clomid and yeast
levitra on line ordering 50mg
dreampharmaceuticals online generic ultram
ultram medicine its side effects
lexapro theraputic dose
viagra online blue
telephone orders cialis
discount lexapro pharmacy purchase
ordering tramadol discreetly online
vicodin motrin valium
viagra non prescription deal sale
national health plan paxil
get viagra now
tadalafil versus generic viagra
lexapro side-effects help
pictures of generic tramadol
cheap get online prescription tramadol without
effexor xr for treating fibromyalgia
pravachol aciphex alphagan index php
viagra billboard
wellbutrin sr bupropion wyoming
citrate kamagra sildenafil
man health buy tramadol now
flomax rheumatoid arthritis
tramadol prescription to florida
where to buy zovirax
ultram ultram tramadol hci tablets
effexor xr 37.5mg sore lips
effexor xr rebate
celebrex warfarin
peripheral neuropathy treatment after levaquin forum
7 proscar vs propecia
buy viagra online at lowest price
cheap lexapro order
ultralow price viagra
dr peddy’s generic allegra
online order cipro hydrocodone
claritin online pharmacy
seap debt counseling tramadol drug
buy canada zyban
buy ultram online buy
accepted cod tramadol
levitra generic
effexor press release xr
best hair transplant propecia loss information
tramadol use in animals
vioxx viagra altace
cialis pharmacy paxil
purchase cialis a drug
effexor withdrawl xr
what is pill effexor xr
viagra cialis review
health hip plan paxil
wellbutrin sr overdose
buying viagra in ireland
female impulse viagra
problems with generic zoloft
viagra u s pharmacies
cialis prescription price and benefits
buy line viagra where
viagra uk cheap
wellbutrin sr bupropion arkansas
cod tramadol money orders online pharmacy
attractive levitra woman
buy in online usa viagra
best cialis prices
buy cialis by the pill
over the counter analgesics with tramadol
lisinopril 20mg without prescription best buy
female viagra use
viagra speedos videos
tramadol use in dogs
levaquin generic drug
buy prozac gt gt top results
taper lexapro
effexor xr weaning
generic for viagra fda approved medications
clearance drug soma time
cheap nexium rx
buying online propecia
buy online cialis
australia generic in levitra sales
levitra study
buy prozac florida
cheapest soma online no prescription generic
effexor xr and chronic fatigue
feminizing seeds by soma
allegra canada buy
viagra search sites find free
stacking clomid and arimidex steroids
3 canada generic in viagra
ultram prescribing information
buy norvasc cheap
ingredients in lexapro
cialis dysfunction erectile levitra viagra
rx online cialis
drug information prescription ultram
soma pills discription
lipitor versus generic
discount bulk viagra india
viagra generic drug
buy propecia online from dreampharmaceuticals
tramadol medicine online
levitra and cialis viagra
wellbutrin and weight loss paxil
ultram sr 200mg tablets
buy discount viagra
cheapist generic drug for remeron
weaning off effexor xr venlafaxine hcl
discount priced lipitor
effects of taking wellbutrin and lexapro

Aku yang tak begitu pandai berdansa menolak dan menarik tangan Anna agar duduk di sampingku memandang suaminya berdansa dengan keponakannya. Rupanya Sinta pun tidak jelek berdansa, meskipun tak sebagus Tantenya, ia mampu mengimbangi gerakan Dicky. Saat alunan lagu begitu syahdu, mereka berdua saling merapatkan tubuh, sehingga dada Dicky menekan payudara Sinta. Di tengah-tengah alunan lagu, wajah Dicky mendekati telinga Sinta dan dengan bibirnya, ia mengelus-elus rambut di samping telinga Sinta dan dengan kedua bibirnya sesekali cuping telinga Sinta ia belai. Tatapan Sinta semakin sayu mendapati dirinya dipeluk Dicky sambil dimesrai begitu. Lalu bibir Dicky turun ke dagu Sinta, menciumi lehernya. Kami dengar desahan Sinta keluar dari bibirnya yang separuh terbuka. Lalu ia dengan masih berada pada pelukan Dicky di pinggangnya, mengarahkan ciuman pada bibir Dicky. Mereka berpagutan sambil berpelukan erat, kedua tangan Dicky melingkari pinggul Sinta, sedangkan kedua tangan Sinta memeluk leher Dicky. Permainan lidah mereka pun turut mewarnai ciuman panas itu.

Dicky lalu membuka gaun Sinta hingga terbuka dan melewati kedua pundaknya jatuh ke lantai. Kini Sinta hanya mengenakan kutang dan celana dalam berwarna merah muda. Tangan Sinta ikut membalas gerakan Dicky dan membuka hemnya, kemudian kulihat jari-jarinya bergerak ke pinggang Dicky membukai ikat pinggang dan risleting celana Dicky. Maka terlepaslah celana Dicky, ia hanya tinggal memakai celana dalam. Lalu jari-jari Sinta bergerak ke belakang tubuhnya, membuka tali kutangnya, hingga menyembullah keluar kedua payudaranya yang sintal. Keduanya masih saling berpelukan, melantai dengan terus berciuman. Namun tangan keduanya tidak lagi tinggal diam, melainkan saling meraba, mengelus; bahkan tangan Dicky mulai mengelus-elus bagian depan celana dalam Sinta. Sinta mendesah mendapat perlakuan Dicky dan mengelus-elus penis Dicky dari luar celana dalamnya, lalu dengan suatu tarikan, ia melepaskan pembungkus penis tersebut sehingga penis Dicky terpampang jelas memperlihatkan kondisinya yang sudah terangsang. Dicky mengarahkan penisnya ke vagina Sinta dan melakukan tekanan berulang-ulang hingga Sinta semakin liar menggeliatkan pinggulnya, apalagi ciuman Dicky pada payudaranya semakin ganas, dengan isapan, remasan tangan dan pilinan lidahnya pada putingnya. Sinta terduduk ke karpet diikuti oleh Dicky yang kemudian meraih tubuh Sinta dan membaringkannya di sofa panjang. Dengan jari-jari membuka celah-celah celana dalam Sinta, mulutnya kemudian menciumi vagina Sinta. Erangan Sinta semakin meninggi berganti dengan rintihan. “Dick, ayo sayang ….. ooooohhhh …. Yahhh, gitu sayang, adddduhhhh … nikmat sekali ….. aaakkkhhhh …. ”

Setelah beberapa saat mengerjai vagina Sinta, Dicky berlutut dekat Sinta dengan kaki kanan bertelekan di lantai, sedangkan kaki kirinya naik ke atas sofa, ia arahkan penisnya ke vagina Sinta dari celah-celah celana dalam Sinta. Lalu perlahan-lahan ia masukkan penisnya ke vagina Sinta dan mulai melakukan tekanan, maju mundur, sehingga penisnya masuk keluar vagina Sinta.

Anna yang duduk di sebelah kiriku terangsang melihat Dicky dan Sinta, lalu mencium bibirku. Kubalas ciumannya dengan tak kalah hebat sambil mengusap-usap punggungnya yang terbuka. Anna memegangi kedua rahangku sambil menciumi seluruh wajahku, lidahnya bermain di sana-sini, membuat birahiku semakin naik, apalagi ketika lidahnya turun ke leherku dan dibantu tangannya berusaha membuka kaosku. Kuhentikan gerakannya meskipun ia membantah, “Ayo dong Gus?”

“Tenang sayang …. ” kucium bibirnya sambil menunduk dan dengan tangan kiri menahan lehernya, tangan kananku mengangkat kakinya hingga ia jatuh ke dalam boponganku dan kugendong menuju kamar tidur mereka. Kami tak pedulikan lagi Dicky dan Sinta yang semakin jauh saling merangsang. Kurebahkan tubuhnya di ranjang dan kubuka seluruh pakaianku.

“Cepet banget Gus, udah sampai ke ubun-ubun ya sayang?” tanya menggoda sambil berbaring.

“Udah berapa minggu nich, kangen pada tubuhmu …” jawabku sambil mendekati dirinya.

Kembali kulabuhkan ciuman pada bibirnya sambil jari-jariku mengelus pundaknya yang terbuka sambil membukai kedua tali di pundaknya. Lidahku mencari payudaranya dan mengisap putingnya. Isapan mulutku pada putingnya membuat Anna mengerang dan menggelinjang, apalagi ketika sesekali kugigit lembut daging payudaranya dan putingnya yang indah, yang sudah tegang. Mungkin karena pengaruh minuman keras dan tontonan yang disajikan Sinta dan Dicky barusan, kami berdua pun semakin liar saling mencium tubuh yang lain satu sama lain. Pakaian kami sudah terlempar kesana kemari. Ciuman bibir, elusan jari-jari dan bibir, remasan tangan, jilatan lidah menyertai erangan Anna dan aku. Kami berdua seolah-olah berlomba untuk saling memberikan kepuasan kepada yang lain. Apalagi ketika Anna menindih tubuhku dari atas dengan posisi kepala tepat pada pahaku dan mengerjai penisku dengan ganasnya. Vaginanya yang tepat ada di atas wajahku kuciumi dan kujilati, klitorisnya kukait dengan lidah dan kugunakan bibirku untuk mengisap klitoris yang semakin tegang itu. Setelah tak tahan lagi, Anna segera bangkit lalu menungging di depanku. Rupanya ia mau minta aku melakukan doggy style posisi yang sangat ia sukai. Dari ruang keluarga, kudengar rintihan Sinta dan erangan Dicky. Mungkin mereka sudah semakin hebat melakukan persetubuhan.

Kuarahkan penisku ke vagina Anna. Kugesek-gesekkan kepala penis hingga ia kembali merintih, “Guuussss, jangan permainkan aku! Ayo masukin dong, aku nggak tahan lagi, sayaaaanngg!” pintanya.

Penisku mulai masuk sedikit demi sedikit ke dalam vaginanya. Kupegang pinggulnya dan memaju-mundurkan tubuhnya mengikuti alunan penis masuk keluar vaginanya. Sekitar lima menit kulakukan gerakan begitu, ia belum juga orgasme, begitu pula aku. Kemudian kuraba kedua payudaranya yang menggantung indah dari belakang. Kuremas-remas sambil merapatkan dadaku ke punggungnya. Ia mengerang, mendesah dan merintih. “Ahhhh ….. sshsshh, ouuughhhh, nikmatnyaaaa …… sayangkuuuuu. ….” Mendengar suaranya dan merasakan geliat tubuhnya di bawah tubuhku, membuatku makin terangsang. Lalu kutarik kedua tangannya ke belakang tubuhnya. Kupegang lengannya dengan sentakan kuat ke arah tubuhku hingga ia mendongakkan kepalanya. Kedua tangannya berusaha menggapai payudaranya dan meremas-remas payudaranya sendiri. Kami berdua kini dalam posisi bertelekan pada lutut masing-masing, agak berlutut, ia tidak lagi menungging, penisku membenam dalam-dalam ke vaginanya. Rintihan Anna semakin tinggi dan saat kuhentakkan beberapa kali penisku ke dalam vaginanya, ia menjerit, “Aaaaahhhhhh ….. oooooggghhh …..” Penisku terasa diguyur cairan di dalam. Aku tak kuat lagi menahan nafsuku dan menyusul dirinya mencapai puncak kenikmatan. Ia lalu menelungkup dengan aku menindih punggungnya yang sesekali masih memaju-mundurkan penisku di dalam vaginanya. Keringat bercucuran di tubuh kami, meskipun pendingan kamar itu cukup dingin ketika kami baru masuk tadi.

Kemudian kami berbaring berpelukan, aku menelentang sedangkan Anna merebahkan tubuhnya di atasku. Di ruang sana tak terdengar lagi suara Dicky dan Sinta, mungkin mereka juga sudah orgasme. Tanpa sadar, aku tertidur, juga Anna. Aku terjaga ketika merasakan ciuman pada bibirku. Kubalas ciuman itu, tetapi aromanya berbeda dengan mulut Anna. Kubuka kelopak mataku, kulihat Sinta masih telanjang membungkuk di atas tubuhku sambil menciumi aku. Mataku terbuka lebar sambil memagut bibirnya memainkan lidahku di dalam mulutnya, ia membalas perlakuanku hingga lidah kami saling berkaitan. Sedangkan Dicky kulihat mendekati Anna dan menciumi payudara istrinya. Anna menggeliat dan membalas ciuman dan pelukan suaminya. Tangannya mengarah ke bagian bawah tubuh Dicky meraih penis suaminya yang sudah melembek. Ia rabai dan kocok penis itu, hingga kuperhatikan mulai bangun kembali. Sinta yang semula hanya menciumi bibirku dan memainkan lidahnya, menurunkan ciumannya dan mencari dadaku, di sana putingku diciumi dan digigitnya lembut. Lama-lama gigitannya berubah semakin buas, hingga membuatku merintih sakit bercampur nikmat, “Kenapa, sayang? Sakit ya?” tanyanya menghentikan permainannya sambil menatapku. Aku menggelengkan kepala dan memegang kepalanya agar kembali meneruskan ulahnya. Lidahnya kembali terjulur dan bermain di putingku bergantian kiri dan kanan. Setelah itu, ia turunkan ciumannya ke penisku yang masih ada sisa-sisa sperma dan cairan vagina Anna. Ia lumat dan masukkan penisku ke dalam mulutnya. Penis yang sudah lembek itu kembali tegang mendapat perlakuan mulutnya. Tangannya memegang pangkal penisku melakukan gerakan mengocok. Bibirnya dan lidahnya juga bermain di testisku dan “Uuuuhhhh ….” aku mendesah, sebab kini lidahnya menjilati analku tanpa rasa jijik sedikit pun. Setelah itu kembali mulutnya bermain di testisku dan memasukkan kedua testis itu bergantian ke dalam mulutnya. Sedotan mulutnya membuat birahiku kembali muncul. Sementara rintihan Anna kembali terdengar. Kuintip mereka, Dicky kini menciumi paha istrinya, sama seperti perbuatan Sinta padaku.

Sinta melihat penisku makin tegang, tetapi kemudian ia melangkah ke bufet kecil di samping ranjang. Tak lama kemudian ia kembali ke ranjang sambil memegang dildo berwarna merah di tangannya. Penis buatan itu memiliki tali yang kemudian ia ikatkan ke pinggangnya sehingga kini Sinta terlihat seperti seorang laki-laki, tetapi memiliki payudara.

Dicky masih terus menciumi paha isterinya ketika Sinta memegang rambut Dicky dan meminta Dicky menciumi payudara isterinya, sedangkan penis buatan sudah ia arahkan ke vagina Anna. Dicky menoleh sekilas ke arah Sinta, tetapi ia tidak menolak dan meremas-remas payudara istrinya sambil menciumi dan memilin putingnya. Desahan Anna semakin kuat disertai geliat tubuhnya, apalagi saat dildo Sinta mulai memasuki vaginanya yang kembali basah. Sinta kemudian memaju-mundurkan tubuhnya hingga dildo itu masuk keluar vagina Anna. Anna mengerang dan meracau dengan tatapan mata sayu. Kudekati wajahnya dan kupagut bibirnya sambil turut membelai payudaranya membantu suaminya yang masih terus meremas dan menciumi payudaranya.

Beberapa saat dengan posisi itu, membuat Anna kembali naik birahi. Sinta kemudian membalikkan tubuhnya ke samping sambil memegangi pinggang Anna agar mengikuti gerakannya. Aku membantu gerakannya dan menggeser tubuh Anna hingga kini berada di atas tubuh Sinta dengan dildo Sinta yang tetap menancap pada vagina Anna. Anna yang ada di atas Sinta kini, menduduki perut Sinta sambil melakukan gerakan seakan-akan sedang menunggang kuda. Desahan Anna semakin kuat sebab dildo itu benar-benar masuk hingga pangkalnya ke dalam vaginanya. Sinta tidak banyak bergerak, hanya pasif, tetapi jari-jarinya bermain di sela-sela vagina Anna merangsang klitoris Anna. Aku memeluk Anna dari belakang punggungnya, sedangkan Dicky dari arah depan tubuh Anna meremas-remas dan sesekali menciumi dan menjilati payudara Anna.

“Gus, masih ada lubangku yang nganggur, ayo sayangg….. oooohhhh, nikmatnya” desahnya memohon.

Aku menyorong tubuh Anna agar rebah di atas tubuh Sinta, lalu kusentuh lubang analnya. Kubasahi dengan sedikit ludah bercampur cairan vaginanya sendiri. Lalu setelah cukup pelumas, kumasukkan penisku ke dalam analnya. Kugerakkan penisku maju mundur, sedangkan Anna dan Sinta saling berciuman, dan Dicky meremas-remas payudara kedua perempuan itu bergantian. Rintihan kedua perempuan itu semakin kuat terdengar.

Mungkin karena merasa tindihan dua tubuh di atasnya agak berat, Sinta agak megap-megap kulihat, sehingga kuajak mereka berdua melakukan gerakan ke samping. Aku kini berbaring terlentang. Penisku yang tegang dipegangi tangan Anna dan diarahkannya masuk ke dalam analnya sambil merebahkan tubuhnya terlentang di atasku. Lalu Sinta kembali berada di atas tubuh Anna memasukkan dildo pada pangkal pahanya ke dalam vagina Anna. Gerakan Sinta kini aktif, berganti dengan aku yang pasif pada anal Anna. Tak lama kemudian Anna orgasme disertai rintihan panjangnya. Kupeluk ia dari bawah, sedangkan bibirnya diciumi oleh Sinta dengan ganasnya. Dicky masih terus meremas-remas payudara kedua perempuan itu. Lalu Sinta mencabut penis buatan dari vagina Anna dan berbaring di sampingku, sementara Dicky meletakkan tubuhnya di samping Sinta sambil memeluk tubuh Sinta dan mencium bibirnya.

Sekitar sepuluh menit kemudian, Anna bangun dari atas tubuhku dan membuka tali yang mengikat dildo pada pinggang Sinta.

Diperlakukan seperti tadi, rupanya membuat Anna juga ingin mencoba apa yang dilakukan oleh Sinta terhadap dirinya. “Mas, Gus, pegangi tangan dan kaki Sinta. Yuk buruan, jangan berikan kesempatan buat dia!” katanya memerintah kami berdua. Sinta yang masih kecapekan karena mengerjai Anna tadi mencoba meronta-ronta ketika tanganku memegangi kedua tangannya dan mementangkan lebar-lebar, sedangkan Dicky memegangi kedua telapak kakinya sehingga kedua paha dan kakinya terpentang lebar. “Ah, Tante curang, masak pake pasukan mengeroyok ponakannya …” katanya protes.

“Biarin, abis ponakan nakal kayak gini. Masak Tantenya dihabisi kayak tadi?” gurau Anna sambil berlutut di antara kedua paha Sinta. Ia lalu menundukkan wajahnya menciumi dan menjilati vagina Sinta. Sinta benar-benar tidak bisa berkutik, meskipun ia menggeliat-geliat, apalah artinya, sebab tangan dan kakinya dipegangi oleh dua lelaki dengan kuatnya. Puas menciumi vagina Sinta, Anna mengangkangkan pahanya di luar paha Sinta, lalu menujukan dildo pada pahanya ke dalam vagina Sinta. Setelah dildo tersebut masuk, kedua pahanya bergerak ke arah dalam ke bawah kedua paha Sinta, sehingga kedua paha Sinta semakin rapat mengunci dildo yang sudah masuk dengan mantap ke dalam vaginanya. Sedangkan di bawah, kedua tungkainya mengunci kedua tungkai Sinta. Kini tanpa dipegangi oleh tangan Dicky pun, kaki Anna sudah mengunci paha dan kaki Sinta dengan ketatnya. Mulut Anna mengarah pada payudara Sinta dan melumat habis kedua payudara keponakannya. Sedangkan aku, sambil mementangkan kedua tangan Sinta, mencium bibirnya dan memasukkan lidahku ke dalam mulutnya. Sesekali kuangkat wajahku dan berciuman dengan Anna.

Erangan Sinta yang tak menduga serangan Tantenya semakin dahsyat, terdengar semakin berubah menjadi rintihan. Apalagi Tantenya semakin cepat menggerakkan dildo ke dalam vaginanya. Beberapa kali ia malah menghentakkan dalam-dalam dildo tersebut ke vagina Sinta. Mungkin karena sudah sering melihat bagaimana gerakan penis suaminya atau penisku masuk keluar vaginanya, ia pun tergoda untuk melakukan aksi serupa. Cuma sekitar lima menit diserang begitu, Sinta tak kuasa lagi bertahan, ia merintih lirih, “Tante Annnnaaaaa, aku dapet ….. aaahhhhhh …… nikmattt …… sssshhhhh .…… ooouuugghhh ….. aaaakkkhhh.”

Anna masih terus merojok vagina Sinta, hingga Sinta memaksaku melepaskan kedua tangannya dan menolakkan tubuh Tantenya, “Tante, udah dong, bisa pecah ntar memiawku!! Ahhh … sadis deh Tante!!” katanya. Kami tertawa mendengar kalimatnya, sebab tahu mana mungkin pecah vaginanya dengan alat yang mirip penisku dan penis Dicky. Anna merebahkan tubuh di samping Sinta seraya mencium bibir Sinta dengan lembut. Keduanya berciuman agak lama dan kembali berbaring terlentang berdampingan. Aku dan Dicky mengambil tempat di samping mereka berdua.

Setelah itu, Anna memintaku menyetubuhinya dengan posisi ia di atas dan aku berbaring di bawah, kemudian ia minta lagi Sinta untuk memakai penis buatan tadi ke dalam analnya lalu meminta penis suaminya untuk ia lumat habis-habisan. Sinta yang ingin membalas perbuatan Tantenya, tidak menolak. Dengan cepat diikatkannya tali dildo itu dan menyerang anal Tantenya. Rintihan Anna kembali terdengar di sela-sela lumatan bibir dan mulutnya pada penis suaminya. Dicky masih mau diperlakukan demikian beberapa kali, tetapi mungkin karena tak tahan melihat ada vagina menganggur, ia kemudian mendekati bagian bawah tubuh kami dan kulihat mengusap-usap pantat Sinta. Lalu ia memasukkan penisnya ke dalam vagina Sinta. Empat tubuh telanjang berkeringat kini saling bertindihan. Dicky paling atas menyetubuhi Sinta, sementara Sinta dengan dildo-nya mengerjai vagina Anna, dan aku paling bawah mengerjai anal Anna dengan penisku yang tegang terus. Sprey ranjang sudah acak-acakan oleh tingkah kami berempat, tapi kami tak peduli lagi pada kerapihan.

Masih dengan napas tersengal-sengal, Sinta membisikkan sesuatu ke telinga Dicky. Dicky yang sudah melepaskan dirinya dari tubuh Sinta, memeluk tubuh istrinya melepaskan analnya dari hunjaman penisku. Sinta kemudian mendekati aku dan berbisik, “Gus, kita kerjai Tante lagi yuk? Sekarang coba masukin penis kalian berdua ke memiawnya, ntar aku bantu dengan dildo pada analnya.”

Wah ide yang unik, pikirku sambil mengangguk. Kemudian kuraih tubuh Anna, “Ada apa sich Gus, aku masih capek sayang!” Tapi penolakannya tak kuhiraukan. Kutarik tubuhnya rebah menelungkup di atas tubuhku sambil menggenggam penis yang kuarahkan pada vaginanya. Dasar vaginanya masih merekah, dengan mudahnya penisku melesak ke dalam, membuatnya kembali mendesah. Tak lama kemudian, Dicky mendekati kami dan mengarahkan penisnya ke dalam vagina Anna. Penisku yang masih berada di dalam vagina Anna, bergesekan dengan penis Dicky yang mulai menyeruak masuk keluar ke dalam. Mata Anna yang tadinya sayu mendapat seranganku, membeliak merasakan nikmat akibat dimuati dua penis pada vaginanya. Ia tak kuasa melawan walaupun semula merasa vaginanya begitu padat dimasuki dua penis sekaligus.

Kemudian kulihat Sinta memperbaiki letak dildo yang masih ia kenakan. Lalu dengan hati-hati ia menempatkan dirinya di antar tubuh Dicky dan pantat Anna. Dicky memberikan ruang gerak padanya dengan mencondongkan tubuhnya ke arah belakang dan menahan berat badannya dengan kedua tangannya, sehingga Sinta bebas memasukkan dildo ke dalam anal Anna. Aku dan Dicky menghentikan gerakan dengan tetap membiarkan kedua penis kami berada di dalam vagina Anna. Begitu dildo Sinta masuk ke dalam analnya, Dicky mulai menggerakkan penisnya lagi, merasakan gerakan itu, aku mengikuti irama mereka berdua. Rintihan Anna meninggi saat dildo Sinta memasuki analnya bersamaan dengan kedua penis kami. Kututup rintihannya dengan mencium bibir Anna. Ia memagut bibirku dengan kuat, bahkan sempat menggigit bibirku dan mengisap lidahku kuat-kuat. Mungkin pengaruh desakan dua penis sekaligus pada vaginanya dan penis buatan pada analnya, membuat Anna melayang-layang mencapai puncak kenikmatan yang lain dari biasanya.

Ia tidak lagi mengerang atau mendesah, melainkan merintih-rintih dan bahkan sesekali menjerit kuat. “Auuuhhh …. Ooooohhhhh …. gila ….. kalian bertiga benar-benar gila! Uuuukhhhh ….. sssshhhhh ….. aakkkkhhhh …..” rintihnya sambil menggeliat-geliatkan tubuhnya menerima serangkan kami bertiga. Pagutan bibirku menutup rintihannya dengan lilitan lidah yang menjulur memasuki rongga mulutnya. Sinta merapatkan tubuhnya ke punggung Tantenya dan kedua tangannya bergerak meremas-remas kedua payudara Tantenya. Anna merintih menikmati serangan di sekujur tubuhnya terutama pada bagian-bagian vitalnya. Entah sudah berapa puluh kali penisku dan penis Dicky bergerak masuk keluar vagina Anna dan analnya dirojok dildo Sinta. Sementara kedua tangan Dicky masih menyangga tubuhnya, ia tak bisa berbuat apa-apa walaupun kulihat beberapa kali mencoba meraih punggung Sinta untuk meremas-remas kedua payudaranya dari belakang, tapi posisinya tidak menguntungkan. Ia kemudian memusatkan pikiran pada gerakan penisnya yang semakin cepat kurasakan bergesekan dengan penisku di dalam vagina Anna yang sudah semakin becek.

Rintihan Anna semakin tinggi berubah menjadi jeritan. Ia memiawik-mekik nikmat, ketika mencapai orgasme. Dicky menyusul menghentakkan penisnya kuat-kuat ke dalam vagina istrinya, tapi kedua tangan Anna menahan pantat suaminya, agar tetap melabuhkan penisnya di dalam vaginanya. Ia seakan tidak rela penis kami keluar dari vaginanya, meskipun ia sudah orgasme. Tak lama kemudian, suaminya menyerah, mencabut penisnya.

Aku masih bertahan dan meminta Sinta berbaring dengan Tantenya terlentang di atas tubuhnya dan dildo yang dipakainya ia masukkan ke anal Anna, sementara aku menancapkan penisku ke vagina Anna. Meskipun Sinta berada di bawah tubuh Tantenya, tubuh Anna kupegangi agar tidak membebani Sinta. Kuraih pundaknya agar merapat ke tubuhku. Tangan Anna bermain di kedua payudara Sinta sambil menikmati hunjaman dildo Sinta pada analnya dan penisku pada vaginanya yang barusan sudah mencapai kenikmatan. Dicky berbaring di sisi Sinta sambil membantu Anna membelai dan meremas-remas payudara Sinta dan sesekali mencium bibir Sinta. Tangan Dicky bermain di bagian bawah tubuh Sinta, rupanya ia mengorek-ngorek vagina Sinta, hingga gadis itu tidak hanya menancapkan dildo ke vagina Tantenya, tetapi juga menaiki anak tangga kepuasan oleh permainan tangan Dicky.

Sinta menggeliat-geliat di bawah dengan dildo­-nya menancap dengan dalam pada vagina Anna, sambil menikmati ulah jari-jari Dicky pada vaginanya. Rintihan Sinta semakin kuat bercampur dengan jeritan Anna yang kuserang habis-habisan dengan gerakan sekuat-kuatnya dan sedalam-dalamnya membenamkan penisku ke dalam vaginanya. Ia menjerit-jerit seperti waktu penis suaminya bersama penisku masih berada di vaginanya. Penisku kupegangi dan kutekan kanan kiri merambah, mengeksplorasi dinding vaginanya dan menarik tanganku hingga penisku masuk hingga pangkalnya. Jari-jariku mencari klitorisnya dan membelai-belainya sedemikian rupa hingga ia tak berhenti memiawik.

Sekujur tubuh Anna bersimbah peluh dan kuperhatikan ada tetesan air keluar dari matanya turun ke pipi. Rupanya saking nikmatnya multiorgasme yang ia rasakan, tanpa terasa air matanya menetes. Tentu saja air mata bahagia. Kukecup kelopak matanya menciumi air matanya dan bibirku turun ke bibirnya, melakukan kecupan yang liar dan panas.

“Ooooooooogggghhhhhhhh ….. Gussssss ……. Uuuhhh ……. Ssssshhhhh …. Sintaaaaa …… nikmatnyaaaaaahhhhhhh …… Aaaahhhhhh!!!” teriakannya terdengar begitu kuat sambil menekankan vaginanya kuat-kuat ke penisku.

Seperti biasanya kalau ia mencapai orgasme yang luar biasa, air seninya ikut muncrat bersamaan dengan cairan vaginanya. Semprotan cairannya membasahi penisku, sela-sela paha Sinta dan sprey di bawah kami. Mulutnya menolak mulutku dan menggigit pundakku hingga terasa giginya menghunjam agak perih di kulitku.

Dari bawah kulihat Sinta juga semakin kuat menekan dildo ke anal Anna. Sinta pun merintih, “Tanteeeee ….. aku …. juga dapeetttt nicchhhh ….. oooohhh, jari-jarimu lincah benar Oooommmm …..” pujiannya keluar memuji perbuatan Dicky terhadap dirinya. Dicky mencium bibir Sinta dan mengelus-elus payudaranya.

Terakhir, aku menghentakkan penisku sedalam-dalamnya dan sambil mengerang nikmat, muncratlah spermaku memasuki vagina Anna. Kutarik tubuh Anna berbaring di atas tubuhku yang berbaring terlentang, sedangkan Sinta memeluk Dicky yang menindih tubuhnya sambil terus berciuman dan memasukkan jari-jarinya sedalam-dalamnya ke dalam vagina Sinta yang pahanya sudah merapat satu sama lain dan menjepit jari-jari dan tangan Dicky dengan kuatnya.

Napas Anna, Sinta dan aku yang terengah-engah semakin mereda sambil mencari posisi yang enak untuk berbaring. Kuamati payudara kedua perempuan itu sudah merah di sana-sini, akibat ciuman dan gigitan Dicky, aku dan mereka berdua satu sama lain. Pundakku yang perih akibat gigitan Anna tadi, diciuminya dengan lembut seraya minta maaf, “Gus, maaf ya, jadi kejam gini sama kamu, abis nggak tau lagi sih mau ngapain. Yah udah, pundakmu jadi sasaran mulut dan gigiku.” Kuelus-elus rambutnya sambil berkata, “Tak apa, sayang. Ntar juga cepat sembuh koq, apalagi sudah kau obati dengan ludahmu.”

Setelah itu, kami berempat terbaring nyenyak setelah beberapa jam main tak henti-hentinya. Kami baru bangun ketika matahari sudah naik tinggi dan jarum jam dinding menunjuk pukul 11.00 WIB. Kami mandi berempat di kamar mandi. Bathtub yang biasanya hanya dimuati satu atau dua tubuh orang dewasa, kini menampung tubuh kami berempat yang sambil berciuman, menggosok, meraba dan meremas satu sama lain, tetapi karena tenaga kami sudah terkuras habis, kami tak main lagi pagi itu. Namun siangnya, usai makan, Sinta sempat memintaku untuk main lagi dengannya. Dicky dan Anna, sambil tertawa-tawa dan memberi komentar, hanya menonton keponakan mereka main denganku di karpet ruang keluarga mereka. Sinta seolah tak kenal lelah, tidak cukup hanya meminta vaginanya kukerjai, tetapi juga analnya, baik dengan posisi terlentang dengan kedua kakinya kupentang lebar maupun dengan posisi ia menungging dan kutusuk dari belakang. Jika kuhitung, ada sekitar tiga kali lagi ia orgasme, sementara aku hanya sekali, tetapi untungnya penisku tetap bisa diajak kompromi untuk terus main melayani permintaannya. Tepukan tangan Dicky dan Anna memuji kekuatan kami berdua mengakhiri persetubuhan kami berdua, lalu Anna membersihkan penisku yang dilelehi cairan vagina dan anal Sinta serta spermaku, sedangkan Dicky membaringkan tubuh Sinta di sofa panjang dan membersikan vaginanya dengan bibir dan lidahnya. Pelayanan kedua suami istri itu benar-benar luar biasa terhadap keponakannya, Sinta dan aku.

Salah orang

April 29, 2009 pukul 8:31 am | Ditulis dalam Cerita Dewasa, Pesta Seks | Tinggalkan komentar

Cerita ini bermula dari suatu kebetulan yang tidak disengaja. Sampai saat ini aku suka tertawa sendiri kalau mengingat awal kejadian ini. Bermula dari suatu Sabtu siang, aku janjian ketemu dengan salah seorang teman chat-ku. Namanya Fenny, mahasiswi tingkat akhir di salah satu PTS di Jakarta Barat. Teman chat-ku yang satu ini cukup misterius. Aku nggak pernah tau dia tinggal dimana, dengan siapa, bahkan aku tak pernah dikasi nomer telepon rumahnya. Kampusnya pun aku nggak yakin kalau yang disebutnya benar.

Saat janjian dengan Fenny pun hanya lewat SMS. Biasanya aku nggak pernah meladeni teman-teman chat yang janjian ketemu via SMS. Kapok, dulu pernah dibo’ongin. Tapi entah kenapa aku penasaran sekali dengan Fenny. Akhirnya kami janjian untuk ketemu di Mal Kelapa Gading, tepatnya di Wendy’s. Resenya, Fenny juga nggak mau kasi tau pakaian apa yang dia pakai dan ciri-cirinya. Pokoknya surprise, katanya.

Itulah kenapa hari Sabtu siang ini aku bengong-bengong ditemani baked potatoenya Wendy’s sambil menunggu kedatangan Fenny. Sudah hampir satu jam aku menunggu tapi tidak ada kabar. SMS-ku nggak dibales-bales, mau telepon pulsa udah sekarat. Aku hanya duduk sambil memperhatikan sekelilingku yang cukup sepi. Mataku tertuju pada seorang wanita keturunan Chinese berumur kira-kira 30-an yang duduk sendirian di salah satu sudut. Herannya sejak tadi wanita tersebut memperhatikanku terus. Aku sempat berpikir apa dia yang bernama Fenny. Tapi rasanya bukan. Akhirnya karena bete menunggu aku pun meninggalkan Wendy’s.

Tiba-tiba aku merasa ada yang menepuk bahuku dari belakang. Aku menoleh dan melihat wanita yang kuperhatikan tadi tersenyum ke arahku.
“Rio ya?” tanyanya. Aku terkejut. Kok dia tau namaku. Jangan-jangan wanita ini benar Fenny. Aku mengangguk.
“Iya, mm.. Fenny?” tanyaku. Wanita itu menggeleng sambil mengernyitkan kening.
“Bukan, kok Fenny sih? Kamu Rio yang di Kayuputih kan?” aku tambah bingung mendengarnya.
“Bukan, lho tante bukan Fenny?”.

Kemudian wanita itu mengajakku berteduh di salah satu sudut sambil menjelaskan maksud yang sebenarnya. Aku mendengarkan, lantas aku juga gantian menjelaskan. Akhirnya kami sama-sama tertawa terbahak-bahak setelah tau duduk persoalannya. Wanita itu bernama Linda, dan dia juga sedang janjian dengan teman chat-nya yang juga bernama Rio, seperti namaku. Akhirnya kami malah berkenalan karena orang-orang yang kami tunggu tak kunjung datang juga. Aku memanggilnya Ci Linda, karena dia menolak dipanggil tante. Kesannya tua katanya.

Siang itu Ci Linda malah mengajakku jalan-jalan. Aku ikut dengan Altis-nya karena aku tidak membawa mobil. Ci Linda mengajakku ke butik teman maminya di daerah Permata Hijau. Tante Wiwin, sang pemilik butik adalah seorang wanita yang sudah berusia di atas 50 tahun, tubuhnya cukup tinggi dan agak montok. Kulitnya yang putih bersih hari itu dibalut blus transparan yang bahunya terbuka lebar dan celana biru tua dari bahan yang sama dengan bajunya. Agak-agak eksentrik. Dasar desainer pikirku. Karena hari itu butik Tante Wiwin tidak begitu ramai, kami bertiga ngobrol-ngobrol sambil minum teh di salah satu ruang santai.

“Aduh Yo.. maaf..” seru Tante Wiwin. Wanita itu menumpahkan teh yang akan dituangnya ke cangkirku tepat di celanaku bagian pangkal paha. Aku sedikit mengentak karena tehnya agak panas.
“Nggak pa-pa Tante…” jawabku seraya menepuk-nepuk kemejaku yang juga kena tumpahan teh. Tante Wiwin reflek menepis-nepis bercak teh yang membasahi cenalaku. Ups.. tanpa sengaja jemari lembutnya menyentuh batang kemaluanku.
“Eh.. kok keras Yoo? Hihihi…” goda Tante Wiwin sambil memijit-mijit kemaluanku. Aku jadi tersenyum. Ya gimana nggak keras sedari ngobrol tadi mataku tak lepas dari bahu Tante Wiwin yang mulus dan kedua belah paha Ci Linda yang putih.
“Iya.. Tante sih numpahin…” jawabku setengah bercanda.
“Idih.. Tante Wiwin kumat genitnya deh… biasa Yo, udah lama nggak… awww!!” Ci Linda tak sempat menyelesaikan celetukkannya karena Tante Wiwin mencubit pinggang wanita itu.
“Iya nih Tante, udah numpahin digenitin lagi. Pokoknya bales tumpahin juga lho hihihi…” aku gantian menggoda wanita itu. Tante Wiwin malah tersenyum sambil merangkul leherku.
“Boleh, tapi jangan ditumpahin pake teh ya..” bisiknya di telingaku. Aku pura-pura bego.
“Abis mau ditumpahin apa Tante?” tanyaku. Tante Wiwin meremas batang penisku dengan gemas.
“Ya sama ‘teh alami’ dari kamu dong sayang.. mmmhhh…. mmmm…” Tante Wiwin langsung mengecup dan melumat bibirku. Aku yang memang sedari tadi sudah horny menyambut lumatan bibir Tante Wiwin dengan penuh nafsu. Kedua tanganku memeluk pinggang wanita setengah baya itu dengan posisi menyamping. Sementara tangan Tante Wiwin yang lembut merangkul leherku. Ah.. lembut sekali bibirnya.

Ci Linda yang melihat adegan kami tidak tinggal diam. Wanita berkulit putih mulus itu mendakati tubuhku dan mulai memainkan kancing celana jeansku. Tak sampai semenit wanita itu sudah berhasil melucuti celana jeansku sekaligus dengan celana dalamnya. Tanpa ampun lagi batang penisku yang sudah mulai mengeras itu berdiri tegak seolah menantang Ci Linda untuk menikmatinya. Ci Linda turun ke bawah sofa untuk memainkan penisku. Jemarinya yang lembut perlahan-lahan mengusap dan memijit setiap centi batang penisku. Ugghh.. birahiku semakin naik. Lumatan bibirku di bibir Tante Wiwin semakin bernafsu. Lidahku menjelajahi rongga mulut wanita setengah baya itu. Tante Wiwin merasa keasyikan.

Aku yang semakin terbakar nafsu mencoba menularkan gairahku ke Tante Wiwin. Dari bibir, lidahku berpindah ke telinganya yang dihiasi anting perak. Tante Wiwin menggelinjang keasyikan. Dia meminta waktu sebentar untuk melepas anting-antingnya agar aku lebih leluasa. Lidahku semakin liar menjelajahi telinga, leher dan bahu Tante Wiwin. Tampaknya wanita itu mulai tak kuasa menahan birahinya yang semakin memuncak. Dia melepaskan diri dari tubuhku dan memintaku untuk melorotkan celananya. Tanpa disuruh kedua kalinya aku pun langsung melucuti Tante Wiwin sekaligus dengan bajunya, hingga tubuh wanita itu bersih tanpa sehelai benang pun.

Gila, udah kepala empat tapi tubuh Tante Wiwin masih kencang. Kulitnya yang putih betul-betul terasa halus mulus. Sambil bersandar pada pegangan sofa, Tante Wiwin merentangkan kedua belah pahanya yang mulus dan memintaku melumat kemaluannya yang bersih tanpa bulu. Tanpa basa-basi aku langsung mendekatkan wajahku ke vaginanya dan mulai menjilati daerah pinggir kemaluannya.

“Hhhmmmm.. sshhh…. terusss Yoo….” desah Tante Wiwin keasyikan. Aku terus menjilati vaginanya sambil tangan kananku membelai pangkal pahanya yang mulus. Di bawah, Ci Linda masih asyik mempermainkan kemaluanku. Kelima jemarinya yang lentik lincah sekali membelai dan mengocok batang penisku yang ujungnya mulai basah. Sesekali lidahnya membasahi permukaan penisku. Sebagian batang penisku tampak merah terkena lipstik Ci Linda. Kepala wanita itu naik turun mengikuti ayunan kenikmatan di penisku. Ahhh… lembut sekali mulut Ci Linda mengulumnya. Saking asyiknya tak sadar aku sampai menghentikan permainanku dengan Tante Wiwin untuk merasakan kenikmatan yang diberikan Ci Linda. Tante Wiwin tersenyum melihat ekspresiku yang mengejang menahan nikmat. Wanita itu merengkuh kepalaku untuk melanjutkan tugasku memberi kenikmatan untuknya.

Aku semakin buas melumat kemaluan Tante Wiwin. Jemariku mulai ikut membantu. Liang kemaluan Tante Wiwin sudah kutembus dengan jari tengahku. Sambil kukocok-kocok, aku menjilati klitorisnya. Wanita itu menggelinjang tak karuan menahan rasa nikmat. Kedua tangannya yang lembut menjambak rambutku.

Tanpa kusadari, Ci Linda sudah melucuti dirinya sendiri sampai telanjang bulat. Tiba-tiba wanita itu naik ke atas tubuhku dan bersiap mengurung penisku dengan vaginanya yang lembut. Kedua tangannya merengkuh leherku. Tubuhnya mulai merendah hingga ujung penisku mulai menyentuh bibir vaginanya. Dengan bantuan tangan kiriku, perlahan penisku mulai masuk ke dalam liang kenikmatan itu, dan…. sssllppp blleeessss.. Amblas sudah penisku di liang kemaluan Ci Linda. Sambil memeluk bahuku, tubuh Ci Linda naik-turun. Ugghh.. nikmat sekali. Aku sampai nggak bisa konsen ngelumat vagina Tante Wiwin. Tapi aku nggak mau kalah. Yang penting Tante Wiwin mesti diberesin dulu.

Sambil menahan birahiku yang sudah di ubun-ubun gara-gara Ci Linda, aku terus melumat vagina Tante Wiwin. Jari tengahku yang kini sudah dibantu jari manis semakin cepat mengocok-ngocok di dalam vagina Tante Wiwin. Lidahku semakin liar menjelajahi klitoris dan bibir vaginanya. Tubuh Tante Wiwin pun semakin menggelinjang tak karuan. Sepertinya wanita itu sudah tak kuasa lagi menahan kenikmatan yang kuberikan. Aku pun mulai merasa dinding vaginanya berdenyut.

“Sssshhh… ooohhh… Riioooo…..aahhhh….” Tante Wiwin mendesah meregang nikmat sambil meremas kepalaku yang masih menempel ketat di vaginanya. Aku merasakan rembesan lendir yang cukup deras dari dalam sana. Hmmm… aroma vagina yang begitu khas segera tercium. Aku pun menghirup lendir-lendir kenikmatan itu sambil menjilati sisa-sisa yang menempel di vagina Tante Wiwin. Setelah puas melepas kenikmatannya, Tante Wiwin mengangkat kedua pahanya dari tubuhku dan membiarkan aku leluasa menikmati permainan dengan Ci Linda.

Bebas dari tubuh Tante Wiwin, kini Ci Linda yang mendekap tubuhku erat. Payudaranya yang bulat dan montok menempel ketat di dadaku. Ahh.. kenyal sekali. Aku semakin merasakan kekenyalannya karena tubuh Ci Linda naik-turun. Sementara bibir kami asyik saling melumat.
“Mmhhh..ssllppp…aahh…mmmmmm…” berisik sekali kami berciuman. Tante Wiwin sampai geleng-geleng melihat kami berdua yang sama-sama dipacu birahi.

Kemudian kami bertukar posisi. Tubuh kami berguling ke arah berlawanan sehingga kini tubuh Ci Linda duduk bersandar di sofa dengan posisi kedua kaki mulusnya yang mengangkang. Sambil bertumpu pada lutut di lantai, aku bersiap memasukkan penisku lagi ke dalam liang kemaluan Ci Linda. Ugghh… kali ini lebih mudah karena vagina Ci Linda sudah basah. Pantatku maju mundur seiring kenikmatan yang dirasakan Ci Linda. Wanita itu bahkan sudah tak kuasa memeluk tubuhku. Kedua tangannya direntangkan untuk menahan rasa nikmat yang dirasakannya. Aku semakin menggoyang pantatku dengan keras. Aku tahu bahwa sebentar lagi Ci Linda akan mencapai klimaks, namun aku juga tahu bahwa Ci Linda tak mau kalah denganku. Aku melihat ekspresinya yang berusaha menahan nikmat.

“Terus Yo… bentar lagi tuh.. hihihi…” goda Tante Wiwin. Aku tersenyum kemudian mengecup bibir wanita yang sedang duduk di samping Ci Linda tersebut. Tante Wiwin malah membantuku dengan menjilat, mengisap dan mengulum payudara dan puting Ci Linda.
“Aahhh… Yoooo… sssshhhhh…..” akhirnya Ci Linda meregang kenikmatannya. Aku merasakan cairan hangat membasahi penisku di dalam vaginanya. Aku mendekap tubuh Ci Linda yang hangat.
“Hh.. gila kamu Yo, aku pikir bakal kamu duluan…” ujar Ci Linda. Aku tersenyum sambil melirik ke arah Tante Wiwin.
“Ya kan berkat bantuan Tante Wiwin..” jawabku seraya mencubit hidung Tante Wiwin. Wanita itu memelukku.
“Nah, sekarang giliran aku lagi Yo, kamu kan belum puasin aku dengan pentunganmu itu hihihi… Ayo, kali ini pasti kamu udah nggak tahan..” Tante Wiwin menantangku bermain lagi. Tanpa diminta dua kali aku langsung menjawab tantangannya. Aku pun melakukan hal yang sama seperti dengan Ci Linda tadi. Kali ini aku mengakui permainan Tante Wiwin yang jauh lebih liar dan berpengalaman. Akhirnya kami klimaks bersama-sama. Aku klimaks di dalam vagina Tante Wiwin yang hangat.

Ruang santai itu memang betul-betul hebat. Tak seorang karyawan pun yang mengetahui apa yang baru saja kami lakukan. Setelah puas bermain, kami bertiga mandi bersama. Tadinya setelah mandi kami mau melanjutkan lagi di kamar tidur Tante Wiwin. Tapi karena sudah sore, sebentar lagi suami Tante Wiwin pulang. Untungnya Ci Linda punya ide untuk melanjutkan di hotel. Tante Wiwin pun setuju, namun aku dan Ci Linda berangkat duluan.

Malam itu kami check-in di salah satu hotel di daerah Thamrin. Aku dan Ci Linda lebih dulu melanjutkan permainan. Satu jam kemudian Tante Wiwin baru datang melengkapi kenikmatan kami. Dan yang bikin aku surprise, malam itu Tante Wiwin mengajak teman seprofesinya yang umurnya kira-kira lebih muda 3 atau 5 tahun, namanya Tante Ida. Malam itu aku betul-betul puas bersenang-senang dengan mereka bertiga. Kami melepas birahi sampai jam 3 pagi. Kemudian kami tidur sampai jam 9 pagi, lantas kembali menuntaskan permainan. Aku betul-betul tidak menyangka kalau gara-gara salah orang bisa sampai seperti ini.

Sampai kini aku nggak pernah ketemu dengan Fanny, teman chat-ku. Kami pun nggak pernah SMS-an lagi. Entah kemana perginya Fanny. Tapi yang jelas semenjak kejadian itu, aku terus keep contact dengan Ci Linda, Tante Wiwin dan Tante Ida. Sekarang Ci Linda sudah menikah dan tinggal di Australia dengan suaminya. Tapi kami masih sering kontak. Sedangkan dengan Tante Wiwin dan Tante Ida, aku masih terus berhubungan untuk sesekali berbagi kenikmatan. Tadinya mereka ingin memeliharaku sebagai gigolo, namun aku menolak karena aku melakukannya bukan untuk uang dan materi, tapi untuk kesenangan saja. Kadang kalau Ci Linda sedang di Indonesia, kami menyempatkan diri untuk mengunjungi butik Tante Wiwin bersama-sama untuk melepas birahi. Tempat Tante Wiwin sering dijadikan tempat affair kami agar suaminya tidak curiga.

Oke, segitu dulu pengalamanku. Salam manis buat Ci Linda yang lagi hamil 3 bulan. Mudah-mudahan kesampean dapat anak laki-laki. Buat Tante Wiwin dan Tante Ida, thank’s buat kehangatan yang diberikan. Juga buat Fanny, my mysterious friend yang udah membuka jalan hehehe… Lain kali kalau ada pengalaman yang berkesan, aku akan ceritakan lagi di situs ini.

TAMAT

The Orgy Club

April 29, 2009 pukul 8:22 am | Ditulis dalam Cerita Dewasa, Pesta Seks | Tinggalkan komentar

Aku mahasiswa di Yogya tingkat hampir akhir. Aku mau berkisah tentang pengalamanku ngesex di sebuah kost-kostan mahasiswa. Kost-kostan itu untuk campur, untuk cowok dan cewek. Sebulan pertama sih normal-normal saja bagiku yang dari luar pulau, tapi beberapa hari setelah bulan kedua kost-kostan tersebut ketahuan belangnya (atau asyiknya, tergantung dari mana melihatnya). Hari itu aku lagi mau berangkat kuliah siang ketika kulihat dari seberang kamar Nina, si cewek dengan payudara sebesar buah melon yang kebanyakan pupuk, nongol dari kamarnya ke kamar mandi tidak pakai apapun kecuali sandal jepit. Handuk saja cuma ditenteng sama tangan kirinya, sedang tangan kanannya menenteng peralatan mandinya. Kulitnya yang sawo matang semakin membuatnya tampak seksi. Bodinya yang agak pendek semakin menampakkan bongkahan pantatnya wuuihh!!

Aku yang masih normal terang saja terangsang. Aku langsung kena komplikasi mata-jantung-kemaluan. Mata melotot melihat bodinya Nina, jantung langsung berdegup kencang, penis langsung menegang. Setelah masuk ke kamar mandi Nina sedikit menutup pintu untuk menggantungkan handuk dan pandangan matanya bertemu dengan pelototan mataku. Ia tidak terlihat kaget, malah tersenyum menggoda dan sedikit meremas payudaranya sendiri. Ia ternyata, dan untungnya bagiku, tidak menutup pintu kamar mandi dan mulai mengguyur badan semoknya dengan santai-santai saja seakan aku yang menonton dia mandi adalah hal yang normal.

Beberapa saat setelah mengguyur tubuhnya untuk membersihkan sabun di badannya ia menoleh ke belakang dan cengengesan melihat aku bengong saja di depan pintu kamarku. Kuliah langsung terlupakan begitu dia menggunakan jemari telunjuk kanannya untuk mengajakku ke kamar mandi. Langsung saja aku melemparkan diktat kuliahku ke kamar dan melepas seluruh bajuku, termasuk CD-ku, sehingga batang kemaluanku yang sudah menegang dari tadi langsung seperti terbebas dari kungkungannya. Lalu aku berjalan dengan agak pelan ke kamar mandi bersama itu. Nina ternyata memunggungiku, tidak tahu lagi apa. Saat aku masuk ke kamar mandi ia cuma menoleh sedikit dan tersenyum.

“Eh Rico belum pernah mandi bareng cewek ya?”
“Belum, apalagi seseksi kamu,” jawabku sambil mengagumi pantat dan pinggulnya yang menggairahkan apalagi dalam keadaan basah begitu.
Sambil tetap memunggungiku ia meraih kedua tanganku dan menggiring keduanya ke payudaranya yang “bujuk buset” itu. Aku lalu meremas puting payudaranya sambil sedikit mengusap-usap dengan gerakan melingkar yang lembut. Bibirnya yang tebal itu mengeluarkan desahan yang menerbangkan birahiku. “Aaahh.. eemmhh.. eemmhh..” Saat ia sedikit menoleh ke samping, langsung saja kulumat bibir sensualnya itu. Desahannya sedikit tertahan tapi bercampur dengan desahanku sendiri. Lalu tangan kiriku mulai mencari klitorisnya dan mulai mengerjai klitorisnya dengan lembut. Desahannya semakin menggema di dalam mulutku dan dipantulkan oleh dinding kamar mandi.

Aku mulai kepingin penetrasi ke vaginanya. Jadi aku mulai membalik tubuhnya supaya menghadap ke arahku. Tapi ia menolak sambil melepas pagutanku. Sambil sedikit mendesah ia bilang, “Sodomi yuk.. pengen..” Oke deh, pikirku sambil mendorong punggungnya supaya ia menunduk. Dan ia menuruti keinginanku. Ia menunduk dan langsung saja pantatnya aku masuki batang kemaluanku yang sudah tegang tidak keruan. Penisku masuk ke lubang pantatnya dengan perlahan. Tiba-tiba ia memekik keras sekali,
“Aaarrgghh..!!”
“Kenapa Nin?” tanyaku kaget, batang kemaluanku terjepit ketat sekali sehingga terasa nikmat sekali.
“Nikmat.. sekalii.. uuhh.. aargghh..”
Sekali lagi Nina memekik keras waktu aku mulai mendorong pinggulku maju mundur. Nina menyempitkan lubang pantatnya seperti kalau lagi menahan kentut.

Sensasi yang diterima batang kemaluanku rasanya luar biasa sekali. aku juga mulai mendesah-desah keenakan. Aku memegangi pinggul seksinya dan sesekali menampar pantatnya yang montok sekali. Lalu kutempelkan dadaku ke punggungnya dan mulai meremas-remas payudara melonnya yang menggantung berat dengan gemas. Pasti teman-temanku tidak percaya kalau aku berhasil menyetubuhi Nina, the most wanted girl in campus to sex with! “Uuuhh.. aahh..” desahku ditimpali pekikannya Nina. This girl is really hot!

Tiba-tiba aku merasa ada cairan hangat mulai menjalar ke ujung kepala batang kemaluanku. Tanpa sempat kutahan, air maniku keluar sebagian di dalam pantatnya Nina, sedangkan sebagian meloncat keluar mendarat di punggungnya Nina. Semburan kedua Nina sempat berputar dengan cepat dan menerima air maniku di pipi kirinya. Semburan keempat mendarat ke seluruh wajahnya. Setelah itu ia mulai menjilati seluruh mani di wajahnya dan mengusap-usap pantatnya untuk meraup maniku yang ada di punggung dan pantatnya setelah itu ditelannya sampai habis.

Aku merasa agak lemas tapi puas. Dan parahnya aku kepingin lagi. (Tentu donk!). Dan Nina tahu itu. Dia bilang,
“Dilanjutin saja di kamar.”
“Kamarku atau kamarmu?”
“Kamarku saja. Kamarmu berantakan sih!”
Aku nyengir malu. Lalu tiba-tiba aku meraih tubuhnya dan kugendong dia ke kamarnya. Air yang menetes dari tubuhnya semakin membuatnya tampak menggairahkan karena memantulkan sinar matahari. Sesampainya di kamarnya aku rebahkan di kasurnya dan aku mulai menjilati semua air yang menempel di tubuhnya. Dia mulai mendesah-desah lagi saat kujilati putingnya yang sudah keras lagi. Ia lalu secara tiba-tiba meraih kepalaku dan menekannya keras sehingga aku terbenam dalam-dalam ke payudaranya. Aku mulai menggerigiti putingnya dan sekali lagi (jadinya terus-terusan), Nina memperdengarkan pekikan nikmatnya.

Lalu setelah merasa puas mencicipi payudaranya, aku mulai mengarahkan batang kemaluanku ke dalam vaginanya. Dia memekik kaget saat penetrasi dan langsung kugenjot habis-habisan. Jepitan dinding vaginanya benar-benar yahud deh! Aku mengerang-erang nikmat sekali dan Nina menjerit-jerit keenakan. Lalu aku melumat bibir sensualnya dan dia membalas dengan bergairah. Dada kami bergesekan dan sensasi yang ditimbulkan benar-benar aduhai. Lalu selang beberapa menit kemudian aku keluar lagi tanpa sempat kutahan.

“Niinn.. eemmhh.. keeluuaar.. dii.. daaleemm.. nniihh..” kata-kataku terputus-putus oleh erang nikmat dan sensasi orgasme.
“Nnggakk.. papa.. kooqq..” rupanya dia juga mengalami sensasi yang sama.
Lalu aku ambruk di sampingnya untuk istirahat. Nina juga lelah kelihatannya.
“Rico..”
“Ya?”
“Welcome to the club!” katanya membuatku heran.
“What club?”
“The Orgy Club! Gini lho di sini, di kost-kostan ini, sex is totally free. Sama cewek manapun di kost ini, kamu boleh main semaumu. Dan kalau ceweknya tidak mau, kamu boleh perkosa dia. Di sini ceweknya adalah budak seks. Aku, Wiwik, Rieka, Sabrina yang indo bule itu adalah budak-budak seks cowok di sini. Alex, Leo, Anton, Joko, Mario, Indra, bahkan Mas Deddy yang punya kos, lalu Pak Kasimun satpam sini, dan sekarang kamu berhak merkosa kita berempat.Tapi kami juga boleh minta main kalau kepingin. Dan setiap weekend kita ada orgy di rumahnya Mas Deddy. Istrinya, Mbak Eva, juga anggota klub lho. Pokoknya totally free deh!”

Aku agak kaget dan pusing mendengarnya.
“Semua orang?” tanyaku.
“Pokoknya syaratnya adalah kamu orang kost di sini. Benernya kamu diajak Indra kost ke sini karena dia denger kamu punya kemampuan main sangat dasyat. Dia denger dari mantanmu. Eh sori lho kalau nyinggung perasaanmu tentang mantanmu.”
Aku kaget. Ternyata Indra punya tujuan lain mengajakku kost di sini. Buat melupakan Sarah yang selingkuh dan mengenalkan dunia sex yang lebih bebas. Wahn thank’s Ndra!
“Jadi aku berhak main dengan kalian cewek berempat walaupun kalian tidak mau?”
“Iya!” jawab Nina dengan tersenyum.
“Emm.. weekend itu entar besok. Aku diundang nih?”
“Like i Just said to you, kamu adalah anggota klub ini sekarang. Jadi kamu berhak ke sana.”
“Jadi itu alasan kalian tiap weekend keluar barengan terus?”
“Iya,” terdengar jawaban dari arah pintu.

Kami menoleh ke arah pintu yang lupa kututup. Ternyata si Wiwik, yang bodinya paling proporsional dari mereka. Kubilang dengan dada montok, walaupun tidak semontok Nina. Dia berdiri di depan pintu dengan telanjang bulat. Pinggangnya yang menggiurkan dan kulitnya yang seperti pualam memantulkan sinar marahari. Rupanya ia pakai baby oil sebelum ke sini.

“Eh Wiwik, darimana kamu tahu aku abis main sama Rico?”
“Teriakan khasmu kalau lagi ngentot dan kalian sama sekali tidak menutup pintu kamar mandi dan kamar tidur. Juga dari TV.”
“TV?”
“Iya tiap kamar ada hidden kameranya, termasuk kamar mandi dan kamar tidur. Kami semua tahu kalau kamu tiap mau tidur selalu onani dan para cowok ngiri liat ukuran batang kemaluanmu,” jawab Nina geli.
“Kalau yang cewek?” tanyaku jahil, kepalang tanggung.
“Kita selalu kepengen dientoti sama penis besar kayak punyamu, walaupun tidak panjang. Nina sudah duluan tuh!”
“Ooo dan kamu kepengen?”
“Iya sih!” jawab Wiwiek sambil wajahnya memerah menahan nafsunya.
“Tapi staminaku abis.”
“Nih Irex!” kata Nina ketawa.

Langsung saja kusambar Irex itu dan kuminum dengan semangat. Selang beberapa menit kemudian aku mulai merasa fit lagi dan ready for fight. Wiwik yang sementara itu mengusap-usap puting dan klitorisnya sendiri serta mendesah-desah. Sudah mulai terangsang rupanya. Aku lalu berdiri dan mendekatinya. Kudorong ia ke dinding dan mulai kujilati bibirnya yang tipis itu. Tapi dia menolak dan langsung jongkok. Tanpa basa-basi dia mencaplok batang kemaluanku. Setelah mengusap-usap batang penisku yang di dalam mulutnya dengan lidahnya, dia mulai mengocok-ngocokku dengan memaju-mundurkan kepalanya. Kadang-kadang lidahnya menyusuri bagian bawah batang kemaluanku dan mengemut buah zakarku. “Aahh.. yaahh.. teruss.. terus.. Wik..” aku mendesah-desah, tidak kuat menahan birahi. Dan aktivitas itu berlangsung agak lama.

Lalu aku tidak sabar dan menarik bodinya Wiwik dan merebahkannya di lantai. Lalu kuangkat kedua kakinya yang panjang dan indah ke bahuku dan mulai kugenjot habis-habisan, tidak ada lembut-lembutnya. Ternyata beda dengan Nina, Wiwik hanya mendesah-desah. “Emmhh.. uuhh.. aahh..” Setelah beberapa menit akhirnya aku keluar juga. “Croott.. croot..” semburan silih berganti masuk ke dalam liang vaginanya. “Aaahh..” desahku. “aahh..” desahnya juga.”Aaahh..” ada desah lain. Ternyata Nina masturbasi sampai orgasme. Saat itu Rieka lewat depan kamarnya Nina. Dia berhenti sejenak lalu hendak meneruskan langkahnya ke kamarnya. Kepalang tanggung aku langsung melepaskan diri dari Wiwik dan kuterjang Rieka.

Rieka adalah cewek yang punya bodi agak pendek, tapi lebih tinggi dari Nina sedikit. Payudaranya tidak seberapa besar, lebih besar sedikit dari punyanya Wiwik, tapi sering pakai BH yang agak kekecilan, sehingga tampak sangat menantang. Kalau melangkah payudaranya sering bergetar naik-turun membangkitkan birahi. Rieka yang tidak siap menerima terjanganku kaget dan semua buku yang didekapnya terjatuh. Dia menjerit kaget sehingga menambah nafsuku. Kuseret dia ke kamarku yang di seberang kamarnya Nina, lalu kudorong dia ke dinding kamar. Nafasnya naik-turun membuat payudaranya juga naik-turun menantang untuk dinikmati.

“Ngapain kamu, aku tidak mau dientot sama kamu!” serunya judes.
Dia mendekap payudaranya dengan kedua tangannya.
“Aturan The Orgy Club: Setiap cewek jadi budak seks. Kalau tidak mau boleh diperkosa. Betul Nin?” tanyaku ke Nina tanpa menoleh.
“Yoi man! Rape her as the way you like it!” Nina memberiku semangat.
“Haah.. kamu sudah tahu?”
“Iya. Now enjoy my cock, wether you like it or not!”
“Ahh..” belum sempat Rieka menjawab, tanganku sudah menjangkau kaus ketatnya dan merobeknya sehingga terlihatlah daging payudaranya yang berwarna putih susu.
Lalu kusingkirkan tangannya dan kurenggut BH-nya sampai robek jadi dua. Rieka kelihatan panik.
“Kenapa panik, kamu kan anggota Orgy Club. Budak seks donk?!” kataku menggodanya.
“Ehh.. aku..” belum sempat kalimatnya selesai kulumat bibir sensualnya.

Dia berusaha melepaskan bibirku dari bibirnya dan menjauhkan tanganku dari bodinya. Tidak berhasil karena aku lebih kuat. Kudesak dia ke dinding sambil terus menciumi bibir dan mulutnya. Dia memberontak dan secara tiba-tiba dia berhasil pas dari cengkeramanku. Dia lari keluar kamarku, tapi berhasil kukejar dia dan kudesak lagi ke tiang dinding. Kali ini kujangkau roknya dan kurobek langsung beserta CD-nya. Seketika kuangkat kaki kirinya dan batang kemaluanku langsung kuarahkan masuk ke vaginanya. Mula-mula agak seret tapi lama-lama enak juga. Kugenjot dengan agak cepat. Dia teriak-teriak, “Enggakk.. mmaauu..” atau sesuatu seperti itu deh! tidak jelas soalnya. Dan aku cuek saja beibeh! Surga dunia pantang disia-siakan. Apalagi dia rela diperkosa. Setelah beberapa genjotan, Rieka teriakannya dari “Enggakk.. mmaauu..” berubah menjadi “Doonn’t.. ssttoopp.. uugghh.. ffeellss.. goodd!” Kuperhatikan roman wajahnya yang manis itu menjadi semakin menggairahkan kalau lagi horny begitu.

Setelah beberapa menit aku merasa hendak keluar. Tanpa early warning maupun pertanyaan mau dikeluarin dimana, kusemburkan saja semua sisa sperma yang ada ke dalam rahim Rieka.”Aaahh..” Rieka ternyata juga orgasme. Desahannya barengan dengan desahanku. Air mani beserta spermaku berleleran di sepanjang pahanya yang panjang dan indah. Setelah itu dia dengan gontai pergi ke kamarku untuk mengambil baju dan BH-nya yang robek. Lalu dia menggeletakkan diri di kasurku. Aku susul juga dengan langkah gontai. Ternyata dia tidur, ngorok lagi biarpun tidak keras. Akhirnya aku merebahkan diri di sampingnya. 4 kali senggama dalam dua jam, wuuihh! It’s my first time dude! jadi boleh dong istirahat sekarang. Aku lalu memeluk dia dan tanganku meremas payudaranya yang aduhai itu. Dia cuma mengerang kecil. Akhirnya kami tertidur. Nina dan Wiwik ternyata ngelanjutin aktivitas mereka dengan menjadi lesbian. Bodo ah! Yang penting mereka always ready for use.

TAMAT

Petualangan Villa Cinta

April 29, 2009 pukul 8:19 am | Ditulis dalam Cerita Dewasa, Pesta Seks | Tinggalkan komentar

Pagi-pagi benar handphone-ku sudah bunyi. Aku sedikit kesal dan malas bangun dari tempat tidurku. Tapi bunyinya itu tidak kurang keras, aku malah tidak bisa tidur lagi. Akhirnya aku paksakan juga berdiri dan lihat siapa yang call aku pagi-pagi begini. Eh, tidak tahunya temanku Vivie. Aku sedikit ketus juga menjawabnya, tapi langsung berubah waktu aku tahumaksudnya. Si Vivi mengajakku ikut bareng cowoknya ke vilanya tidak terlalu jauh dari tempatku.Aku sih setuju sekali sama ajakan itu, terus aku tanya, apa aku boleh ajak cowokku. Si Vivi malah tertawa, katanya ya jelas dong, memang harusnya begitu. Rencananya kami bakal pergi besok sore dan kumpul dulu di rumahku.

Singkat cerita kami berempat sudah ngumpul di rumahku. Kami memang sudah saling kenal, bahkan cukup akrab. Alf, cowoknya Vivie teman baik Ricky cowokku. Oh ya, aku belum mengenali aku sendiri ya, namaku Selvie, umurku sekarang 17 tahun, sama-sama Si Vivie, Ricky cowokku sekarang 19 tahun, setahun lebih tua dari Alf cowoknya Vivie. Oke, lanjut ke cerita. Kami berempat langsung cabut ke villanya Vivie. Sekitar setengah jam kami baru sampai. Aku sama Vivie langsung beres-beres, menyimpani barang-barang dan menyiapkan kamar. Ricky sama Si Alflagi main bola di halaman villa. Mereka memang pecandu bola, dan kayaknya tidak bakalan hidup kalau sehari saja tidak menendang bola.

Villa itu punya tiga kamar, tapi yang satu dipakai untuk menyimpani barang-barang. Mulanya aku atur biar aku sama Vivie sekamar, Ricky sama Alf di kamar lain. Tapi waktu aku beres-beres, Vivie masuk dan ngomong kalau dia mau sekamar sama Si Alf. Aku kaget juga, nekad juga ini anak. Tapi aku pikir-pikir, kapan lagi aku bisa tidur bareng Si Ricky kalau tidak di sini. Ya tidak perlu sampai gitu-gituan sih, tapi kan asik juga kalau bisa tidur bareng dia, mumpung jauhdari bokap dan nyokap-ku. Hehehe, mulai deh omes-ku keluar. Oke, akhirnya aku setuju, satu kamar buat Alf dan Vivie, satu kamar lagi buat Ricky sama aku.

Sore-sore kami makan bareng, terus menjelang malam, kami bakar jagung di halaman. Asik juga malam-malam bakar jagung ditemani cowokku lagi. Wah, benar-benar suasananya mendukung. Hehehe, aku mulai mikir yang macam-macam, tapi malu kan kalau ketahuan sama Si Ricky. Makanya aku tetap diam pura-pura biasa saja. Tapi Si Vivie kayaknya memperhatikan aku, dan dia nyengir ke aku, terus gilanya lagi, dia ngomong gini, “Wah… sepertinya suasana gini tidak bakalan ada di Bandung. Tidak enak kalau dilewatin gitu saja ya.” Aku sudah melotot ke arah dia, tapi dia malah nyengir-nyengir saja, malah dia tambahin lagi omongannya yang gila benar itu, “Alf, kayaknya di sini terlalu ramai, kita jalan-jalan yuk!” Aku sudah tidak tahu harus apa, eh Si Alf juga samanya, dia setuju sama ajakan Si Vivie, dan sebelum pergi di ngomong sama Ricky, “Nah, sekarang elu harus belajar bagaimana caranya nahan diri kalau elu cuma berdua sama cewek cakep kayak Si Selvie.” Aku cuma diam, malu juga dong disepet-sepet kayak gitu.

Aku lihati Si Alf sama Si Vivie, bukannya jalan-jalan malahan masuk ke villa. Aku jadi tidak tahu harus ngapain, aku cuma diam, semoga saja Ricky punya bahan omongan yang bisa diomongin. Eh, bukannya ngomong, dia malah diam juga, aku jadi benar-benar bingung. Apa aku harus tetap begini atau nyari-nyari bahan omongan. Akhirnya aku tidak tahan, baru saja aku mau ngomong, eh… Si Ricky mulai buka mulut, “Eh… kamu tidak dingin?” Duer… Aku kaget benar, tidak jadi deh aku mau ngomong, sebenernya aku memang mau ngomong kalau di sini itu dingin dan aku mau ajak dia ke dalam. Tapi tidak jadi, aku tidak sadar malah aku geleng-geleng kepala. Ricky ngomong lagi, “Kalau tidak dingin, mau dong kamu temenin aku di sini, lihat bulan dan bintang, dan… bintang jatuh itu lihat…!” Ricky tiba-tiba teriak sambil menunjuk ke langit. Akukontan berdiri kaget sekali, bukan sama bintang jatuhnya, tapi sama teriakan Si Ricky, aduh… malu benar jadinya. Ricky ikutan berdiri, dia rangkul aku dari belakang, “Sorry, aku tidak punya maksud ngagetin kamu. Cuma aku seneng saja bisa lihat bintang jatuh bareng kamu.”Aku cuma bisa diam, tidak biasanya Ricky segini warm-nya sama aku. Dia malah tidak pernah peluk aku seerat ini biasanya. Aku tengok arlojiku, jam 11.00 malam. Kuajak Ricky ke dalam, sudah malam sekali. Dia setuju sekali, begitu masuk ke villa kami disambut sama bunyi pecah dari lantai atas. Kontan saja kami lari ke atas melihat ada apa di atas. Ricky sampai duluan ke lantai atas, dan di nyengir, terus dia ajak aku turun lagi, tapi aku masih penasaran, memang ada apa di atas. Waktu aku mau ketuk pintu kamar Vivie, tiba-tiba ada teriakan lembut, “Aw… ah… pelan-pelan donk!” Gila aku kaget setengah mati, tapi tanganku sudahkeburu ngetuk pintu. Terus kedengaran bunyi gedubrak-gedubrak di dalam. Pintu dibuka sedikit, Alf nongol sambil nyengir, “Sorry, ngeganggu kalian ya? tidak ada apa-apa kok kami cuma…”Aku dorong pintunya sedikit, dan aku lihat Si Vivie lagi sibuk nutupi badannya pakai selimut. Dia nyengir, tapi mukanya merah benar, malu kali ya. Aku langsung nyengir, “Ya sudah, lanjutin saja, kami tidak keganggu kok.”

Terus aku ajak Ricky ke bawah. Ricky nyengir, “Siapa coba yang tidak bisa nahan diri, hehehe.” Tiba-tiba ada sandal melayang ke arah Ricky, tapi dia langsung ngelak sambil nyengir, terus buru-buru lari ke bawah. Aku ikut-ikutan lari sambil ketawa-ketiwi, dan kami berdua duduk di sofa sambil mendengarkan lagu di radio. Tidak lama kedengaran lagi suara-suara dari atas.Aku tidak tahan dan langsung nunduk menahan ketawa. Gila, bisa-bisanya mereka berdua meneruskan juga olah raga malamnya, padahal sudah jelas-jelas kepergok sama kami berdua. Eh, di luar dugaan aku, Ricky bediri dan mengajakku slow-dance, kebetulan lagu di radio itu lagu saat Ricky ngajak aku jadian. Aku jadi ingat bagaimana deg-degannya waktu Ricky ngomong, dan bagaimana aku akhirnya menerima dia setelah tiga bulan dia terus nunggui aku. Ricky memang baik, dan dia benar-benar setia menungguiku.

Selesai dance, Ricky tanya lagi, “Eh kalau mereka berdua ketiduran, aku tidur dimana? memang tidur sama barang-barang?” aku malu sekali, bagaimana ngomongnya. Tapi akhirnya akubuka mulut, “Kita… kita tidur berdua.” Wah lega sekali waktu omongan itu sudah keluar. Tapiaku takut juga, bagaimana ya reaksi Si Ricky. Eh tahunya dia malah nyengir, “Oke deh kalau kamu tidak masalah. Sebenernya aku juga sudah ngantuk sih, aku tidur sekarang ya.” Aku jadi salah tingkah, Ricky naik ke lantai atas dan tidak sengaja aku panggil dia, “Eh… tunggu!” Ricky berbalik, dia nyengir, “Oke… oke… ayo naik, tidak bagus anak cewek sendirian malam-malam gini.” Aku sedikit canggung juga sih, baru kali ini aku tidur seranjang sama cowok, tapi lama-lama hilang juga. Kami berdua tidak ngapa-ngapain, cuma diam tidak bisa tidur. Dari kamar sebelah masih kedengaran suara Vivie yang mendesah dan menjerit, dan sepertinya itu juga yang bikin Ricky terangsang. Dia mulai berani remas-remas jariku. Aku sih tidak nolak, toh dia khan cowokku. Tapi aku kaget sekali, Ricky duduk terus sebelum aku tahu apa yang bakal dia lakukan,bibirku sudah dilumatnya. Aku mau nolak, tapi kayaknya badan malah kepingin. So, aku biarkan dia cium aku, terus aku balas ciumannya yang semakin lama semakin buas.

Baru saja aku mulai nikmati bibirnya yang hangat di bibirku, aku merasa ada yang meraba tubuhku, disusul remasan halus di dadaku. Aku tahu itu Ricky, aku tidak menolak. Aku biarkan dia main-main sebentar di sana. Ricky makin berani, dia angkat badanku dan diduduki di pinggir ranjang. Dia cium aku sekali lagi, terus dia mau buka pakaian tidurku. Aku tahan tangannya, ada sedikit penolakan di kepalaku, tapi badanku kayaknya sudah kebelet ingin mencoba, kayak apa sih nge-sex itu. Akhirnya tanganku lemas, aku biarkan Ricky buka pakaianku, dia juga buka baju dan celananya sendiri. Dia cuma menyisakan celana dalam putihnya. Aku lihat penisnya yang membayang di balik celana dalamnya, tapi aku malu melihati lama-lama, so aku ganti lihat badannya yang lumayan jadi. Mungkin karena olahraganya yang benar-benar rajin.

Aku tidak tahu apa aku bisa tahan memuaskan Ricky, soalnya aku tahu sendiri bagaimana staminanya waktu dia main bola. 2×45 menit dia lari, dan dia selalu kuat sampai akhir. Aku tidak terbayang bagaimana aksinya di ranjang, jangan-jangan aku harus menerima kocokannya2×45 menit. Gila, kalau gitu sih aku bisa pingsan.

Waktu aku berhenti memikirkan stamina dia dan aku, aku baru sadar kalau bra-ku sudah dilepasnya. Sekarang dadaku telanjang bulat. Aku malu setengah mati, mana Ricky mulai meremas dadaku lagi, yah pokoknya aku tidak tahu harus bagaimana, aku cuma diam, merem siap menerima apa saja yang bakal dia lakukan. Tiba-tiba remasan itu berhenti, tapi ada sesuatu yang hangat di sekitar dadaku, terus berhenti di putingku. Aku melek sebentar, Ricky asik menjilati putingku sambil sesekali mengisap-ngisap. Aku makin malu, mana ini baru pertama kali aku telanjang di depan cowok, apalagi dia bukan adik atau kakakku. Wah benaran malu deh.

Lama-lama aku mulai bisa menikmati bagaimana enaknya permainan lidah Ricky di dadaku, aku mulai berani buka mata sambil melihat bagaimana Ricky menjelajahi setiap lekuk tubuhku. Tapi tiba-tiba aku dikagetkan sesuatu yang menyentuh selangkanganku. Tepat di bagian vaginaku. Aku tidak sadar mendesah panjang. Rupanya Ricky sudah menelanjangiku bulat-bulat. Kali ini jarinya mengelus-elus vaginaku yang sudah basah sekali. Dia masih terus menjilati puting susuku yang sudah mengeras sebelum akhirnya dia pindah ke selangkanganku.

Aku menarik nafas dalam-dalam waktu lidahnya yang basah dan hangat pelan-pelan menyentuh vaginaku naik ke klitoris-ku, dan waktu lidahnya itu menyentuh klitoris-ku, aku tidak sadar mendesah lagi, dan tanganku tidak sengaja menyenggol gelas di meja dekat ranjangku. Lalu “Prang…” gelas akhirnya pecah juga. Ricky berhenti, kayaknya dia mau memberesi pecahan kacanya. Tapi entah kenapa, mungkin karena aku sudah larut dalam nafsu, aku malah pegang tangannya terus aku menggeleng, “Barkan saja, nanti aku beresin. Lanjutin… please…”
Sesudah itu aku lihat Ricky nyengir, terus diciumnya bibirku dan dia melanjutkan permainannya di selangkanganku. Ricky benar-benar jago mainkan lidahnya, benar-benar bikin aku merem-melek keenakan. Terus di mulai melintir-melintir klitorisku pakai bibirnya. Aku seperti kesetrum tidak tahan, tapi Ricky malah terus-terusan melintir-melintiri “kacang”-ku itu. “Euh… ah… ah… ach… aw…” aku sudah tidak tahu bagaimana aku waktu itu, yang jelas mataku buram, semua serasa mutar-mutar. Badanku lemas dan nafasku seperti orang baru lari marathon. Aku benar-benar pusing, terus aku memejamkan mataku, ada lonjakan-lonjakan nikmat di badanku mulai dari selangkanganku, ke pinggul, dada dan akhirnya bikin badanku kejang-kejang tanpa bisa aku kendalikan.

Aku coba atur nafasku, dan waktu aku mulai tenang, aku buka mata, Ricky sudah buka celana dalamnya, dan penisnya yang hampir maksimal langsung berdiri di depan mukaku. Dia megangi batang penisnya pakai tangan kanannya, tangan kirinya membelai rambutku. Aku tahu dia mau di-”karoake”-in, ada rasa jijik juga sih, tapi tidak adil dong, dia sudah muasin aku, masaaku tolak keinginannya. So aku buka mulutku, aku jilat sedikit kepala penisnya. Hangat dan bikin aku ketagihan. Aku mulai berani menjilat lagi, terus dan terus. Ricky duduk di ranjang, kedua kakinya dibiarkan terlentang. Aku duduk di ranjang, terus aku bungkuk sedikit, aku pegang batang penisnya yang besarnya lumayan itu pakai tangan kiriku, tangan kananku menahan badanku biar tidak jatuh dan mulutku mulai bekerja.

Mula-mula cuma menjilati, terus aku mulai emut kepala penisnya, aku hisap sedikit terus kumasukkan semuanya ke mulutku, ternyata tidak masuk, kepala penisnya sudah menyodok ujung mulutku, tapi masih ada sisa beberapa senti lagi. Aku tidak maksakan, aku gerakkan naik-turun sambil aku hisap dan sesekali aku gosok batang penisnya pakai tangan kiriku. Ricky sepertiya puas juga sama permainanku, dia mrlihati bagaimana aku meng-”karaoke”-in dia sambil sesekali membuka mulut sambil sedikit berdesah. Sekitar 5 menit akhirnya Ricky tidak tahan, dia berdiridan mendorong badanku ke ranjang sampai aku terlentang, dibukanya pahaku agak lebar dandijilatnya sekali lagi vaginaku yang sudah kebanjiran. Terus dipegangnya penisnya yang sudah sampai ke ukuran maksimal. Dia mengarahkan penisnya ke vaginaku, tapi tidak langsung dia masukan, dia gosok-gosokkan kepala penisnya ke bibir vaginaku, baru beberapa detik kemudian dia dorong penisnya ke dalam. Seperti ada sesuatu yang maksa masuk ke dalam vaginaku, menggesek dindingnya yang sudah dibasahi lendir.

Vaginaku sudah basah, tetap saja tidak semua penis Ricky yang masuk. Dia tidak memaksa, dia cuma mengocok-ngocok penisnya di situ-situ juga. Aku mulai merem-melek lagi merasakan bagaimana penisnya menggosok-gosok dinding vaginaku, benar-benar nikmat. Waktu aku asik merem-melek, tiba-tiba penis Ricky maksa masuk terus melesak ke dalam vaginaku. “Aw… ah…” vaginaku perih bukan main dan aku teriak menahan sakit. Ricky masih menghentak dua atau tiga kali lagi sebelum akhirnya seluruh penisnya masuk merobek selaput daraku. “Stt… tahan sebentar ya, nanti juga sakitnya hilang.” Ricky membelai rambutku. Di balik senyum nafsunya aku tahu ada rasa iba juga, karena itu aku bertekad menahan rasa sakit itu, aku menggelengkan kepala, “Tidak apa-apa… aku tidak apa-apa. Terusin saja… ah…”

Ricky mulai menggerakkan pinggangnya naik-turun. Penisnya menggesek-gesek vaginaku, mula-mula lambat terus makin lama makin cepat. Rasa sakit dan perihnya kemudian hilang digantikan rasa nikmat luar biasa setiap kali Ricky menusukkan penisnya dan menarik penisnya. Ricky makin cepat dan makin keras mengocok vaginaku, aku sendiri sudah merem-melek tidak tahan merasakan nikmat yang terus-terusan mengalir dari dalam vaginaku. “Tidak lama lagi… tidak bakalan lama lagi…” Ricky ngomong di balik nafasnya yang sudah tidak karuan sambil terus mengocok vagina aku. “Aku juga… ah… oh… sebentar lagi… ah… aw… juga…” aku ngomong tidak jelas sekali, tapi maksudnya aku mau ngomong kalau aku juga sudah hampir sampai klimaks. Tiba-tiba Ricky mencabut penisnya dari vaginaku, dia tengkurapi aku, aku sendiri sudah lemas tidak tahu Ricky mau apa, tapi secara naluri aku angkat pantatku ke atas, aku tahan pakai lututku dan kubuka pahaku sedikit. Tanganku menahan badanku biar tidak ambruk dan aku siap-siap ditusukdari belakang.

Beneran saja Ricky memasukkan penisnya ke vaginaku dari belakang, terus dia kocok lagi vaginaku. Dari belakang kocokan Ricky tidak terlalu keras, tapi makin cepat. Aku sudah sekuat tenaga menahan badanku biar tidak ambruk, dan aku rasakan tangan Ricky meremas-remas dadaku dari belakang, terus jarinya menggosok-gosok puting susuku, bikin aku seperti diserang dari dua arah, depan dan belakang. Ricky kembali mengeluarkan penisnya dari vaginaku, kali ini dimasukkannya ke anusku. Dia benar-benar memaksakan penisnya masuk, tapi tidak semuanya bisa masuk. Ricky sepertinya tidak peduli, dia mengocok anusku seperti mengocok vaginaku, kali ini cuma tangan kirinya yang meremas dadaku, tangan kanannya sibuk main-main di selangkanganku, dia masukkan jari tengahnya ke vaginaku dan jempolnya menggosoki klitorisku.

Aku makin merem-melek, anusku dikocok-kocok, klitorisku digosok-gosok, dadaku diremas-remas dan putingnya dipelintir-pelintir, terus vaginaku dikocok-kocok juga pakai jari tengahnya. Aku benar-benar tidak kuat lagi, akhirnya aku klimaks, dan aku merasakan Ricky juga sampai klimaks, dari anusku kerasa ada cairan panas muncrat dari penis Ricky. Akhirnya aku ambruk juga, badanku lemas semua. Aku lihat Ricky juga ambruk, dia terlentang di sebelahku. Badannya basah karena keringat terus, kupegang badanku, ternyata aku juga basah keringatan. Benar-benar kenikmatan yang luar biasa.Tidak tahu berapa lama aku ketiduran, waktu akhirnya aku bangun. Aku lihat arloji, sudah jam 2 subuh. Leherku kering, tapi waktu aku mau minum, aku ingat gelas di kamarku sudah pecah gara-gara kesenggol. Aku lihat ke lantai, banyak pecahan kaca, terus aku ambil sapu, aku sapu dulu ke pinggir tembok. Aku turun ke bawah, maksudnya sih mau ambil minum di bawah, aku masih telanjang sih, tapi aku cuek saja. Aku pikir si Alf pasti masih tidur soalnya dia pasti capai juga olah raga malam bareng Si Vivie.

Aku turun dan mengambil air dingin di kulkas. Kebetulan villanya Vivie lumayan mewah, ada kulkas dan TV. Aku ambil sebotol Aqua, terus sambil jalan aku minum. Aku duduk di sofa, rencananya sih aku cuma mau duduk-duduk sebentar soalnya di kamar panas sekali. Tidak tahu kenapa, tapi aku akhirnya ketiduran dan waktu aku bangun aku kaget setengah mati. Aku lihatSi Alf dengan santainya turun dari tangga langsung menuju kulkas, kayaknya mau minum juga.

Aku bingung harus menutupi badanku pakai apa, tapi aku telat Si Alf sudah membalik duluan dan dia melongo melihat aku telanjang di depannya. Dia masih melihatiku waktu aku menutupi selangkanganku pakai tangan, tapi aku sadar sekarang dadaku kelihatan, makanya tanganku pindah lagi ke dada, terus pindah lagi ke bawah, aku benar-benar bingung harus bagaimana, aku malu setengah mati.

Alf akhirnya berbalik,
“Sorry, aku pikir kamu masih tidur di kamar. Jadi… jadi…”
“Tidak apa-apa, ini salahku.”
Aku masih mencari-cari sesuatu untuk menutupi badanku yang telanjang polos, waktu akhirnya aku juga sadar kalau Alf juga telanjang. Sepertinya dia pikir aku masih di kamar sama Si Ricky, makanya dia cuek saja turun ke bawah. Aku pikir sudah terlambat untuk malu, toh Alf sudah melihatku dari atas sampai ke bawah polos tanpa sehelai benangpun, apalagi aku sudah tidak perawan lagi, so malu apa. Cuek saja lah. “Kamu sudah boleh balik, aku tidak apa-apa.” Aku mengambil remot TV terus menyalakan TV. Aku setel VCD, aku pikir bagus juga aku rileks sebentar sambil nonton TV. Alf juga sepertinya sudah cuek, dia berbalik tapi tidak lagi melongo melihatiku telanjang, dia duduk sambil ikut nonton TV.

Gilanya yang aku setel malah VCD BF. Tapi sudah tanggung, aku tonton saja, peduli amat apa kata Si Alf, yang penting aku bisa istirahat sambil nonton TV.
“Bagaimana semalem?” aku buka percakapan dengan Alf.
Dia berbalik, “Hebat, Vivie benar-benar hebat.”
Alf sudah bisa nyengir seperti biasanya.
Aku mengangguk, “Ricky juga hebat, aku hampir pingsan dibikinnya.”
Alf nyengir lagi, lalu kami ngobrol sambil sesekali menengok TV. Kayaknya tidak mungkin ada cowok yang tahan ngobrol tanpa mikirin apa-apa sama cewek yang lagi telanjang, apalagi sambil nonton film BF. Tiap kali ngomong aku tahu mata Alf selalu nyasar ke bawah, ka dadaku yang memang lumayan menggoda. Aku tidak memuji sendiri, tapi memang dadaku cukup oke, ranum menggoda, bahkan lebih seksi dari kepunyaan Vivie, itu sebabnya Alf tidak berhenti-berhenti melihati dadaku kalau ada kesempatan. Ada sedikit rasa bangga juga dibalik rasa maluku,dan sekilas kulihat penis Alf yang mulai tegang. Aku nyengir dan sepertinya Alf tahu apa yang aku pikirkan.

Dia pegang tanganku, “Boleh aku pegang, itu juga kalau kamu tidak keberatan.” Wah berani juga dia, aku jadi sedikit tersanjung, terus aku mengangguk. Alf pindah ke sebelahku, dia peluk aku dan tangannya mulai remas-remas dadaku. Mula-mula dia sedikit ragu-ragu, tapi begitu tahu kalau aku tidak nolak dia mulai berani dan makin lama makin berani, dan jarinya mulai nakal memelintir puting susuku. Aku mulai merem-melek sambil memutar badanku. Sekarang aku duduk di paha Alf berhadap-hadapan. Alf langsung menyambar putingku dan lidahnya langsung beraksi. Aku sendiri sudah kebawa nafsu, aku mulai mengocok penisnya pakai tanganku dan sepertinya Alf juga puas dengan permainanku. Aku mulai terbawa nafsu, dan aku sudah tidak peduli apa yang dia lakukan, yang jelas enak buatku.

Alf menggendongku, kupikir mau dibawa ke kamar mandi, soalnya kamar di atas ada Vivie sama Ricky, tapi tebakanku keliru. Dia malah menggendongku ke luar, ke halaman villa. Aku kaget juga, bagaimana kalau ada yang lihat kami telanjang di luar. Tapi begitu Alf buka pintu luar, aku melihat di seberang villa, sepasang cowok-cewek lagi sibuk nge-sex. Cewek itu mendesah-desah sambil sesekali berteriak. Aku lihat lagi ke sekitarnya, ternyata banyak juga yang nge-sex di sana. Rupanya villa-villa di sekitar sini memang tempatnya orang-orang nge-sex. “Bagaimana? kita kalahkan mereka?” Alf nyengir sambil menggendongku. Aku ikutan nyengir, “Siapa takut?” terus Alf meniduriku di rumput. Dingin juga sisa air hujan yang masih membasahi rumput, punggungku dingin dan basah tapi dadaku lebih basah lagi sama liurnya Si Alf. Udara di luar itu benar-benar dingin, sudah di pegunungan, subuh-subuh lagi. Wah tidak terbayang bagaimana dinginnya deh. Tapi lama-lama rasa dingin itu hilang, aku malah makin panas dan nafsu, apalagi Alf jago benar mainkan lidahnya. Sayup-sayup aku mendengarkan suara cewek dari villa seberang yang sudah tidak karuan dan tidak ada iramanya. Aku makin nafsu lagi mendengarnya, tapi Alf sepertinya lebih nafsu lagi, dia itu seperti orang kelaparan yang seolah bakal nelan dua gunung kembarku bulat-bulat.

Lama juga Alf main-main sama dadaku, dan akhirnya dia pegang penisnya minta aku meng-”karaokei”-in itu penis yang besarnya lumayan juga. Gara-gara tadi malam aku sudah mencoba meng-”karaokei”-in penis Ricky, sekarang aku jadi kecanduan, aku jadi senang juga meng-”karaoke”-in penis, apalagi kalau besarnya lumayan seperti punya Si Alf. Makanya tidak usah disuruh dua kali, langsung saja aku caplok itu penis. Aku tidak mau kalah sama permainan dia di dadaku, aku hisap itu penis kuat-kuat sampai kepalanya jadi ungu sekali. Terus kujilati mulai dari kepalanya sampai batang dan pelirnya juga tidak ketinggalan.

Kulihat Alf melihati bagaimana aku main di bawah sana. Sesekali dia buka mulut sambil berdesah menahan nikmat. Aku belum puas juga, kukocok batang penisnya pakai tanganku dan kuhisap-hisap kepalanya sambil kujilati pelan-pelan. Alf merem-melek juga dan tidak lama dia sudah tidak tahan lagi, sepertinya sih mau keluar, makanya dia cepat-cepat melepaskan penisnya dari mulutku. Aku tahu dia tidak mau selesai cepat-cepat, makanya aku tidak ngotot meng-”karaoke”-in penisnya lagi.

Alf sengaja membiarkan penisnya istirahat sebentar, dia suruh aku terlentang sambil mengangkang. Aku menurut saja, aku tahu Alf jago mainkan lidahnya, makanya aku senang sekali waktu dia mulai jilati bibir vaginaku yang sudah basah sekali. Benar saja, baru sebentaraku sudah dibikin merem-melek gara-gara lidahnya yang jago sekali itu. Sepertinya habis semua bagian vaginaku disapu lidahnya, mulai dari bibirnya, klitorisku, sedikit ke dalam ke daerah dinding dalam, sampai anusku juga tidak ketinggalan dia jilati.

Aku dengarkan, sepertinya pasangan di seberang sudah selesai main, soalnya sudah tidak kedengaran lagi suaranya, tapi waktu aku lihat ke sana, aku kaget. Cewek itu lagi meng-”karaoke”-in cowok, tapi bukan cowok yang tadi. Cowok yang tadi nge-sex sama dia lagimembersihkan penisnya, mungkin dia sudah puas. Sekarang cewek itu lagi meng-”karaoke”-in cowok lain, lebih tinggi dari cowok yang tadi. Gila juga itu cewek nge-sex sama dua cowok sekaligus. Tapi aku tarik lagi omonganku, soalnya aku ingat-ingat, aku juga sama saja sama dia. Baru selesai sama Ricky, sekarang sama Alf. Wah ternyata aku juga sama gilanya. Aku nyengir sebentar, tapi terus merem-melek lagi waktu Alf mulai melintir-melintir klitorisku pakai bibirnya.

Alf benar-benar ahli, tidak lama aku sudah mulai pusing, aku lihat bintang di langit jadi tambah banyak dan kayaknya mutar-mutar di kepalaku. Aku benar-benar tidak bisa ngontrol badanku. Ada semacam setrum dari selangkanganku yang terus-terusan bikin aku gila. “Ah… ah… Alf… Ah… berhenti dulu Alf… Ah… Ah… Shhh…” aku tidak tahan sama puncak nafsuku sendiri. Tapi Alf malah terus-terusan melintir-melintir klitorisku. Aku benar-benar tidak tahan lagi, aku kejang-kejang seperti orang ayan, tapi sudahnya benar-benar enak sekali, beberapa menit lewat, semua badanku masih lemas, tapi aku tahu ini belum selesai.

Sekarang bagianku bikin Alf merem-melek, makanya aku paksakan duduk dan mulai menungging di depan Alf. Alf sendiri sepertinya memang sudah tidak tahan ingin mengeluarkan maninya, dia tidak menunggu lama lagi, langsung dia tusukkan itu penis ke vaginaku. Ada sedikit rasa sakit tapi tidak sesakit pertama vaginaku dimasukkan penis Ricky. Alf tidak menunggu lama lagi, dia langsung mengocok vaginaku dan tangannya tidak diam, langsung disambarnya dadaku yang makin ranum karena aku menungging. Diremasnya sambil dipelintir-pelintir putingnya. Aku tidak tahan digituin, apalagi badanku masih lemas, tanganku lemas sekali, untuk menahan hentakan-hentakan waktu Alf menyodokkan penisnya saja sudah tidak kuat. Aku ambruk ke tanah, tapi Alf masih terus mengocokku, dari belakang.

“Ah… euh… ah… aw…” aku cuma bisa mendesah setiap kali Alf menyodokkan penisnya ke vaginaku. Aku coba mengangkat badanku tapi aku tidak kuat, akhirnya aku menyerah, aku biarkan badanku ambruk seperti gitu. Alf memutarkan badanku, terus disodoknya lagi vaginaku dari depan. Aku sudah tidak bisa ngapa-ngapain, setiap kali Alf menyodokkan penisnya selain dinding vaginaku yang tergesek, klitorisku juga tergesek-gesek, makanya aku makin lemas dan merem-melek keenakan.

Alf memegang kaki kiriku, terus diangkatnya ke bahu kanannya, terus dia mengangkat kaki kananku, diangkatnya ke bahu kirinya. Aku diam saja, tidak bisa menolak, posisi apa yang dia ingin terserah, pokoknya aku ingin cepat-cepat disodok lagi. Aku tidak tahan ingin langsung dikocok. Ternyata keinginanku terkabul, Alf menyodokku lagi, kakiku dua-duanya terangkat, mengangkang lagi, makanya vaginaku terbuka lebih lebar dan Alf makin leluasa mengocok-ngocokkan penisnya. Vaginaku diaduk-aduk dan aku bahkan sudah tidak bisa lagi berdesah, aku cuma bisa buka mulut tapi tidak ada suara yang keluar.

“Aku mau keluar, aku mau keluar…” Alf membisikkan sambil ngos-ngosan dan masih terus mengocokku.
“Jangan di… jangan di dalam. Ah… ah… oh… aku… aku tidak mau… hamil.”
Aku cuma bisa ngomong gitu, seenggannya maksud aku ngomong gitu, aku tidak tahu apa suaraku keluar atau tidak, pokoknya aku sudah usaha, itu juga sudah aku paksa-paksakan. Aku tidaktahu apa Alf ngerti apa yang aku omongin, tapi yang jelas dia masih terus mengocokku.

Baru beberapa detik lewat, dia mencabut penisnya, kakiku langsung ambruk ke tanah. Alf mengangkang di perutku, dan dia selipkan penisnya ke sela-sela dadaku yang sudah montok sekali soalnya aku sudah dipuncak nafsu. Kujepit penisnya pakai dadaku, dan Alf mengocok-ngocok seolah masih di dalam vaginaku. Tidak lama maninya muncrat ke muka dan sisanya di dadaku. Aku sendiri klimaks lagi, kulepaskan tanganku dari dadaku, maninya mengalir ke leherku, dan mani yang di pipiku mengalir ke mulutku. Aku bahkan tidak bisa menutup mulutku, aku terlalu lemas. Aku biarkan saja maninya masuk dan aku telan saja sekalian.

Belum habis lemasku, Alf sudah menempelkan penisnya ke bibirku. Aku memaksakan menjilati penisnya sampai bersih terus aku telan sisa maninya. Alf menggendongku ke dalam, terus dia membaringkanku di sofa. Aku lemas sekali makanya aku tidak ingat lagi apa yang terjadi selanjutnya. Yang jelas baru jam 8.00 aku baru bangun. Begitu aku buka mata, aku sadar aku masih telanjang. Aku memaksakan duduk, dan aku kaget kenapa aku ada di kamar Vivie. Terus yang bikin aku lebih kaget lagi, aku lihat sebelah kiriku Alf masih tidur sedangkan di kananku Ricky juga masih tidur. Mereka berdua juga masih telanjang seperti aku.

Belum habis kagetku, Vivie keluar dari kamar mandi di kamarku, dia lagi mengeringkan rambutnya dan sama-sama masih telanjang. Baru akhirnya aku tahu kalau semalam Vivie bangun dan melihat aku lagi nge-sex sama Alf. dia sih tidak marah, soalnya yang penting buat dia Alf cinta sama dia, soal Alf memuaskan nafsu sama siapa, tidak masalah buat dia. Ternyata Vivie melihat dari jendela bagaimana aku sama Alf nge-sex dan Ricky yang juga bangun subuh-subuh kaget melihat aku lagi nge-sex sama Alf. Dia keluar kamar, sepertinya mau melihat apa benar aku lagi nge-sex sama Alf, tapi dia sempat menengok ke kamar sebelah dan melihat Vivie yang lagi nonton aku sama Alf nge-sex dari jendela. Ricky langsung dapat ide, so dia masuk ke dalam dan mengajak Vivie nge-sex juga. Singkat cerita mereka akhirnya nge-sex juga di kamar. Dan waktu aku sama Alf selesai, Alf menggendongku ke atas dan melihat Ricky sama Vivie baru saja selesai nge-sex. Makanya kami berempat akhirnya tidur bareng di kamarnya telanjang bulat.

Hehehe, tidak masalah, kami berempat malah makin dekat. Nanti malam juga kami bakalan nge-sexlagi berempat, tidak masalah buat aku Ricky atau Alf yang jadi pasanganku, yang penting aku puas. Tidak masalah siapa yang muasin aku.

Seperti rencana kami semula, malam itu juga kami nge-sex berempat bareng-bareng. Asik juga sekali-kali nge-sex bareng seperti gitu. Ricky masih tetap oke walaupun dia sudah ngocok Vivie duluan. Aku masih kewalahan menghadapi penisnya yang memang gila itu. Alf juga tidak kalah, biarkan dia masih ngos-ngosan waktu selesai ngocok aku, dia langsung sambar Vivie yang juga baru selesai sama Ricky. Terus kami nge-sex lagi sampai akhirnya sama-sama puas. Aku puas sekali, soalnya baru kali ini aku dipuasi dua cowok sekaligus tanpa jeda. Baru saja selesai satu, yang satunya sudah menyodok-nyodok penisnya ke vaginaku. Pokoknya benar-benar puas sekali deh aku.

Masuk ke cerita, malam ini kami rencana tidak akan nge-sex lagi, soalnya sudah capai sekali dua hari gituan melulu. Makanya Ricky sama Alf langsung menghilang begitu matahari mulai teduh. Mereka sih pasti main bola lagi, tidak bakalan jauh dari itu. Vivie menghabiskan waktunya di villa, kayaknya dia capai sekali, hampir seharian dia di kamar. Aku jadi bosan sendirian,makanya aku putuskan aku mau jalan-jalan. Kebetulan di dekat situ ada air terjun kecil. Akurencana mau menghabiskan hari ini berendam di sana, biar badanku segar lagi dan siap tempur lagi. Aku tidak langsung ke air terjun, aku jalan-jalan dulu mengelilingi kompleks villa itu. Besar juga, dan villanya keren-keren. Ada yang mirip kastil segala. Sepanjang jalan aku ketemu lumayan banyak orang, rata-rata sih orang-orang yang memang lagi menghabiskan waktu di villa sekitar sini. Hampir semua orang yang ketemu melihati aku. Dari mulai cowok keren yang adadi halaman villanya, om-om genit yang sibuk menggodai cewek yang lewat sampai tukang kebun di villa juga melihati aku. Aku sih cuma nyengir saja membalas mata-mata keranjang mereka.

Tidak aneh sih kalau mereka melihatiku, masalahnya aku memang pakai baju pas-pasan, atasanku kaos putih punyanya Si Vivie yang kesempitan soalnya kamarku dikunci dan kuncinya terbawa Ricky. Aku malas mencari dia, makanya aku pakai saja kaos Si Vivie yang ada di meja setrika. Itu juga aku tidak pakai bra, soalnya bra Vivie itu sempit sekali di aku. memang sih dadaku jadi kelihatan nonjol sekali dan putingnya kelihatan dari balik kaos sempit itu, tapi aku cuek saja, siapa yang malu, ini kan kawasan villa buat nge-sex, jadi suka-suka aku dong.

Oh ya aku jadi lupa, bawahan aku lebih gila lagi. Aku tidak tega membangunkan Vivie cuma untuk minjam celana atau rok, kebenaran saja ada Samping Bali pengasih Ricky bulan lalu, ya aku pakai saja. Aku ikat di kananku, tapi tiap kali aku melangkah, paha kananku jadi terbuka, ya cuek saja lah. Apa salahnya sih memarkan apa yang bagus yang aku punya, benar tidak?

Singkat cerita, aku sampai ke air terjun kecil itu. Aku jalan-jalan mencari tempat yang enak buat berendam. Kaosku mulai basah dan dadaku makin jelas kelihatan, apalagi Samping yang aku pakai, sudah basah benar-benar kena cipratan air terjun. Enak juga sih segar, tapi lama-lama makin susah jalannya, soalnya Samping aku jadi sering keinjak. Aku jadi ingin cepat-cepat berendam, soalnya segar sekali airnya, dan waktu aku menemui tempat yang enak, aku siap-siap berendam, aku lepas sandalku. Tapi waktu aku mau melepas Samping-ku tiba-tiba ada tangan yang memegang bahuku, aku berbalik ternyata seorang cowok menodongi pisau lipat ke leherku. Aku kaget camput takut, tapi secara naluri aku diam saja, salah-salah leherku nanti digoroknya.

“Mau… mau apa lo ke gue?” aku tanya ke orang yang lagi nodong pisau ke aku. Aku tidak berani lihat mukanya, soalnya aku takut sekali. Ternyata cowok itu tidak sendiri, seorang temannyamuncul dari balik batu, rupanya mereka memang sudah ngincar aku dari tadi. Temannya itu langsung buka baju dan celana jeans-nya. Aku tebak kalau mereka mau memperkosa aku. Ternyata tebakanku benar, orang yang menodongi pisau bicara, “Sekarang lo buka semua baju lo, cepet sebelum kesabaran gue habis!” Aku jadi ingat bagaimana korban-korban perkosaan yang akulihat di TV, aku jadi ngeri. Jangan-jangan begitu mereka selesai perkosa aku, aku dibunuh. Makanya aku beranikan diri ngomong kalau aku tidak keberatan muasin mereka asal mereka tidak bunuh aku.

“Oke… oke, aku buka baju. Kalem saja, aku tidak masalah muasin elu berdua, tapi tidak usah pakai nodong segala dong.” Aku berusaha ngomong, padahal aku lagi takut setengah mati. Orang yang nodongin pisau malah membentak aku, “Goblok, mana ada cewek mau diperkosa, elu jangan macem-macem ya!” Aku makin takut, tapi otakku langsung bekerja, “Santai dong, emangnya gue berani pakai baju ginian kalau gue tidak siap diperkosa orang? Lagian apa gue bisa lari pakai samping kayak ginian?” Kedua orang itu melihati aku, terus akhirnya pisau itu dilipat lagi. Aku lega setengah mati, tapi ini belum selesai, aku masih harus puasin mereka dulu.

Aku mulai buka Samping-ku, “Maunya bagaimana, berdua sekaligus atau satu-satu?” Orang yang tadi nodongin pisau melihat ke orang yang satunya, “Eloe dulu deh. Gue lagi tidak begitu mood.” Temannya mengangguk-angguk dan langsung mencaplok bibirku. Aku lihat-lihat, ganteng juga nih orang. Aku balas ciumannya, dia sepertinya mulai lebih halus, pelan-pelan dia remas dadaku dan tahu-tahu aku sudah ditiduri di atas batu yang lumayan besar. Dia tidak langsung main sodok, dia lebih senang main-main sama dadaku, makanya aku jadi lebih rileks, so aku bisa menikmati permainannya.

“Ah… yeah… ah… siapa… siapa nama loe?” aku tanya dibalik desahan-desahanku menahan nikmat. Dia nyengir, mirip sekali Si Alf, dia terus membuka celana dalam birunya, dan penisnya yang sudah tegang sekali langsung nongol seperti sudah tidak sabar ingin menyodokku. Tidak usah disuruh, aku langsung jongkok, tanganku memegang batangnya dan ternyata masih menyisa sekitar 5 – 7 senti. Aku jilat kepala penisnya terus aku kulum-kulum penisnya. Dia mulai menikmati permainanku, “Oke… terus… terus… Yeah…” Ternyata ada juga cowok yang suka berdesah-desah kayak gitu kalau lagi nge-sex. Aku berhenti sebentar,
“Belum dijawab?”
“Oh, sorry. Nama gue Jeff.”
Dia menjawab sambil terus merem-melek menikmati penisnya yang aku kulum dan kuhisap-hisap. Kulihat-lihat sepertinya aku kenal suaranya.
“Elo tinggal di sini juga ya, elu yang lusa kemarin ngentot di halaman villa?”
Jeff kaget juga waktu aku ngomong gitu.
“Memang elu tahu dari mana?”
Aku nyengir terus aku teruskan lagi menghisap penisnya yang sudah basah sekali sama liurku.

Aku berhenti lagi sebentar, “Gue lihat elu. Gila lu ya ! berdua ngentotin cewek, keliatannya masih kecil lagi.” Jeff nyengir, “Itu adik kelas gue, dia baru 15 tahun, tapi bodinya oke sekali. Gue ajakin ke sini, dan gue entot bareng Si Lex. Dia sendiri sepertinya suka digituin sama kami berdua.” Aku tidak meneruskan lagi, aku berhenti dan langsung cari posisi yang enak buat nungging. Jeff mengerti maksudku, dia langsung menyodok penisnya ke vaginaku bareng sama suara eranganku. Terus dia mulai mengocok, mulanya sih pelan-pelan terus tambah cepat. Terus dan terus, aku mulai merem-melek dibikinnya. Terus dia cabut penisnya, aku digendong dan dia masukkan penisnya lagi ke vaginaku. Terus dia mengocok aku sambil bediri, seperti gaya ngocoknya Tom Cruise di film Jerry Maguire. Vaginaku seperti ditusuk-tusuk keras sekali dan aku makin merem-melek dibuatnya. Dan akhirnya aku tidak tahan lagi, aku kejang-kejang dan aku menjerit panjang. Pandanganku kabur, dan aku pusing. Aku hampir saja jatuh kalau Jeff tidak cepat-cepat memegangi pinggangku.

Aku lagi nikmati puncak kepuasanku, tiba-tiba seorang sedang mendekatiku, sepertinya sekarang dia nafsu sekali gara-gara mendengarkan desahan-desahanku. Dia sudah telanjang dan penisnya sudah tegang sekali. Aku tahu dari mukanya kalau dia sedikit kasar, makanya aku tidak banyak cing-cong lagi, aku langsung maksakan bangun dan jongkok meng-”karaoke”-in penisnya. Penisnya sih tidak besar-besar sekali, tapi aku ngeri juga melihat otot-otot di sekitar paha dan pantatnya. Jangan-jangan dia kalau ngocok sekeras-kerasnya. Bisa-bisa vaginaku jebol.

Lama juga aku meng-”karaoke”-in penisnya, dan akhirnya dia suruh aku berhenti. Aku menurut saja, dan langsung ambil posisi menungging. Aku sudah pasrah kalau dia bakal menyodok-nyodok vaginaku, tapi kali ini tebakanku salah. Dia tidak masukkan penisnya ke vaginaku, tapi langsung ke anusku. “Ah… aduh…” anusku sakit soalnya sama sekali tidak ada persiapan. Tapi rupanya Lex tidak peduli, dia tetap maksakan penisnya masuk dan memang akhirnya masuk juga. Walaupun penisnya kecil tapi kalau dipakai nyodok anus sih ya sakit juga. Benar dugaan aku, dia kalau nyodok keras sekali terus tidak pakai pemanasan-pemanasan dulu, langsung kecepatan tinggi. Aku cuma bisa pasrah sambil menahan perih di anusku. Dadaku goyang-goyang tiap kali dia menyodok anusku, dan sepertinya itu membuat dia makin nafsu. Dia tambah kecepatan dan mulai meremas dadaku.

Benar-benar kontras, dia mengocok anusku cepat dan keras, tapi dia meremas dadaku halus sekali dan sesekali melintir-melintir putingnya. Mendadak rasa sakit di anusku hilang, aku mulai merasakan nikmatnya permainan tangannya di dadaku. Belum habis aku nikmati dadaku diremas-remas, tangan kirinya turun ke vaginaku dan langsung menyambar klitorisku, mulai dari digosok-gosok sampai dipelintir-pelintir. Rasa sakit kocokannya sudah benar-benar hilang, sekarang aku cuma merasakan nikmatnya seluruh tubuhku.

Aku mulai merem-melek kegilaan dan akhirnya aku sampai ke puncak yang kedua kalinya hari itu, dan bersamaan puncak kenikmatanku, aku merasakan cairan hangat muncrat di anusku, aku tahu Lex juga sudah sampai puncak dan aku sudah lemas sekali, akhirnya aku ambruk. Mungkin aku kecapaian soalnya tiga hari ini aku terus-terusan mengocok, tidak sama satu orang lagi, selalu berdua. Aku masih sempat lihat Jeff menggendong aku sebelum akhirnya aku pingsan. Aku tidak tahu aku dimana, tapi waktu aku bangun, aku kaget melihat Ricky lagi mengocok cewek. Cewek itu sendiri sibuk mengulum-ngulum penisnya Alf. Aku paksakan berdiri, dan waktu aku lihat di sofa sebelah, ada pemandangan yang hampir sama, bedanya Jeff yang lagi sibuk mengocok cewek dan aku lihat-lihat ternyata cewek itu Vivie. Vivie juga sibuk mengulum-ngulum penis Lex. Aku jadi bingung, tapi aku tetap diam sampai mereka selesai main.

Terus aku dikenali sama cewek mungil yang tadi nge-sex bareng Ricky dan Alf, namanya Angel. Aku baru ingat kalau tadi aku pingsan di air terjun habis muasin Jeff sama Lex. Ternyata Jeff bingung mau bawa aku ke mana, kebenaran Ricky dan Alf lewat. Mereka sempat ribut sebentar, tapi akhirnya akur lagi, dengan catatan mereka bisa menyicipi Angel ceweknya Jeff sama Lex. Angel sendiri setuju saja sama ajakan Ricky sama Alf, dan waktu mereka lagi mengocok, Vivie kebetulan lewat. Alf memanggil dia dan dikenali sama Jeff dan Lex, terus mereka akhirnya nge-sex juga. Makin asik juga, sekarang tambah lagi satu cewek dan dua cowok di kelompok kami, dan seterusnya kami jadi sering main ke villa itu untuk muasin nafsu kami masing-masing. Dan kami kasih nama kelompok kami “MAGNIFICENT SEVEN”.

TAMAT

Pacarku dan adik adiknya

April 29, 2009 pukul 8:17 am | Ditulis dalam Cerita Dewasa, Pesta Seks | Tinggalkan komentar

Cerita ini berawal ketika aku pacaran dengan Dian. Dian adalah seorang gadis mungil dengan tubuh yang seksi dan dibalut oleh kulit yang putih mulus. Walaupun payudaranya tidak terlalu besar, ya… kira-kira berukuran 34 lah. Selama pacaran, kami belum pernah berhubungan badan. Hanya saja kalau nafsu sudah tidak bisa ditahan, biasanya kami melakukan oral seks.

Dian memiliki dua orang adik perempuan yang cantik. Adiknya yang pertama, namanya Elsa, juga mempunyai kulit yang putih mulus. Namun payudaranya jauh lebih besar daripada kakaknya. Menurut kakaknya, ukurannya 36B. Inilah yang selalu menjadi perhatianku kalau aku sedang ngapel ke rumah Dian. Payudaranya yang berayun-ayun kalau sedang berjalan, membuat penisku berdiri tegak karena membayangkan betapa enaknya memegang payudaranya. Sedangkan adiknya yang kedua masih kelas 2 SMP. Namanya Agnes. Tidak seperti kedua kakaknya, kulitnya berwarna sawo matang. Tubuhnya semampai seperti seorang model cat walk. Payudaranya baru tumbuh. Sehingga kalau memakai baju yang ketat, hanya terlihat tonjolan kecil dengan puting yang mencuat. Walaupun begitu, gerak-geriknya sangat sensual.

Pada suatu hari, saat di rumah Dian sedang tidak ada orang, aku datang ke rumahnya. Wah, pikiranku langsung terbang ke mana-mana. Apalagi Dian mengenakan daster dengan potongan dada yang rendah berwarna hijau muda sehingga terlihat kontras dengan kulitnya. Kebetulan saat itu aku membawa VCD yang baru saja kubeli. Maksudku ingin kutonton berdua dengan Dian. Baru saja hendak kupencet tombol play, tiba-tiba Dian menyodorkan sebuah VCD porno.
“Hei, dapat darimana sayang?” tanyaku sedikit terkejut.
“Dari teman. Tadi dia titip ke Dian karena takut ketahuan ibunya”, katanya sambil duduk di pangkuanku.
“Nonton ini aja ya sayang. Dian kan belum pernah nonton yang kayak gini, ya?” pintanya sedikit memaksa.
“Oke, terserah kamu”, jawabku sambil menyalakan TV.

Beberapa menit kemudian, kami terpaku pada adegan panas demi adegan panas yang ditampilkan. Tanpa terasa penisku mengeras. Menusuk-nusuk pantat Dian yang duduk di pangkuanku. Dian pun memandang ke arahku sambil tersenyum. Rupanya dia juga merasakan.
“Ehm, kamu udah terangsang ya sayang?” tanyanya sambil mendesah dan kemudian mengulum telingaku. Aku hanya bisa tersenyum kegelian. Lalu tanpa basa-basi kuraih bibirnya yang merah dan langsung kucium, kujilat dengan penuh nafsu. Jari-jemari Dian yang mungil mengelus-elus penisku yang semakin mengeras.

Lalu beberapa saat kemudian, tanpa kami sadari ternyata kami sudah telanjang bulat. Segera saja Dian kugendong menuju kamarnya. Di kamarnya yang nyaman kami mulai melakukan foreplay. Kuremas payudaranya yang kiri. Sedangkan yang kanan kukulum putingnya yang mengeras. Kurasakan payudaranya semakin mengeras dan kenyal. Kuganti posisi. Sekarang lidahku liar menjilati vaginanya yang basah. Kuraih klitorisnya, dan kugigit dengan lembut.

“Aahh… ahh… sa.. sayang, Dian udah nggak kuat… emh… ahh… Dian udah mau keluar… aackh… ahh… ahh!” Kurasakan ada cairan hangat yang membasahi mukaku. Setelah itu, kudekatkan penisku ke arah mulutnya. Tangan Dian meremas batangku sambil mengocoknya dengan perlahan, sedangkan lidahnya memainkan buah pelirku sambil sesekali mengulumnya. Setelah puas bermain dengan buah pelirku, Dian mulai memasukkan penisku ke dalam mulutnya. Mulutnya yang mungil tidak muat saat penisku masuk seluruhnya. Tapi kuakui sedotannya memang nikmat sekali. Sambil terus mengulum dan mengocok batang penisku, Dian memainkan puting susuku. Sehingga membuatku hampir ejakulasi di mulutnya. Untung masih dapat kutahan. Aku tidak mau keluar dulu sebelum merasakan penisku masuk ke dalam vaginanya yang masih perawan itu.

Saat sedang hot-hotnya, tiba-tiba pintu kamar terbuka. Aku dan Dian terkejut bukan main. Ternyata yang datang adalah kedua adiknya. Keduanya spontan berteriak kaget.
“Kak Dian, apa-apan sih? Gimana kalau ketahuan Mama?” teriak Agnes. Sedangkan Elsa hanya menunduk malu. Aku dan Dian saling berpandangan. Kemudian aku bergerak mendekati Agnes. Melihatku yang telanjang bulat dengan penis yang berdiri tegak, membuat Agnes berteriak tertahan sambil menutup matanya.
“Iih… Kakak!” jeritnya. “Itunya berdiri!” katanya lagi sambil menunjuk penisku. Aku hanya tersenyum melihat tingkah lakunya.
Setelah dekat, kurangkul dia sambil berkata, “Agnes, Kakak sama Kak Dian kan nggak ngapa-ngapain. Kita kan lagi pacaran. Yang namanya orang pacaran ya… kayak begini ini. Nanti kalo Agnes dapet pacar, pasti ngelakuin yang kayak begini juga. Agnes udah bisa apa belum?” tanyaku sambil mengelus pipinya yang halus. Agnes menggeleng perlahan.
“Mau nggak Kakak ajarin?” tanyaku lagi. Kali ini sambil meremas pantatnya yang padat.
“Mmh, Agnes malu ah Kak”, desahnya.
“Kenapa musti malu? Agnes suka nggak sama Kakak?” kataku sambil menciumi belakang lehernya yang ditumbuhi rambut halus.
“Ahh, i.. iya. Agnes udah lama suka ama Kakak. Tapinya nggak enak sama Kak Dian”, jawabnya sambil memejamkan mata.

Tampaknya Agnes menikmati ciumanku di lehernya. Setelah puas menciumi leher Agnes, aku beralih ke Elsa.
“Kalo Elsa gimana? Suka nggak ama Kakak?” Elsa mengangguk sambil kepalanya masih tertunduk.
“Ya udah. Kalo gitu tunggu apa lagi”, kataku sambil menggandeng keduanya ke arah tempat tidur.
Elsa duduk di pinggiran tempat tidur sambil kusuruh untuk mengulum penisku. Pertamanya sih dia nggak mau, tapi setelah kurayu sambil kuraba payudaranya yang besar itu, Elsa mau juga. Bahkan setelah beberapa kali memasukkan penisku ke dalam mulutnya, Elsa tampaknya sangat menikmati tugasnya itu. Sementara Elsa sedang memainkan penisku, aku mulai merayu Agnes. “Agnes, bajunya Kakak buka ya?” pintaku sedikit memaksa sambil mulai membuka kancing baju sekolahnya. Lalu kulanjutkan dengan membuka roknya. Ketika roknya jatuh ke lantai, terlihat CD-nya sudah mulai basah.

Segera saja kulumat bibirnya dengan bibirku. Lidahku bergerak-gerak menjilati lidahnya. Agnes pun kemudian melakukan hal yang sama. Sambil tetap menciumi bibirnya, tanganku bermaksud membuka BH-nya. Tapi segera ditepiskannya tanganku.
“Jangan Kak, malu. Dada Agnes kan kecil”, katanya sambil menutupi dadanya dengan tangannya. Dengan tersenyum kuajak dia menuju ke kaca yang ada di meja rias. Kusuruh dia berkaca. Sementara aku ada di belakangnya. “Dibuka dulu ya!” kataku membuka kancing BH-nya sambil menciumi lehernya.

Setelah BH-nya kujatuhkan ke lantai, payudaranya kuremas perlahan sambil memainkan putingnya yang berwarna coklat muda dan sudah mengeras itu. “Nah, kamu lihat sendiri kan. Biar dada kamu kecil, tapi kan bentuknya bagus. Lagian kamu kan emang masih kecil, wajar aja kalo dada kamu kecil. Nanti kalo udah gede, dada kamu pasti ikutan gede juga”, kataku sambil mengusapkan penisku ke belahan pantatnya. Agnes mendesah keenakan. Kepalanya bersandar ke dadaku. Tangannya terkulai lemas. Hanya nafasnya saja yang kudengar makin memburu. Segera kugendong dia menuju ke tempat tidur. Kutidurkan dan kupelorotkan CD-nya. Bulu kemaluannya masih sangat jarang. Menyerupai bulu halus yang tumbuh di tangannya. Kulebarkan kakinya agar mudah menuju ke vaginanya. Kucium dengan lembut sambil sesekali kujilat klitorisnya. Sementara Elsa kusuruh untuk meremas-remas payudaranya adiknya itu. “Aahh… ach… ge… geli Kak. Tapi nikmat sekali, aahh terus Kak. Jangan berhenti. Mmh… aahh… ahh.”

Setelah puas dengan vagina Agnes. Aku menarik Elsa menjauh sedikit dari tempat tidur. Dian kusuruh meneruskan. Lalu dengan gaya 69, Dian menyuruh Agnes menjilati vaginanya. Sementara itu, aku mulai mencumbu Elsa. Kubuka kaos ketatnya dengan terburu-buru. Lalu segera kubuka BH-nya. Sehingga payudaranya yang besar bergoyang-goyang di depan mukaku. “Wow, tete kamu bagus banget. Apalagi putingnya, merah banget kayak permen”, godaku sambil meremas-remas payudaranya dan mengulum putingnya yang besar. Sedangkan Elsa hanya tersenyum malu. “Ahh, ah Kakak, bisa aja”, katanya sambil tangan kirinya mengelus kepalaku dan tangan kanannya berusaha manjangkau penisku.

Melihat dia kesulitan, segera kudekatkan penisku dan kutekan-tekankan ke vaginanya. Sambil mendesah keenakan, tangannya mengocok penisku. Karena kurasakan air maniku hampir saja muncrat, segera kuhentikan kocokannya yang benar-benar nikmat itu. Harus kuakui, kocokannya lebih nikmat daripada Dian. Setelah menenangkan diri agar air maniku tidak keluar dulu, aku mulai melorotkan CD-nya yang sudah basah kuyup. Begitu terbuka, terlihat bulu kemaluannya lebat sekali, walaupun tidak selebat Dian, sehingga membuatku sedikit kesulitan melihat vaginanya. Setelah kusibakkan, baru terlihat vaginanya yang berair. Kusuruh Elsa mengangkang lebih lebar lagi agar memudahkanku menjilat vaginanya. Kujilat dan kuciumi vaginanya. Kepalaku dijepit oleh kedua pahanya yang putih mulus dan padat. Nyaman sekali pikirku.

“aahh, Kak… Elsa mau pipiss…” erangnya sambil meremas pundakku.
“Keluarin aja. Jangan ditahan”, kataku.
Baru selesai ngomong, dari vaginanya terpancar air yang lumayan banyak. Bahkan penisku sempat terguyur oleh pipisnya. Wah nikmat sekali jeritku dalam hati. Hangat.

Setelah selesai, kuajak Elsa kembali ke tempat tidur. Kulihat Dian dan Agnes sedang asyik berciuman sambil tangan keduanya memainkan vaginanya masing-masing. Sementara di sprei terlihat ada banyak cairan. Rupanya keduanya sudah sempat ejakulasi. Karena Dian adalah pacarku, maka ia yang dapat kesempatan pertama untuk merasakan penisku. Kusuruh Dian nungging. “Sayang, Dian udah lama nunggu saat-saat ini”, katanya sambil mengambil posisi nungging. Setelah sebelumnya sempat mencium bibirku dan kemudian mengecup penisku dengan mesra.

Tanpa berlama-lama lagi, kuarahkan penisku ke vaginanya yang sedikit membuka. Lalu mulai kumasukkan sedikit demi sedikit. Vaginanya masih sangat sempit. Tapi tetap kupaksakan. Dengan hentakan, kutekan penisku agar lebih masuk ke dalam. “Aachk! Sayang, sa… sakit! aahhck… ahhck…” Dian mengerang tetapi aku tak peduli. Penisku terus kuhunjamkan. Sehingga akhirnya penisku seluruhnya masuk ke dalam vaginanya. Kuistirahatkan penisku sebentar. Kurasakan vaginanya berdenyut-denyut. Membuatku ingin beraksi lagi. Kumulai lagi kocokan penisku di dalam vaginanya yang basah sehingga memudahkan penisku untuk bergerak. Kutarik penisku dengan perlahan-lahan membuatnya menggeliat dalam kenikmatan yang belum pernah dia rasakan sebelumnya. Makin kupercepat kocokanku. Tiba-tiba tubuh Dian menggeliat dengan liar dan mengerang dengan keras. Kemudian tubuhnya kembali melemas dengan nafas yang memburu. Kurasakan penisku bagai disemprot oleh air hangat. Rupanya Dian sudah ejakulasi. Kucabut penisku dari vaginanya. Terlihat ada cairan yang menetes dari vaginanya.
“Kok ada darahnya sayang?” tanya Dian terkejut ketika melihat ke vaginanya.
“Kan baru pertama kali”, balas Dian mesra.
“Udah, nggak apa-apa. Yang penting nikmat kan sayang?” kataku menenangkannya sambil mengeluskan penisku ke mulut Elsa. Dian cuma tersenyum dan setelah kucium bibirnya, aku pindah ke Elsa.

Sambil mengambil posisi mengangkang di atasnya, kudekatkan penisku ke mulutnya. Kusuruh mengulum sebentar. Lalu kuletakkan penisku di antara belahan payudaranya. Kemudian kudekatkan kedua payudaranya sehingga menjepit penisku. Begitu penisku terjepit oleh payudaranya, kurasakan kehangatan. “Ooh… Elsa, hangat sekali. Seperti vagina”, kataku sambil memaju-mundurkan pinggulku. Elsa tertawa kegelian. Tapi sebentar kemudian yang terdengar dari mulutnya hanyalah desahan kenikmatan.

Setelah beberapa saat mengocok penisku dengan payudaranya, kutarik penisku dan kuarahkan ke mulut bawahnya. “Dimasukin sekarang ya?” kataku sambil mengusapkan penisku ke bibir kewanitaannya. Kusuruh Elsa lebih mengangkang. Kupegang penisku dan kemudian kumasukkan ke dalam kewanitaannya. Dibanding Dian, vagina Elsa lebih mudah dimasuki karena lebih lebar. Kedua jarinya membuka kewanitaannya agar lebih gampang dimasuki. Sama seperti kakaknya, Elsa sempat mengerang kesakitan. Tapi tampaknya tidak begitu dipedulikannnya. Kenikmatan hubungan seks yang belum pernah dia rasakan mengalahkan perasaan apapun yang dia rasakan saat itu. Kupercepat kocokanku. “Aahh… aahh… aacchk… Kak terus Kak… ahh… ahh… mmh… aahh… Elsa udah mau ke… keluar.” Mendengar itu, semakin dalam kutanamkan penisku dan semakin kupercepat kocokanku. “Aahh… Kak… Elsa keluar! mmh… aahh… ahh…” Segera kucabut penisku. Dan kemudian dari bibir kemaluannya mengalir cairan yang sangat banyak. “Elsa, nikmat khan?” tanyaku sambil menyuruh Agnes mendekat. “Enak sekali Kak. Elsa belum pernah ngerasain yang kayak gitu. Boleh kan Elsa ngerasain lagi?” tanyanya dengan mata yang sayu dan senyum yang tersungging di bibirnya. Aku mengangguk. Dengan gerakan lamban, Elsa pindah mendekati Dian. Yang kemudian disambut dengan ciuman mesra oleh Dian.

“Nah, sekarang giliran kamu”, kataku sambil merangkul pundak Agnes. Kemudian, untuk merangsangnya kembali, kurendahkan tubuhku dan kumainkan payudaranya. Bisa kudengar jantungnya berdegup dengan keras. “Agnes jangan tegang ya. Rileks aja”, bujukku sambil membelai-belai vaginanya yang mulai basah. Agnes cuma mengangguk lemah. Kubaringkan tubuhku. Kubimbing Agnes agar duduk di atasku. Setelah itu kuminta mendekatkan vaginanya ke mulutku. Setelah dekat, segera kucium dan kujilati dengan penuh nafsu. Kusuruh tangannya mengocok penisku. Beberapa saat kemudian, “Kak… aahh… ada yang… mau… keluar dari memek Agnes… aahh… ahh”, erangnya sambil menggeliat-geliat. “Jangan ditahan Agnes. Keluarin aja”, kataku sambil meringis kesakitan. Soalnya tangannya meremas penisku keras sekali. Baru saja aku selesai ngomong, vaginanya mengalir cairan hangat. “Aahh… aachk… nikmat sekali Kak… nikmat…” jerit Agnes dengan tangan meremas-remas payudaranya sendiri.

Setelah kujilati vaginanya, kusuruh dia jongkok di atas penisku. Begitu jongkok, kuangkat pinggulku sehingga kepala penisku menempel dengan bibir vaginanya. Kubuka vaginanya dengan jari-jariku, dan kusuruh dia turun sedikit-sedikit. Vaginanya sempit sekali. Maklum, masih anak-anak. Penisku mulai masuk sedikit-sedikit. Agnes mengerang menahan sakit. Kulihat darah mengalir sedikit dari vaginanya. Rupanya selaput daranya sudah berhasil kutembus. Setelah setengah dari penisku masuk, kutekan pinggulnya dengan keras sehingga akhirnya penisku masuk semua ke vaginanya. Hentakan yang cukup keras tadi membuat Agnes menjerit kesakitan.

Untuk mengurangi rasa sakitnya, kuraba payudaranya dan kuremas-remas dengan lembut. Setelah Agnes merasa nikmat, baru kuteruskan mengocok vaginanya. Lama-kelamaan Agnes mulai menikmati kocokanku. Kunaik-turunkan tubuhnya sehingga penisku makin dalam menghunjam ke dalam vaginanya yang semakin basah. Kubimbing tubuhnya agar naik turun. “Aahh… aahh… aachk… Kak… Agnes… mau keluar… lagi”, katanya sambil terengah-engah. Selesai berbicara, penisku kembali disiram dengan cairan hangat. Bahkan lebih hangat dari kedua kakaknya. Begitu selesai ejakulasi, Agnes terkulai lemas dan memelukku. Kuangkat wajahnya, kubelai rambutnya dan kulumat bibirnya dengan mesra.

Setelah kududukkan Agnes di sebelahku, kupanggil kedua kakaknya agar mendekat. Kemudian aku berdiri dan mendekatkan penisku ke muka mereka bertiga. Kukocok penisku dengan tanganku. Aku sudah tidak tahan lagi. Mereka secara bergantian mengulum penisku. Membantuku mengeluarkan air mani yang sejak tadi kutahan. Makin lama semakin cepat. Dan akhirnya, crooottt… croott… creet… creet! Air maniku memancar banyak sekali. Membasahi wajah kakak beradik itu. Kukocok penisku lebih cepat lagi agar keluar lebih banyak. Setelah air maniku tidak keluar lagi, ketiganya tanpa disuruh menjilati air mani yang masih menetes. Lalu kemudian menjilati wajah mereka sendiri bergantian. Setelah selesai, kubaringkan diriku, dan ketiganya kemudian merangkulku. Agnes di kananku, Elsa di samping kiriku, sedangkan Dian tiduran di tubuhku sambil mencium bibirku. Kami berempat akhirnya tertidur kecapaian. Apalagi aku, sepanjang pengalamanku berhubungan seks, belum pernah aku merasakan yang senikmat ini. Dengan tiga orang gadis, adik kakak, masih perawan pula semuanya. That was the best day of my live.

TAMAT

Henny Yang Manis dan Anna Yang Cantik

April 29, 2009 pukul 8:05 am | Ditulis dalam Cerita Dewasa, Pesta Seks | Tinggalkan komentar

Kisahku dengan Anna dan suaminya masih berlanjut. Sekali-sekali aku masih main ke rumah mereka dan melayani permintaan mereka untuk melakukan threesome.

Uniknya, pernah suatu ketika suaminya, Dicky memintaku melakukan hubungan anal dengannya sambil ditemani oleh Anna. Dicky memohon takkan berciuman denganku, hanya ingin menikmati penisku di analnya, agar ia bisa juga merasakan kenikmatan seperti yang kuberikan kepada istrinya. Kami melakukan hal itu dengan posisi Anna berbaring di bawah suaminya sambil menciumi bibir dan dada suaminya, sedangkan suaminya menungging di depanku dan kutancapkan penisku yang sebetulnya lebih kecil dari penis suaminya, ke dalam anal suaminya. Aku masih menancapkan penisku ke dalam anal suaminya, ketika suaminya meminta Anna memasukkan penisnya ke dalam vagina Anna. Dengan Anna berbaring terlentang di bawah sekali, ditindih oleh suaminya dari atas dan memasuki vaginanya dengan penisnya, aku di atas tubuh suaminya menancapkan penisku ke dalam analnya, kenikmatan luar biasa kembali kami nikmati bertiga. Beberapa kali suaminya memintaku untuk mau melakukan hal seperti itu lagi, tetapi aku menolak. Aku hanya sekali itu melakukan, takut jika ketagihan dan malah jadi homo betulan.

Suatu sore, Anna meneleponku meminta datang ke rumah mereka, sebab ada Henny, teman kuliahnya dulu di Australia. Aku ke sana dengan pakaian santai, hanya mengenakan kaus ringkas dan celana panjang. Aku dikenalkan dengan Henny, perempuan Sunda. Lebih pendek daripada Anna, tapi orangnya manis. Kulitnya putih, bersih, hidungnya agak mancung, rambutnya panjang sebahu, lebih panjang daripada Anna yang potongan rambutnya pendek. Kami makan malam berempat dengan diterangi cahaya lilin. “Agar romantis,” kata Anna. “Ini untuk merayakan ulang tahun perkawinanku dengan Dicky,” tambahnya.

Usai makan malam, kami duduk di teras belakang rumah Anna dan Dicky. Ada taman kecil di situ. Cahaya lampu taman yang redup memberikan nuansa romantis. Kami duduk sambil menikmati white wine, kesukaan Henny, “Untuk menghormati sahabat lama,” kata Anna sambil menuangkan white wine ke gelas kami masing-masing. Kami minum setelah bersulang. Dicky dan Anna saling memberi selamat sambil berpagutan bibir disaksikan olehku dan Henny. Lama mereka berciuman barulah Henny memberi selamat kepada mereka. Henny menyalam Dicky dan menyalami Anna. Waktu mereka bersalaman dan berciuman, aku sempat terkejut sebab ternyata mereka tidak berciuman pipi, melainkan berciuman bibir. Kupikir Dicky tidak melihat hal itu, tetapi ia justru tersenyum menyaksikan mereka dan menatapku seolah-olah berkata tidak ada masalah dengan itu.

Aku menyalami Dicky dan Anna. Waktu menyalam Anna, ia tidak mau hanya kusalam, ditariknya tubuhku rapat-rapat ke tubuhnya dan mencium bibirku, “Cium dong, koq malu-malu gitu sih, Gus?” Kurasakan wajahku memerah diperlakukan begitu di depan Henny. “Nggak apa-apa koq, Henny bukan orang lain,” jelas Anna.

Kembali kami berempat duduk sambil bercakap-cakap. Mula-mula tentang hal-hal yang dialami Anna dan Henny waktu sekolah di Australia. Kemudian merembet ke masalah perkawinan. Henny bercerita bahwa suaminya seorang pengusaha setengah baya, yang sudah menikah dan menjadikan dirinya istri muda. Ia mengaku terjebak oleh ulah si pengusaha, tetapi demi kebutuhan ekonomi keluarga dan menyekolahkan adik-adiknya, ia terpaksa melakukan itu. Ia justru bersyukur tidak hamil hingga kini. “Aku pernah minta cerai, tapi suamiku tidak mengijinkan,” katanya iba. “Tapi aku juga mikir, kalau menjanda, apa ada jejaka yang masih mau padaku?” katanya lagi.

Aku menatap jauh ke depan. Macam-macam saja kehidupan manusia ini, pikirku. Ada yang sudah nikah, tidak bisa hamil oleh suaminya lalu aku yang jadi semacam pejantannya. Ini ada lagi yang jadi istri muda, mau cerai tapi tidak bisa dan hanya bermimpi bisa punya suami baik kelak.

“Gus, jangan ngelamun gitu dong!” kata Anna sambil mencubit tanganku. “Tuh, Henny nanya kamu!”

Aku gelagapan, “Eh, maaf, nanya apa tadi Wiek?”

“Waduh, payah deh ada orang bisa ngelamun di keramaian,” goda Henny, kemudian sambungnya, “Tadi aku nanya kamu, koq belum kawin juga?”

“Dia mach sudah sering kawin, nikah yang belum,” sambut Anna menambah risih perasaanku.

“Ya deh, aku ngerti koq,” kata Henny, “Banyak lelaki suka mikir-mikir cari jodoh, apalagi jika ketemu wanita sepertiku, takut terjerat ntar,” katanya seakan menyesali nasib.

“Jangan bicara gitu Wiek. Masih ada laki-laki yang baik. Kalau suatu ketika kamu dapat lepas dari suamimu sekarang dan dipertemukan dengan pria demikian, pasti kamu bahagia,” kataku menghibur, walaupun tidak tahu arah kata-kataku.

“Daripada ngobrol tak tentu, kita ke dalam aja yuk!” ajak Anna. Kami masuk dan duduk di karpet sambil main kartu. Mula-mula hanya iseng, tetapi kemudian Anna mempunyai ide aneh, siapa yang kalah wajib membuka bajunya sedikit demi sedikit. Aku kaget dengan ide gilanya, tetapi suaminya dan Henny malah sebaliknya, mereka menyambut gembira usul tersebut. Aku tak bisa berkutik, sebab kartu sudah dibagi.

Pertama-tama Anna kalah. Ia membuka baju bagian atasnya hingga kelihatan BH-nya yang berwarna merah marun. Pada permainan berikut, suaminya Dicky kalah hingga membuka kausnya. Selanjutnya aku yang kalah dan membuka kausku. Henny masih beruntung belum kalah. Kali berikut Dicky kalah lagi dan membuka celana panjangnya. Ia kini bertelanjang dada dan mengenakan celana pendek. Berikutnya ia kalah lagi dan membuka celana pendeknya hingga hanya bercelana dalam. Setelah itu barulah Henny kalah dan membuka gaunnya sebab ia mengenakan pakaian terusan. Aku melihat sekilas ke arah tubuhnya. Ia masih mengenakan pakaian dalam menutupi kutang dan celana dalamnya yang terlihat membayang di baliknya. Berikutnya Anna kalah lagi dan membuka roknya. Ia kini hanya mengenakan BH dan celana dalam berwarna merah marun. Kali berikut Henny kembali kalah dan terpaksa membuka pakaian dalamnya yang berwarna kuning gading.

Sekarang Dicky yang hanya bercelana dalam ditemani dua perempuan yang sama-sama hanya berkutang dan bercelana dalam, sedangkan aku masih mengenakan celana panjang. Kali berikut Anna kalah lagi dan melepaskan tali BH-nya, terlihatlah payudaranya yang indah, “Wuihh, payudaramu masih cantik seperti dulu, An,” puji Henny sambil mengelus lembut payudara Anna. Anna hanya tersenyum mendapat pujian dan perlakuan begitu dari temannya. Kulirik Dicky, ia hanya menatap ke kartu yang dipegangnya sambil senyum-senyum. Aku tidak beruntung, sehingga kalah dan terpaksa membuka celanaku. Kini aku hanya bercelana dalam. Anna menatapku sambil tertawa-tawa, “Hitam nich yee!” godanya sambil menyebut warna celana dalamku. Kali berikut Dicky kalah dan terpaksa membuka celana dalam putihnya. Ia duduk bertelanjang, tetapi tak risih ada Henny. Aku heran juga, sebab kalau kami bertiga, sudah biasa kami main bertiga, tentu tak malu lagi, tetapi kini ada Henny, koq ia tidak malu. Belakangan aku tahu bahwa Henny sudah sering menginap di rumah mereka dan tidur bertiga. Dari cerita Anna beberapa hari kemudian, kuketahui bahwa baik Anna maupun Henny adalah biseks. Memang mereka bulan lesbian murni, tetap menghendaki lelaki dalam hidup mereka, tetapi tak mampu melupakan teman intimnya dulu. Rupanya waktu di Australia mereka tinggal bersama di apartemen. Giliran berikut Henny kalah dan membuka celana dalamnya. Ia duduk dengan hanya mengenakan BH kuning gading, sedangkan celana dalamnya dilemparkan begitu saja entah kemana.

“Lho, koq itu dulu yang dibuka?” tanya Anna.

“Biarin. Ntar kamu balas dendam megangin susuku,” katanya sambil membagi kartu. Dicky dan Anna tertawa mendengar jawaban Henny, aku hanya tersenyum sambil sesekali melirik ke arah paha Henny yang putih bersih, agaknya bulu kemaluannya dicukur bersih. Penasaran juga ingin tahu bagaimana bentuknya, apakah seindah vagina Anna, tapi walaupun penisku makin tegang melihat payudara Anna dan paha Henny, aku tak berani berharap macam-macam. “Jangan bermimpi, ini kan hanya sebatas permainan kartu,” pikirku. Aku tidak tahu bahwa diam-diam permainan ini sudah dirancang mereka bertiga secara cerdik untuk mengajakku masuk dalam permainan erotis berempat.

Kami kembali main kartu. Di akhir permainan, Henny kembali kalah dan terpaksa membuka kutangnya. “Horeee, kelihatan deh harta karunnya!” sorak Anna seperti anak-anak mendapatkan hadiah dan mencubit puting payudara Henny.

“Nah, betul kataku, kan? Kamu emang usil deh, suka balas dendam,” kata Henny menjauhkan tubuhnya dari gangguan temannya. Henny membagi kartu. Kulirik ke arah tubuhnya. Payudaranya lebih besar kurasa daripada Anna, kutaksir ukurannya 34 C, bentuknya masih seperti payudara gadis, dengan putting yang agak kehitaman, beda dengan Anna yang putingnya lebih coklat. Kuamati lagi sekilas sekujur tubuh Henny, seakan memberi penilaian. Henny menatapku sambil tersenyum penuh arti. Entah disengaja atau tidak ia memperbaiki letak duduknya, dan kini duduk bersila hingga sekilas nampak belahan vaginanya mengintip memperlihatkan labianya. Penisku semakin tegang, sedangkan penis Dicky kulihat sudah sejak tadi tegang tanpa dapat dicegah. Di akhir permainan, Anna kalah dan harus membuka celana dalamnya. Kini mereka bertiga benar-benar telanjang bulat, tinggal aku yang masih mengenakan celana dalam.

“Wah, jagoan kita ini hebat benar, masih menguasai permainan dan jadi pemenang,” kata Henny memuji sambil melirik ke arah celana dalamku.

Pada permainan ini, kembali Henny kalah, hingga Anna berteriak, “Wah, kamu tidak punya apa-apa lagi yang bisa dibuka. Kita apain Henny, hai kaum Adam?”

Dicky memberi usul, “Kalau gitu, ia harus mencium orang yang ia inginkan sebagai hukuman.”

“Baiklah, para juri sekalian, aku siap menjalani hukuman paduka,” Henny bangkit dari duduknya dan berdiri. Tiba-tiba kedua tangannya memegang pipiku dan memagut bibirku tanpa kuduga. Aku megap-megap diserang tiba-tiba. Apalagi ciumannya begitu lama dan lidahnya masuk ke dalam rongga mulutku menggelitik langit-langit mulutku. Darahku semakin terpompa ke ubun-ubun mendapat ciuman demikian. Kubalas ciumannya dan lidah kami berpilinan.

“Udah, udah, jangan lama-lama, ntar ada yang cemburu tuh!” kata Anna sambil menarik tubuh Henny duduk kembali ke tempatnya.

Henny membagi kartu lagi. Kali ini Anna yang kalah. Seperti yang terjadi pada Henny, ia diminta mencium orang yang ia sukai. Tadinya kupikir ia akan mencium Dicky atau aku, ternyata dugaanku meleset. Ia bangkit dan mencium bibir Henny sambil meremas-remas payudara Henny. Henny membalas ciuman Anna sambil tangannya bermain di sela-sela paha Anna. Desahan mereka berdua terdengar di sela-sela ciuman terlarang yang mereka lakukan. Dicky dan aku hanya dapat menonton perbuatan mereka. Beberapa saat kemudian mereka kembali duduk dan Anna membagi kartu.

Giliran berikutnya suaminya Dicky kalah. Dicky memilih Anna untuk dicium dan meremas payudara Anna, tapi herannya tangannya bermain di kedua payudara Henny. Henny hanya tersenyum menatapku yang keheranan, bahkan tangan kirinya meraba-raba punggung dan pantat Dicky sedangkan tangan kanannya mengikuti tangan Dicky meremas payudara Anna. Setelah itu, mereka bertiga kembali duduk dan Dicky membagi kartu. Kali ini aku yang apes, hingga harus mengikuti mereka bertiga, bertelanjang bulat! Wajahku agak memerah waktu kulepaskan celana dalam hitamku.

“Wow, indah nian. Benda apakah gerangan itu?” Anna berkomentar, diikuti oleh Henny, “Ah, betapa beruntungnya wanita yang berkesempatan berkenalan dengan benda itu?” Aku hanya tersipu-sipu digoda kedua perempuan itu dan membagi kartu dengan tangan agak gemetar. Rupaya Henny memperhatikan tanganku, ia pegangi tanganku sambil mengelus lembut punggung tanganku.”Tenang aja Gus! Kamu ada di tengah para sahabat koq.”

Kali berikut Anna kalah lagi. Kini ia memilih aku untuk dicium. Namun entah meniru suaminya, sambil menciumi aku, tangannya bermain di payudara Henny, meremas dan memainkan putingnya. Henny mendesah mendapat serangan Anna. Dicky mengelus-elus punggung Anna sambil ikutan meremas payudara Henny. Aku melepaskan diri dari ciuman Anna. Anna kembali duduk diikuti oleh Dicky dan Henny.

Permainan berikut Dicky kalah lagi dan kini ia memilih Henny untuk dicium, tetapi sebelah tangannya menarik tangan istrinya ikut mengambil peran mengeroyok Henny. Henny membalas ciuman Dicky diikuti oleh ciuman Anna. Ketiganya terlibat dalam ciuman panas bertiga. Kulihat bagaimana lidah mereka saling bertemu dan melumat.

Kali berikut Henny kalah, tapi sebelum ia memilih orang yang disukainya untuk dicium, Anna berkata, “Sekarang yang kalah harus mau diperlakukan apa saja, ok tuan-tuan?”

“Ya, ya, betul,” kata suaminya, sambil bertanya padaku, “Gimana Gus, setuju?”

“Aku ngikut aja dech,” kataku sambil berharap akan sesuatu yang lebih erotis.

Henny kelihatan merengut, tapi tidak membantah. “Ok silakan, aku mau diapain nich?” katanya pasrah.

Anna menarik kedua tangan Henny dan membaringkan tubuh Henny di karpet. Lalu ia mencium bibir Henny sambil meminta suaminya mengerjai bagian bawah tubuh Henny dengan isyarat tangan. Suaminya memegangi kedua belah paha Henny dan membukanya lebar-lebar, lalu mencium vagina Henny yang bersih tanpa rambut. Henny mengerang diperlakukan begitu oleh suami istri tersebut. Aku hanya memandangi mereka. Tak lama kemudian kudengar Anna berkata, “Gus, kamu tidak ingin ikut menjatuhkan hukuman pada penjahat ini?” Aku diam saja sambil menggelengkan kepala. Anna kembali menciumi bibir Henny sambil meremas-remas payudara Henny; sedangkan Dicky sambil menciumi vagina Henny, tangannya mencari payudara Henny yang sebelah lagi. Habislah Henny diserang oleh kedua orang itu. Lebih lama daripada yang tadi-tadi, ketiganya seakan tidak peduli atas kehadiranku, mereka terpaku pada apa yang ada di hadapannya. Apalagi kulihat Anna sudah berganti posisi dengan suaminya, dan gilirannya mengerjai vagina Henny, sedangkan suaminya kini menciumi payudara Henny, putingnya dilumat hingga Henny semakin kuat merintih. Kedua tangan Anna kulihat memegang labia Henny dan membukanya lebar-lebar, lalu dengan suatu gerakan lembut ia menjulurkan lidahnya menusuk liang vagina Henny. Henny merintih, “Oooouhhhh Annnnn, terusin ….. yang dalam sayang!!!! Yahh gitu sayangggg ……” Remasan tangan Dicky pada payudara Henny berganti-ganti dengan gigitan lembut, membuat Henny semakin mengawang-awang menggapai kenikmatan. Anna mendukung aksi suaminya dengan menjilati dan mengisap klitoris Henny. Pantat Henny sesekali terangkat dan pinggulnya menggeliat-geliat diserang Anna. Aku hanya melihat mereka sambil sesekali menelan ludah. Anna menatapku dan menarik tanganku mendekati mereka. Ia mencium bibirku. Kurasa aroma khas vagina Henny pada ciuman Anna. Kami berpagutan dengan erat. Dicky masih terus mencium dan meremas payudara Henny. Anna mengajakku bersama-sama mencium vagina Henny. Kuikuti ajakannya.

Tiba-tiba Henny berkata, “Udah dulu dong! Masak aku diserang tiga orang sekaligus?” Kami tertawa-tawa.

Anna kemudian berkata, “Kita ke kamar aja yuk biar lebih enak pada permainan sesungguhnya?”

Dicky tidak menjawab, tapi mengikuti ucapannya. Henny masih terbaring dengan napas tersengal-sengal menahan nafsu yang mendekati puncak.

Aku berdiri bergandengan dengan Anna mengikuti Dicky, tapi kutahan langkahku melihat Henny masih terbaring di karpet. “Kenapa Gus? Yah udah, kalau kamu kasihan pada Henny, gendong aja dia, udah lemes tuh!” katanya melepaskan tanganku. Aku berlutut di samping Henny, kuletakkan tangan kiriku di bawah lehernya dan tangan kananku di bawah lututnya. Lalu tanpa meminta ijinnya, kugendong dia. Kedua tangan Henny memeluk leherku seakan-akan takut jatuh. Sambil menggendongnya kulangkahkan kaki ke kamar tidur Dicky dan Anna. Henny sesekali mengangkat lehernya dan mencuri cium bibirku. Aku membalas sambil membawa tubuhnya yang indah dan ketika tiba di kamar, tubuhnya kubaringkan di ranjang. Anna sudah membaringkan tubuhnya lebih dulu di situ. Begitu tubuh Henny terlentang di ranjang, Anna langsung memagut bibir Henny sambil jari-jarinya mengelus-elus sekujur tubuh Henny. Dicky melihat mereka berdua sambil memberi isyarat padaku untuk menonton adegan yang dipertontonkan kedua perempuan itu. Henny membalas ciuman Anna dan balas menciumi bibir Anna dan dengan ganas turun ke leher dan dada Anna. Anna kini ada di bagian bawah, dengan Henny di atas tubuhnya menciumi leher, payudara, perut dan kini mengarah ke paha Anna. Ciuman Henny berhenti di paha Anna dan kedua tangannya menguakkan labia vagina Anna serta mencari klitoris dan menjilati vagina Anna. Anna tidak mau tinggal diam diperlakukan seperti itu, pantat Henny ia tarik dan ia tempatkan paha Henny tepat di atas wajahnya, lalu ia melakukan hal yang serupa terhadap Henny. Kedua perempuan itu kini berada dalam posisi 69. Saling mencium, menjilat, sambil mendesah, mengerang dan merintih. Rintihan mereka semakin memuncak ketika keduanya kami perhatikan menusukkan jari ke dalam vagina yang lain sambil menciumi vagina dan klitoris. Dengan suatu jeritan panjang, keduanya mengalami orgasme bersama-sama. Lalu keduanya saling berciuman bibir, bersama-sama berbagi cairan vagina yang diperoleh. Keduanya berpelukan di ranjang. Sedangkan aku dan Dicky mendekati mereka berdua. Ranjang itu kini dimuati empat orang dewasa sekaligus.

Anna ada di dekatku, sedangkan Henny ada di dekat suaminya. “Gus, Henny pengen sekali kenalan dengan penismu,” bisik Anna lembut di telingaku sambil menciumi dagu dan bibirku. “Hmmm, makin gila aja kita ini,” kataku sambil membalas ciumannya. Kulirik Dicky juga sedang berciuman dengan Henny.
Dicky semakin ganas menciumi bibir, leher dan dada Henny. Mungkin ia masih terpengaruh oleh adegan lesbian tadi yang ditampilkan kedua perempuan itu. Aku sendiri merasa hampir orgasme tadi, tetapi kutahan dengan mengalihkan perhatian kepada hal-hal lain.

Dicky menciumi setiap liku-liku tubuh Henny hingga kembali Henny mendesah dan mengerang. Anna menciumi tubuhku hingga penisku mencapai ketegangan puncak. Saat akan kumasukkan penisku ke dalam vagina Anna, ia justru menolak tubuhku, “Ntar Gus, giliran Henny dulu. Sudah lama ia berharap.”

“Lho, dia kan sedang main dengan suamimu?” protesku.

“Nggak apa-apa, kalian berdua kerjai dia dulu. Ntar baru giliranku. Sudah lama ia tidak dikunjungi suaminya. Haus banget tuh!” katanya menjawab protesku.

“Kulihat Henny mendesah-desah diciumi vaginanya oleh Dicky. Kedua tangannya meremas-remas payudaranya. Anna mendekati mereka berdua dan mencium bibir Henny sambil meremas-remas payudara Henny. Kedua tangan Henny kini mengelus punggung Anna sambil sesekali meremas payudara temannya. Anna memainkan lidahnya dan menggelitik leher Henny. Henny menggelinjang. Tanganku ditarik oleh Anna mendekat, sehingga aku kini ikut ke dalam kancah pertempuran. Pantatku ditarik oleh Anna mendekati wajah Henny hingga penisku tepat berada di atas mulutnya. Lidahnya mulai menjulur keluar dan menjilati kepala penisku. Lalu ia mengangkat lehernya dan dengan bantuan tangan kirinya, dipegangnya penisku memasuki mulutnya. Tak kalah dengan permainan lidah dan mulut Anna, Henny pun memainkan penisku dengan hebatnya. Aku merasakan darahku mengalir deras memasuki setiap sel di penisku dan gelora birahi mencapai ubun-ubunku hingga rasanya sudah ingin mencapai orgasme. Tapi kutahan gelora tersebut. Kudengar Anna berkata pada suaminya, “Mas, kasih kesempatan pada Agus dong, biar mereka dulu yang main sayang!”

Suaminya bangkit dan memberi kesempatan padaku untuk mendekati bagian vagina Henny. Aku tidak lagi menciumi vaginanya, kuatir spermaku muncrat. Kugesekkan penis pada klitorisnya dan kemudian ke celah-celah vaginanya. Henny mengerang sambil menarik pantatku agar semakin dalam memasukkan penis ke dalam vaginanya. Aku menancapkan penis ke dalam vaginanya dengan irama pelan namun teratur. Henny semakin meracau mendapat perlakuan demikian, “Gus, yang dalam dong. Cepetan, aku sudah nggak kuat nich?” pintanya.

“Nggak ku ku nich yeee?” goda Anna dan ditimpali suaminya dengan ucapan, “Iya tuh Gus, masak tidak kasihan pada kaum yang lemah sich?”

Kupercepat gerakan pantatku menekan sambil melempar senyum pada Anna dan Dicky. Sambil memaju-mundurkan pantatku, dalam hati aku berterima kasih pada kedua suami istri ini, sebab mereka membuatku dapat merasakan vagina perempuan Sunda seperti Henny. Agak beda dengan Anna. Di bagian dalam vaginanya seakan-akan ada mpot ayamnya. Tak ingin menyerah padanya, kutarik penisku keluar vaginanya dan kupegang penisku pada pangkalnya dengan tangan kananku lalu kugesek-gesekkan kembali pada klitorisnya. Henny mendesah dan merintih semakin lirih, “Gussss, ayooooo masukin lagi sayang! Aku mau sampai nich….. Oooouggghhhh enak banget siccchhhh?” Geliat pinggulnya semakin cepat. Payudaranya diciumi dan diremas oleh Dicky sedangkan bibirnya dilumat lagi oleh Anna. Diserang bertiga begitu, tentu saja ia blingsatan. Kembali penis kumasukkan sedalam-dalamnya ke vaginanya. “Ahhhhhh, nikmaattttnya Gusss!!!” rintihnya.

Gerakanku kini semakin kencang mengimbangi geliat tubuhnya, apalagi ketika pantatnya terangkat-angkat seakan-akan menginginkan penisku masuk lebih dalam lagi. Kuletakkan kedua tanganku di bawah pinggulnya dan agak kuangkat pantatnya hingga hunjaman penisku semakin dalam. Kedua pahanya melingkari pinggulku dengan ketat. “Kuat benar perempuan Sunda ini, jepitannya maut,” batinku. “Ahhhh, Guss …. Aku dapat …… oooooouuugghhhh ….. sshshhhhh,” jeritnya sambil menyorongkan pantat dan pinggulnya ke arah pahaku sehingga kedua kemaluan kami begitu rapat menyatu, seakan tak dapat dipisahkan lagi.

“Ya sayang, sama-sama, aku juga dapet niccchhh …. Akkkkhhhh ….” geramku sambil menancapkan penis hingga ke pangkalnya. Kurasakan mpot-mpot ayam di dalam vaginanya meremas-remas kepala penis dan denyutan dinding vaginanya begitu hebat menjepit kulit batang penisku. Kuhentakkan beberapa kali penis sedalam-dalamnya ke dalam vagina Henny. Dicky meremas dan menggigit mesra payudara Henny bergantian kiri dan kanan, sedangkan Anna tak melepaskan bibir Henny dari pagutan mautnya.

Henny masih terengah-engah waktu kucabut penisku. Dicky yang melihat Henny terbaring mencoba mengarahkan penisnya ke dalam vagina Henny, tapi Henny menolak, “Jangan dulu Dick, masih lemas nich! Kamu dengan Anna dulu dech!” Dicky tampak agak kecewa, tapi Anna mencium bibir Dicky sambil menghibur, “Benar sayang, kenapa kamu tidak denganku saja dulu, ntar kalau Henny sudah segar lagi, baru kau kerjai dia.”

Dicky tak menjawab. Setelah membalas ciuman Anna, ia menyuruh istrinya nungging dan menempatkan diri di belakang istrinya. Entah ia dendam atas kata-kata istrinya, ia tidak pakai aba-aba lagi, bukannya memasukkan penisnya ke dalam vagina, malah ia langsung mengarahkan penisnya ke anal Anna.

Anna yang juga sudah naik birahi melihatku main dengan Henny, menerima saja perlakuan suaminya. Namun ia menempatkan wajahnya di antara kedua pahaku yang berbaring di samping Henny. Sambil menikmati hunjaman penis suaminya, ia mencium dan menjilati penisku yang masih belepotan dengan cairan vagina temannya dan spermaku. Tanpa merasa jijik sedikit pun, ia melakukan hal itu, sambil menggenggam penisku yang kembali tegang diperlakukan seperti itu. Henny tersenyum melihat mereka dan melabuhkan ciumannya pada bibirku. Aku meraba payudara Henny sambil menikmati kuluman bibir dan jilatan lidah Anna pada penisku. Henny kembali terangsang kuremas dan kurabai payudaranya. Tapi aku tidak memberikan peluang untuknya lagi, sebab sudah punya rencana sendiri.

Kuangkat wajah Anna dari celah-celah pahaku dan kupindahkan ke vagina Henny. Semula Anna mau protes, tetapi ia mungkin belum mengerti apa yang akan kulakukan. Aku bangkit dari posisi berbaring dan kutarik tubuh Anna agar berada pada posisi berlutut. Sambil tetap dikerjai suaminya dari belakang, aku ciumi bibir Anna dan kutempatkan tubuhku tepat di bawah tubuhnya. Kini vaginanya tepat berada di atas penisku. Kuarahkan penisku ke vaginanya sambil terus menciumi bibirnya. Anna tersenyum, sekarang baru ia mengerti mengapa aku menaruh wajahnya tadi pada vagina temannya. Kini penisku berada di dalam vagina Anna, sedangkan penis suaminya menancap di anal Anna. Mulutku kuarahkan pada payudara Anna agar ia kembali dapat mencium dan menjilati vagina temannya. Henny kembali diserang oleh Anna yang mendapat keroyokan suaminya dan aku.

Anna semakin mendesah dan rintihannya seperti biasanya, yang cenderung ke arah jeritan, membahana ketika penis suaminya semakin cepat masuk keluar analnya, sedangkan penisku masuk keluar ketika ia memaju-mundurkan tubuhnya di atasku. “Aaaauuuuhhhhh, enakknnyaaa …. Aduuuhhhh …. nikmat !!!” keluar dari dalam mulutnya.

Suaminya memegang kedua pinggulnya sambil menghentakkan penis sedalam-dalamnya sambil bertanya, “Mana yang paling enak, sayang? Punyaku di pantatmu atau punya Agus di mem*kmu?”

Anna menjawab di sela-sela rintihannya, “Ssshshh, aaaahhhhh…. punyamu enak banget sayang, besar dan panjang, tapi jangan terlalu kuat, ntar pecah ususku, sayang! Ooouggghhhh, punyamu juga enak Gus, tidak terlalu besar, eeehhhsss, tapi mainnya lincah banget sichhhhh? Ohhhhhh ….”

Dicky memperlambat laju pantatnya maju mundur di belakang pantat Anna. Henny kudengar merintih makin kuat, mungkin sebentar lagi ia akan orgasme pula.

Dicky mengerang dan memeluk tubuh istrinya kuat-kuat dari belakang. Ia rupanya sudah orgasme.

Anna, entah karena sudah sering kami kerjai berdua, semakin kuat melawan, agak lama baru orgasme. Pada puncak orgasmenya, ia menggeram kuat-kuat dan memeluk punggungku dengan kuatnya sambil mencium bibirku dan menggigit lidahku, sementara payudaranya diremas kuat-kuat oleh tangan suaminya dari belakang. Bersamaan dengan itu, jari-jarinya menekan klitoris dan vagina Henny, dan kudengar Henny juga menjerit, “Annnn, aduuhhhh aku dapet lagi sayang!!!!”

Aku sendiri, karena baru orgasme waktu dengan Henny, belum keluar lagi. Dengan penis yang mulai layu, Dicky menarik tubuhnya dari belakang tubuh istrinya. Istrinya masih berbaring menelungkup di atas tubuhku sambil menikmati penisku yang masih tegang dalam vaginanya. Dicky beringsut ke dekat Henny dan berciuman sambil berpelukan dengan Henny sambil menyaksikan istrinya masih menindih tubuhku di bagian bawah mereka. Vagina Anna masih berdenyut-denyut menjepit penisku. Tak lama kemudian ia mengangkat tubuhnya dari atasku dan menarik diriku berbaring di dekat suaminya dan Henny. Kami berempat berbaring bersisian sambil sesekali berciuman atau mengusap lembut tubuh yang lain.
Setengah jam kemudian Henny bangkit menarik tanganku dan Dicky dan mengajak kami berdua main lagi dengannya. Rupanya ia penasaran melihat temannya kami serang berdua tadi. Dicky tidak menolak. Ia berciuman dengan Henny sambil mengusap-usap payudara Henny dan merabai vaginanya. Aku masih berbaring menatap mereka berdua sambil mengelus-elus payudara Anna. Kutoleh ke arah Anna seolah meminta persetujuan, Anna seakan mengerti maksud tatapanku, berkata, “Ayo Gus, kamu ladeni lagi Henny. Ia juga kuat koq, jangan kuatir ia bakal pingsan ntar. Kamu udah tahu kehebatan mem*knya tadi, kan?”

“Iya tuh, kayak ada cincin baja aja dalam mem*knya, penisku hampir tak bisa bernafas dibuatnya,” kataku bercanda.

“Emangnya aku tukang besi, sampe memasukkan cincin baja ke dalam mem*kku?” bantah Henny di sela-sela ciuman bibirnya dengan Dicky. Kami berempat tertawa.

Aku masih berbaring ketika Dicky menempatkan tubuh Henny di atas tubuhku. Rupanya Dicky ingin aku mengerjai anal Henny sambil ia memasukkan penisnya ke dalam vagina Henny. Henny berjongkok di atas pinggangku, membelakangi wajahku dan perlahan-lahan menaruh penisku tepat di atas analnya. Kurasa ia agak mengalami kesulitan, sebab agak lama barulah penisku dapat memasuki analnya. “Aaauuuhhh, koq agak sakit An? Waktu kamu masukkan penis buatan koq tidak sesakit ini?” tanyanya pada Anna.

“Penis buatan kan lebih kecil daripada kont*l Agus, sayang! Coba kamu nikmati, ntar lagi bakalan enak deh, dijamin halal,” katanya.

Henny tidak menjawab, desah kesakitan yang keluar dari mulutnya berganti dengan rintihan nikmat, agaknya ia mulai merasakan kenikmatan akibat masuknya penisku ke dalam analnya. Sejenak kami berdua merasakan posisi tersebut. Anna kulihat berlutut di sebelah kiri kepalaku, meremas-remas payudara Henny sambil memberikan vaginanya kukerjai. Dicky mendekati Henny dan menempatkan penisnya ke vagina Henny. Maka mulailah episode baru seperti yang dialami Anna tadi, dengan pemain utama yang berbeda, yaitu Henny. Henny melenguh pelan waktu penis Dicky yang agak besar melesak ke dalam vaginanya. “Ehssshhhh, pelan-pelan Dick, penismu jumbo sich!” desisnya disertai tawa ringan Anna mendengar gurauan temannya terhadap penis suaminya. “Emangnya ikan lele, Hen?”

Desahan nikmat Henny bercampur erangan Dicky dan aku. Anna belum terdengar mengerang, mungkin karena vaginanya belum tuntas kukerjai. Kedua tangan Henny bertumpu ke belakang menahan tubuhnya, sedangkan Dicky terus memasuk-keluarkan penisnya ke dalam vaginanya, sementara penisku dari bawah berada pada posisi pasif bergantung pada kehendak Henny menaik-turunkan pantatnya agar analnya masuk keluar menikmati hunjaman penisku. Kugeser letak kedua paha Anna agar berpindah tempat hingga kini posisinya berlutut tepat di atas wajahku, tubuhnya tepat berada di belakang Henny, menyangga tubuh Henny yang melengkung ke belakang di atas tubuhku. Kulihat dari bawah, kedua tangan Anna meremas-remas payudara Henny. Terangsang melihat ulahnya, kuarahkan kedua tanganku meremas-remas kedua payudara Anna. Dicky kudengar semakin kuat menggeram, mungkin ia semakin dekat ke puncak kenikmatannya. Laju penisnya kurasa semakin cepat di atas tubuhku, masuk keluar vagina Henny. Desahan kami berempat bercampur, tetapi rintihan kedua perempuan itu mengalahkan suara Dicky dan aku. Cairan vagina Anna semakin deras menetes ke dalam mulutku. Apalagi sewaktu kujulurkan lidahku dalam-dalam ke liang vaginanya atau ketika klitorisnya kuisap kuat-kuat. “Sssshh, terusin Gus, yah, yahhhhh gitu sayang! Enakkkkhhh tuuuuhhh, ooouggghhh…..” rintihnya sambil meliuk-liukkan tubuh di atas wajahku. Kupercepat isapan pada klitorisnya sambil memberi variasi dengan menjilat dan mengisap kedua labia vaginanya bergantian, kiri kanan.

“Henn, aku mau keluar nih …. Kamu sambut ya sayang?” kudengar suara Dicky dan tiba-tiba ia mencabut penisnya dan mengarahkannya ke mulut Henny. Henny menyambut gembira penis Dicky. Digenggamnya dengan tangan kanan batang penis Dicky sedang tangan kirinya mengusap lembut testis Dicky. Beberapa isapan mulutnya membuat Dicky tak kuasa lagi menahan semprotan spermanya dan ia mendorong penisnya ke dalam mulut Henny. Anna kulihat semakin kuat menggeliat dan mengerang. Agaknya ia pun bakal menyusul suaminya. “Ooohhh, Gus, aku orgasme sayang!” erangnya sambil menggesek-gesekkan labianya ke wajahku. Habislah wajahku dipenuhi oleh vaginanya yang basah dengan sedikit rambut halusnya.

Kedua suami istri itu kemudian saling berpelukan dan berciuman sambil melihat kami berdua, Henny dan aku masih dalam posisi semula.

“Tukar posisi dulu Hen, biar kamu cepet sampai!” saran Anna.

Henny bangkit berdiri hingga penisku keluar dari dalam analnya. Lalu ia menungging membelakangiku, berharap aku mengerjainya dengan doggy style. Aku berdiri di belakang tubuhnya, mengusap-usap pahanya yang putih mulus dan dengan perlahan-lahan memegang kedua pangkal pahanya dengan kedua tanganku. “Lho, mau pakai gaya apa Gus?” tanyanya penasaran. “Tenang saja, sayang, pokoknya nikmati saja!” kataku sambil mengangkat kedua belah pahanya mendekati pinggangku dan kuarahkan penisku ke dalam vaginanya. Diperlakukan begitu olehku, Kedua tangannya hampir tak kuat menahan tubuhnya, ia menahan tubuh bagian atasnya dengan kedua siku tangannya sedangkan vaginanya mulai disusupi oleh penisku. Dengan doggy style yang divariasi begini, membuat tusukan penisku pada klitoris dan liang vaginanya semakin maksimal, dan desahan Henny berganti menjadi jeritan-jeritan kecil penuh kenikmatan.

“Ahhh, nikmat sekali An! Pinter banget temanmu ini memberi kenikmatan padaku?”

Anna hanya tersenyum memandangi Henny. Suaminya Dicky duduk bersandar di punggung ranjang menatap kelakuan kami.

Penisku masuk keluar vagina Henny semakin kuat. Kedua belah pahanya kutarik dan kudorong makin cepat hingga penisku mendapat tekanan yang hebat ketika kutarik kedua pahanya, tetapi ketika kudorong ke depan, denyutan vaginanya seolah-olah tak rela ditinggalkan penisku. Dengan beberapa kali hentakan, kuhantarkan Henny ke puncak kenikmatannya. Teriakan panjangnya terdengar, tetapi dengan cepat mulutnya disumpal oleh mulut Anna yang begitu lincah memagut. “Auuuggghhhh, mmmppppfff …. Aaahhh.”

Kami berempat berbaring sambil meredakan nafas yang terengah-engah. Aku masih belum orgasme lagi sementara mereka bertiga sudah mendapatkan orgasme barusan. Rasa kurang puasku agaknya dipahami Anna yang tahu bagaimana daya tahanku, sebab ia selama ini sangat tahu bagaimana cara memuaskanku.

“Kalian berdua di sini dulu, ya? Aku mau berduaan dengan Agus dulu,” katanya sambil menarik tanganku dan turun dari ranjang.

“Wah, ada rahasia apa nih Dick, koq kita berdua tidak diajak ya?” goda Henny sambil melihat ke arah Dicky. Dicky hanya mengangkat bahu sambil menarik tangan Henny agar mendekati dia. Dicky memeluk tubuh Henny sambil mencium bibirnya dengan lembut. Henny membalas dan mereka kembali terlibat dalam ciuman yang memabukkan, tak peduli lagi terhadap Anna dan aku.

Dengan bertelanjang, Anna menarik tanganku. Kami berdua melangkah ke ruang tengah. Anna mengajakku ke arah sofa, tapi tidak untuk duduk, melainkan menempatkan tubuhnya di atas sandaran sofa dengan kaki kanannya naik mengangkangi sandaran sofa, sedangkan kaki kirinya menapak ke lantai. Ini salah satu variasi dari doggy style yang juga merupakan salah satu posisi favoritnya. Perlahan-lahan kugesekkan penisku ke vaginanya dari belakang. Masih lembab kurasakan vaginanya.

“Masukin Gus, ayo!” pintanya. Kumasukkan penisku makin dalam ke vaginanya. Beberapa tusukan yang kulakukan membuat Anna merintih, tidak hanya mendesah. Itu akibat tekanan penisku pada klitoris dan dinding vaginanya.

“Lebih cepat lagi, sayang!!!” rengeknya manja. Kuikuti permintaannya dengan semakin mempercepat laju pantatku maju mundur, sehingga penisku makin cepat masuk keluar vaginanya. Kedua tanganku kujulurkan ke depan merabai kedua payudaranya, yang kiri berada di sebelah kiri sandaran sofa sedang payudara kanannya berada di sebelah kanan sandaran sofa. Remasan tanganku pada kedua payudaranya ditambah tusukan penisku membuatnya makin terangsang hebat. Apalagi ketika tubuhku kutempatkan tepat di atas punggungnya sambil meremas dan menusuk, kujilati punggungnya dan sesekali menggigit lembut pundaknya. Rintihan Anna semakin menaik dan geliat pinggulnya semakin kuat.

“Guuusss ….. aaaahhhhh ….. enaknyaaa …. Aku dapat lagiiiii sayangggg ….”

Aku ingin bersamaan mencapai puncak kenikmatan, sehingga berusaha mengejar dirinya dengan semakin kuat menggerakkan penisku di dalam vaginanya yang semakin kuat menyedot penisku. Denyutan dinding vaginanya membuat penisku sampai pada puncak aksinya dan dengan suatu erangan kenikmatan, kutusukkan penisku sedalam-dalamnya sambil memeluk tubuh Anna dan meremas payudaranya. Penisku merasakan kenikmatan yang hebat sewaktu kepala penisku kubenamkan dalam dan membiarkannya di dalam vaginanya. Kedutan-kedutan halus kurasakan pada kepala penisku, hingga rasanya aku tak lagi menjejak bumi.

“Plok, plok, plok, plok,” kudengar suara tepukan dua pasang tangan. Rupanya Dicky dan Henny sudah berdiri tinggal beberapa meter dari kami dan melihat kami berdua main. “Ada acara nambah nich yee?” gurau Henny sambil mendekati kami dan bersama-sama Dicky duduk di sofa dekat kami.

Aku tersenyum mendengar kata-kata Henny. Beberapa saat kemudian kucabut penisku dan berdiri lalu mengambil tempat duduk di dekat mereka. Anna lalu menyusul hingga kami berempat duduk di sofa dalam keadaan masih bertelanjang bulat.

“Aku jadi pengen lagi nih Dick. Gimana, bisa bantu aku nggak?” tanya Henny pada Dicky.

“Sepanjang bisa kulakukan, silakan tuan putri,” sambut Dicky dengan gaya seorang hamba terhadap tuan putrinya.

Henny lalu berdiri dan mengalungkan kedua lengannya ke leher Dicky, sambil mencium bibir Dicky ia berbisik pelan tanpa dapat aku dan Anna dengar apa yang ia bisikkan. Kami hanya tersenyum melihat ulah Henny.

Setelah beberapa saat mereka berciuman sambil berpelukan dalam keadaan berdiri, tiba-tiba kami amati Dicky berjongkok dan memegang pergelangan kaki Henny lalu membalikkan tubuh Henny hingga kini kedua tangan Henny bertumpu ke lantai sedangkan kedua kakinya berada di atas dipegangi oleh kedua tangan Dicky pada bagian pergelangan kakinya.

“Posisi 69 dimodifikasi,” bisik Anna perlahan. “Asyik juga tuch. Kapan-kapan kita coba ya, Gus?” sambungnya.

Aku mengangguk sambil menatap lekat-lekat pada Dicky dan Henny. Sambil bertumpu pada kedua tangannya yang ada di lantai, kepala Henny bergerak-gerak mendekati pangkal paha Dicky mencari penisnya. Lalu lidahnya mencium dan menjilati penis Dicky. Dicky sendiri tidak tinggal diam, diperlakukan demikian, ia tak kalah ganasnya, lidahnya terjulur ke vagina Henny yang ada tepat di depan wajahnya. Keduanya saling mencium, menjilat dan mengisap kemaluan yang lain dalam posisi enam sembilan, namun dalam posisi si pria berdiri, sedangkan si perempuan berada pada posisi terbalik dengan kedua tangannya bertumpu di lantai.

Anna bangkit berdiri mendekati mereka berdua. Ia mendekati belakang tubuh Henny dan menciumi pantat Henny. Kadang-kadang mulutnya bertemu dengan mulut suaminya. Mereka berciuman dan sesekali sama-sama menjilat vagina Henny. Lubang anal Henny tak luput dari jilatan lidah mereka berdua. Henny benar-benar dikerjai habis-habisan oleh kedua suami istri itu. Rintihan Henny tak membuat mereka menghentikan aksinya, bahkan semakin liar mencium, menjilat dan jari-jari Anna turut bekerja masuk keluar vagina dan anal Henny, hingga tak kuasa lagi Henny pun meraung mencapai titik kenikmatan tertinggi. Entah bagaimana cara mereka mengerjai Henny, tapi aku terkejut juga sewaktu melihat Henny menjerit, sebab dari vaginanya kulihat cairan muncrat beberapa kali. Mungkin karena ia benar-benar sampai kepada kenikmatan yang tak terkira hingga air seninya turut keluar bersamaan dengan cairan vaginanya, pikirku dan kuingat kejadian yang suka dialami Anna kalau main sampai begitu hebatnya denganku. Dicky mengangkat dan meletakkan tubuh Henny di sofa panjang tepat di samping kiriku. Anna mengambil tempat di sebelah kananku, sedangkan Dicky duduk di sebelah kiri Henny. Beberapa ciuman didaratkan Dicky pada bibir Henny. Anna tak kalah buas dengan suaminya, memagut bibirku dengan lahapnya sambil jari-jarinya mengelus-elus dadaku. Henny sendiri mengelus-elus penisku sambil terus berciuman dengan Dicky.

Aku melirik ke jam dinding, menunjukkan pukul 02.30. Tiga jam sudah kami berempat melakukan hubungan seks gila-gilaan sejak main kartu tadi. Setelah mengaso beberapa saat, Dicky kembali terangsang sebab elusan jari-jari Henny pada penisnya membuat penisnya kembali tegang. Bertelekan pada sofa kecil tanpa sandaran, dengan sebelah kaki menekuk, Henny dihajar dari belakang oleh Dicky. Melihat mereka, Anna tak mau ketinggalan. Ia memintaku melakukan hal yang sama dalam arah yang berlawanan, sedemikian rupa hingga wajahnya berdekatan dengan wajah Henny. Aku menyetubuhi Anna dari belakang, sedang suaminya, Dicky, menancapkan penisnya ke vagina temannya, Henny. Dicky dan aku makin terangsang dan mempercepat laju permainan kami manakala melihat Henny dan Anna berciuman dengan mesranya sambil tangan mereka bermain meremas-remas payudara satu sama lain. Dicky tak lama kemudian orgasme dan menarik diri dari arena pertempuran, namun kedua perempuan itu belum mencapai puncak kenikmatan lagi.

Kubaringkan tubuhku di karpet dan meraih tubuh Henny agar menindih tubuhku. Dengan posisi menduduki perutku berhadapan denganku, Henny memasukkan penisku ke dalam vaginanya lalu mulai menaik-turunkan tubuhnya di atas perutku. Anna yang melihat permainan kami berlutut di samping kami berdua. Kuraih pahanya agar mendekatiku, dan kutempatkan vaginanya tepat di atas wajahku. Dengan aku berbaring di bawah tubuh mereka berdua, penisku menancap dengan mantapnya di dalam vagina Henny, sedangkan vaginan Anna kucium dan jilat semakin gencar. Permainan bertiga kami semakin hangat ketika kedua perempuan itu saling berciuman. Sambil berciuman, Henny meremas-remas payudara Anna dan mengelus-elus putingnya. Tak mau ketinggalan aksi, Anna pun meremas-remas payudara temannya, bahkan sesekali menarik-narik putingnya hingga mata Henny membeliak-beliak menahan nikmat. Gerakan Henny semakin buas naik-turun di atas perutku. Kusambut gerakannya dengan sesekali menaik-turunkan pinggul hingga penisku benar-benar masuk sedalam-dalamnya ke vaginanya. Anna membantu aksiku dengan merabai klitoris temannya pakai tangan kanannya, sedangkan tangan kirinya terus meremas payudara Henny dan memilin-milin putingnya. “Uuuhh, oooohh …. Sssshhhh…. Gila kamu An, diapain klitorisku?” desahnya sambil terus menarik-turunkan tubuhnya dan meremas-remas payudara Anna. Diserang dari dua jurusan seperti itu, membuat Henny makin kencang menggeliat-geliatkan tubuhnya dan dengan satu lengkingan kuat, ia mencapai orgasme. Dengan lincahnya, Anna memagut bibir temannya kuat-kuat dan memegang kedua payudara Henny dengan remasan yang amat kuat, sehingga kedua putingnya kulihat menyembul begitu indah dan runcing. Lengkingan Henny berubah menjadi rintihan ketika Anna mencium bibirnya dan menyedot puting payudaranya secara bergantian dengan gerakan yang cepat, “Ooohhhh, ssss…. Ahhhhh ….. ooouuggghhhhh ….. Annnn ……” “Luar biasa kedua perempuan ini, tak kenal lelah. Pantas Dicky suka kewalahan melayani istrinya yang begini kuat main seks,” kataku dalam hati.

Anna kemudian menggeser tubuh Henny agar bangkit berdiri. Anna kemudian menempatkan tubuhnya di atas perutku, seperti posisi yang barusan dilakukan temannya dan menarik tubuh Henny agar berganti dengannya. Diserang dari dua jurusan seperti itu lagi, membuat penisku terus tegang dan kembali memasuki vagina yang berbeda. Kini vagina Anna dengan sedikit rambut halusnya mendapat giliran untuk kuhantarkan ke gerbang kenikmatan. Vagina Henny yang masih basah kuyup dan tetesan cairan vaginanya di sela-sela pahanya, kujilati dengan lembut dan kumasukkan lidahku ke dalam vaginanya, menelan seluruh cairan yang masih tersisa di dalam. Anna bergerak naik turun di atas perutku, tak ingin kalah aksi dengan temannya barusan, ia pun menggeliat-geliatkan tubuhnya sedemikian rupa dengan gerakan erotis, hingga penisku kurasa mendapatkan remasan yang kuat dan denyutan yang luar biasa di dalam vaginanya. Sesekali ia menghentikan gerakannya dan berkonsentrasi pada vaginanya yang melakukan gerakan menyedot dan mengisap penisku. Denyutan dinding vaginanya begitu nikmat membuatku seakan-akan terbang di angkasa. Rupanya ia ingin menunjukkan kebolehannya dibandingkan temannya tadi. Henny tersenyum melihat aksi temannya dan meremas-remas payudara Anna. Sesekali Henny menampar ringan pantat Anna, sehingga Anna mem*kik-mekik, “Ahhh …. Ooohhh ….. terusin Hen …… oooohhh …. ssssssshh ….. adddduuuhhhhh …. nikmaatttt …. aaahhhhh ….”

Menyaksikan perbuatan kedua perempuan di atasku, membuatku tambah bersemangat. Kuhentakkan pinggul dan perutku kuat-kuat ke atas, hingga tubuh Anna tersentak ke atas, “Oooouuggghhh …… enak Gussss …. Oooohhhh …. sssshhh …” desisnya seperti orang kepedasan. Remasan Henny pada payudara Anna membuat Anna semakin kuat menggeliat-geliatkan tubuhnya dan kembali ia menaik-turunkan tubuhnya di atas perutku.

Sementara itu, jilatan dan isapan bibir dan lidahku semakin ganas mengerjai vagina dan klitoris Henny. Sesekali lubang analnya kukait-kait dengan lidahku, hingga Henny pun kembali merintih. Merasakan rangsangan pada vaginanya, membuat Henny kembali menciumi bibir Anna dengan kuat. Henny dengan sisa-sisa kekuatannya mencoba bertahan, tetapi dengan isapan bibirku dan jilatan lidahku, membuatnya tak lama kemudian kembali orgasme. “Aaaahhhh… Gus, aku dapat lagiiiii sayangggg!” rintihnya. Hebat juga, bisa berturutan dalam waktu berdekatan, ia capai kembali puncak kenikmatan. Ia mencoba menarik kedua pahanya dari serangan mulut dan lidahku, tetapi kutahan kedua pahanya dengan tanganku sambil meremas-remas payudaranya. Anna yang melihat temannya sudah orgasme lagi, membalas ciuman Henny dan membelai-belai punggung Henny, meremas-remas pantat dan juga payudara temannya.

Penisku yang dikerjai Anna semakin tak kuasa membendung aliran yang akan keluar. “Ann ….. uuuuhhh … aku mau keluar, sayanggggg!!!” erangku sambil menggerakkan pinggulku ke kiri dan kanan.

“Ok sayang, kita bareng ya? Aku juga mau dapet nihhh …. Ayo tancap yang kuat, oooohhhhh …. uuuuhhh …. mmmmfffhhhhhh ……. Ooooouuugggghhhh ….” rintihan Anna berubah menjadi jeritan memenuhi ruangan itu.

Kurasakan aliran spermaku keluar dengan derasnya ke dalam vagina Anna. Anna pun mencapai kenikmatan hingga tubuhnya melengkung ke belakang disertai serangan bibir dan lidah Henny pada payudaranya. Agak lama Anna melakukan itu, denyutan liang vaginanya meremas-remas penisku masih terasa begitu kuat, ketika Henny menarik dirinya dari atas wajahku dan menciumi bibir temannya. Kedua perempuan itu berciuman dengan mesra sambil mengelus-elus tubuh yang lain secara serempak. Anna mangangkat tubuhnya dan mengeluarkan penisku dari dalam vaginanya, lalu seolah-olah sudah sepakat, keduanya menundukkan muka di pangkal pahaku dan menciumi penisku. Jilatan lidah keduanya membuat aku semakin mengawang. Kedua tanganku kugunakan untuk meremas-remas payudara kedua perempuan itu. Rasa geli bercampur nikmat memenuhi diriku. Lidah yang satu bergantian menjilati kepala penisku. Batang penisku tak luput dari sasaran mereka. Bahkan testisku turut dikulum dimasukkan ke dalam mulut mereka secara bergantian. Henny yang pertama-tama kulihat memasukkan penisku ke dalam mulutnya hingga masuk sedalam-dalamnya. Sekitar tiga menit ia melakukan itu, lalu menyorongkan penisku ke mulut Anna. Anna menyambut dan menciumi kepala penisku, lubang kencingku dijilatinya dan dengan lahapnya ditelannya penisku hingga ke pangkalnya, persis seperti yang dilakukan temannya barusan. Setelah puas menelan penisku secara bergantian, mereka berciuman sambil memegangi penisku.

Permainan itu mengakhiri sesi kami saat itu. Sebab setelah sama-sama orgasme, kedua perempuan itu mengajak kami masuk kamar lagi dan akhirnya kami berempat tidur dalam keadaan telanjang hingga pukul 9 pagi. Paginya kami mandi berempat dan sempat saling berciuman di kamar mandi, tetapi tak ada permainan panas lagi di situ, sebab perut kami sudah lapar minta diisi. Anna hanya memanaskan nasi dan menggoreng telur mata sapi untuk sarapan kami berempat, lalu kami berempat duduk-duduk di teras belakang membahas permainan kami semalam sambil tertawa-tawa.

Begitulah pengalamanku main berempat dengan Dicky, istrinya Anna dan teman istrinya, Henny. Sebelum hamilnya Anna, pernah ia mengajakku menginap di rumahnya waktu suaminya bertugas ke Hongkong selama 2 minggu. Waktu aku menginap itu, temannya Henny datang beberapa kali sehingga kami bertiga melakukan hubungan seks panas.

Dua hari menjelang pulangnya Dicky, Henny menginap lagi bersama kami, tetapi kali ini ia tidak sendiri, melainkan membawa seorang temannya, Arie, seorang gadis lajang peranakan Madura Ambon, orangnya tomboy, tidak cantik, tetapi dengan kulitnya yang hitam manis, dengan sedikit kumis tipis di atas bibirnya, membuat dirinya menarik, walaupun payudaranya paling kecil dibandingkan Anna dan Henny. Mula-mula aku tak begitu senang karena melihatnya ngomong ceplas-ceplos, tetapi begitu kenal semakin lama, enak juga ngobrol dengannya. Malamnya ketika habis makan, ketiga perempuan itu mengajakku nonton film blue berempat. Film yang mereka putar adalah film lesbi, tetapi menjelang akhir film tersebut, dipertunjukkan kehadiran seorang pria yang dikeroyok tiga orang perempuan. “Wah, apa ini pertanda baik atau buruk?” pikirku, harap-harap cemas. Pengen main dengan Henny dan Anna seperti biasanya, tetapi malu ada teman mereka. Lagi-lagi hal itu merupakan bagian dari rencana Henny dan Anna untuk mengerjaiku, sebab Arie adalah teman Henny, juga bukan lesbi tulen, tetapi berulang-kali patah hati oleh perlakuan pria, hingga tak pernah berniat lagi untuk menikah. Kehadiran Arie ini membuka babak baru petualangan seksku, sebab ternyata ia sangat ahli dalam bermain seks, bahkan dengan alat bantu penis buatan, ia mampu membuat Henny dan Anna menjerit-jerit nikmat. Hebatnya lagi, mereka bertiga berhasil memperdaya diriku untuk mengajak main seks misterius, di mana kedua mataku ditutupi kain hitam, lalu kedua kaki dan kedua tanganku dipentang lebar-lebar dan diikat dengan tali ke empat sudut ranjang. Aku yang memang penasaran akan pengalaman baru, mau saja diperlakukan begitu. Belakangan barulah aku tahu, bahwa Arie ingin mengerjai analku dengan penis buatan yang ia ikatkan tepat di depan vaginanya. Sambil mengangkat kedua pahaku agar penis buatan itu masuk ke dalam analku, Henny dan Anna bergantian menduduki perutku dan memasukkan penisku ke dalam vagina dan anal mereka secara bergantian. Arie dengan penis buatannya juga mampu menyetubuhi Henny dan Anna secara bergantian sambil memintaku merojok vagina dan analnya dari belakang. Kisah itu akan kuceritakan pada kali berikut. Sayang, ketika Dicky pulang, Arie sudah kembali ke Australia, sebab ia mendapat kesempatan untuk meneruskan ke jenjang master, sehingga hanya cerita yang ia peroleh dari kami walaupun rasa penasaran membuatnya begitu ingin bertemu dan main bersama Arie.

Istri Yang Selingkuh

April 29, 2009 pukul 8:02 am | Ditulis dalam Cerita Dewasa, Pesta Seks | Tinggalkan komentar

Gara-gara terjebak nafsu untuk berselingkuh, malah membuatku ketagihan. Dulu aku puas ngeseks hanya dengan satu pria. Sekarang, aku lebih puas dengan ngeseks ramai-ramai. Bukan lagi dengan satu pria tentunya, melainkan lima pria sekaligus, aku baru puas.

Aku seorang wanita berumur 30 tahun, ibu dari dua orang anak. Tentunya statusku nikah dengan seorang suami. Kami telah terikat perkimpoian selama tujuh tahun. Aku nikah setelah berhasil meraih gelar kesarjanaanku di kota Bandung.

Suamiku normal-normal saja, demikian juga dengan hubungan seksku. Aku melakukannya sekitar 2 atau 3 kali seminggu dengan suamiku. Namun semuanya berubah ketika aku mengalami suatu hal yang tidak kuduga sebelumnya pada tiga bulan yang lalu. Ternyata kemampuan seksku lebih dari yang kuduga sebelumnya.

Aku biasa dipanggil Ratih. Tinggi badanku sekitar 156 cm dengan berat 49 kg. Ukuran BH-ku 34C, pinggulku yang agak besar berukuran 100 cm semakin menonjol dengan pinggangku yang hanya 58 cm itu. Walaupun dari rahimku telah terlahir dua orang anakku, bodyku sih oke-oke saja. Hampir tidak ada perubahan yang mencolok.

Kembali pada kejadian yang gila. Mula-mula aku bertemu temanku, Merry saat aku sedang berbelanja di sebuah mall. Ia adalah sobatku sewaktu di SMA dulu. Saat itu ia bersama dua orang teman laki-lakinya, yang langsung dikenalkannya kepadaku. Mereka bernama Yanto dan Andi. Mereka ternyata adalah teman-teman yang enak diajak bicara. Akhirnya kami pun menjadi akrab. Siang itu kami melanjutkan obrolan sambil makan di sebuah restoran.

Setelah pertemuan itu, ternyata Yanto sering menelepon ke rumahku walaupun ia sudah tahu bahwa aku ini seorang istri dengan dua orang anak. Dalam pembicaraan telepon, ia memang sering mengeluarkan rayuan gombalnya kepadaku tapi tetap ia menjadi teman bicara yang enak.

Ia berusaha mengajakku makan siang dengan gigihnya. Hal itu yang membuatku menyerah juga. Akhirnya aku menyetujuinya juga. Syaratnya, makan siangnya harus ramai-ramai.

Aku, Merry, Yanto, dan Andi bertemu di tempat yang sudah kami sepakati bersama. Bersama kedua teman cowok kami, ikut serta pula tiga orang teman mereka yang lain: Eko, Benny, dan Adi. Mereka semua rata-rata berusia delapan tahun lebih tua daripada aku dan Merry.

Kami makan siang bersama di sebuah restoran yang ada fasilitas karaokenya. Kami makan dengan ramainya sambil berkaraoke. Memang aku pun senang berkaraoke.

“Ayo, Rat… nyanyi lagi…,” mereka menyemangatiku kala aku melantunkan lagu. Ternyata kelima cowok keren itu merupakan teman yang enak untuk gaul. Wawasan mereka luas dan menyenangkan. Akhirnya kami cepat menjadi akrab. Ternyata, baru kusadari nanti bahwa inilah kekeliruanku….

Seminggu kemudian aku diundang lagi, kali ini oleh Andi, untuk makan siang dan berkaraoke lagi. Tanpa pikir panjang dan tanya-tanya lagi, aku pun langsung menyetujuinya. Aku bolos masuk kantor setelah makan siang, lalu pergi ke tempat karaoke bersama mereka.

Nah, di saat itulah terjadi sesuatu yang tidak kuduga. Ternyata aku dibawa ke tempat karaoke yang khusus untuk berkaraoke saja. Bukannya sebuah restoran. Tempatnya berupa sebuah kamar tertutup dengan kursi panjang. Kali ini Merry pun tidak ikut. Jadi hanya aku dengan kelima cowok itu.

Karena sudah telanjur masuk ke sana, akhirnya kucoba menenangkan diri. Walaupun aku agak deg-degan juga pada awalnya. Kenyataannya, akhirnya suasana menjadi seru ketika secara bergantian kami berkaraoke.

Aku pun dipesankan minuman whisky-cola yang membuat badanku jadi hangat. Akhirnya mereka meminta berdansa denganku saat salah satu di antara mereka bernyanyi. Saat melantai itulah, lama-kelamaan mereka berani merapatkan dadanya ke tubuhku dan menekan serta menggesek-gesek payudaraku.

Anehnya, aku malah diam dan mencoba menikmati apa yang mereka perbuat kepadaku, yang lama-lama membuatku terbakar dan menikmati permainan ini. Mereka bergantian berdansa denganku.

“Ratih, badanmu hot sekali,” ujar Yanto berbisik di telingaku sambil bibirnya mencium belakang telingaku, membuatku merinding nikmat… Tangannya lalu tanpa malu-malu lagi meremas payudaraku. Aku pun terangsang hebat….

“Aahhh… jangaaannnn…,” kataku ketika Yanto dengan beraninya membuka kancing blusku dan menyusupkan tangannya ke dalamnya… Tangannya meremas dan memilin puting payudaraku dengan semakin hotnya… Aku sebenarnya masih menyimpan sedikit rasa malu karena semua aksi kami ditonton oleh yang lainnya dengan tatapan penuh nafsu….

Anehnya, seperti dibius, tubuhku tidak berontak. Tanganku sama sekali tidak berusaha melepaskan tangan Yanto yang terus menggerayangi payudaraku yang kini terbuka lebar…

“Mmmhhh…,” rintihku penuh kenikmatan. Hanya itu yang ternyata sanggup keluar dari bibirku…

Yanto akhirnya mengulum bibirku dan menindih rapat-rapat tubuhku di atas sofa.

Aku benar-benar lupa diri ketika jari-jemari Yanto bergerilya di dalam celana dalamku. Ia terus menggelitik bibir lubang vaginaku yang sudah basah dan rasanya menebal itu.

Spontan yang lainnya pun ikut-ikutan. Dengan liar akhirnya kelima cowok itu mengerubuti tubuhku.

Akhirnya, tahu-tahu tubuhku sudah bugil tanpa sehelai benang pun dan digeluti bersama oleh mereka. Yantolah yang lebih dahulu menusukkan senjatanya ke dalam lubang kemaluanku. Lalu Adi memasukkan senjatanya ke dalam mulutku. Andi mengisap puting kiri payudaraku sambil membimbing tangan kiriku untuk mengelus-elus senjatanya. Sementara itu Eko mengisap puting yang sebelahnya sambil melakukan hal yang sama pula terhadap tangan kananku. Terakhir, Benny menggosok-gosokkan senjatanya ke wajahku.

“Aacchhh….,” aku mendapat orgasme pertama ketika Yanto sedang asyik-asyiknya menggenjot tubuhnya di atas tubuhku. Spontan, kedua tanganku meremas penis Andi dan Eko yang ada dalam genggamanku dengan keras…. Aku sendiri tak bisa mengeluarkan lenguhan kenikmatanku secara lepas karena penis Adi yang hangat itu dengan serunya terus bermain di mulutku.

Adi yang tahu aku baru saja orgasme hanya menyeringai kepadaku. Tampaknya ia pun semakin semangat memompa mulutku….

“Ratiih…,” desah Yanto menggeliat ketika memuntahkan maninya di dalam lubangku. Hangat dan terasa kental memenuhi lubang kemaluanku. Dipegangnya pantatku erat-erat supaya semua spermanya masuk ke dalam tubuhku…. Adi tambah semangat mengocok senjatanya di dalam mulutku.

Setelah Yanto selesai, posisinya langsung diganti Benny yang sejak tadi hanya mengosok-gosokkan senjatanya yang panjang dan besar di wajahku.

Langsung ditancapkannya ke dalam lubangku yang hangat, sudah penuh dan licin dengan cairan milik Yanto. Benny begitu semangatnya menyetubuhiku.

“Mmmmphh, aghhh….,” tubuhku bergetar menggeliat.

Bayangkan… payudaraku dihisap putingnya oleh Eko dan Andi seperti dua bayi besar. Sementara lubang kemaluanku mulai dihunjam oleh senjata Benny dengan ganasnya. Di mulutku, Adi akhirnya menyemprotkan cairannya dengan deras dan langsung kuhisap kuat-kuat.

“Aaaacchhh….,” air mani Adi yang terasa hangat asin seperti kuah oyster masuk ke dalam tenggorokanku.

Bersamaan dengan itu, Benny juga menyemprotkan maninya di lubang vaginaku. Multiorgasme…. Aku sudah mendapakannya tiga atau empat kali dan masih ada Eko dan Andi yang belum kebagian menyemprotkan cairannya.

Tubuh Adi dan Benny berkelojotan dan akhirnya terhempas.

Andi menggantikan posisi Adi. Penisnya yang bengkok ke atas terasa penuh di mulutku.

Eko menepis Benny dari atas tubuhku. Untuk yang ketiga kalinya, lubang vaginaku dimasuki oleh orang yang berbeda…. Ternyata senjata milik Eko lah yang paling panjang dan besar. Aku khawatir kalau penis Eko agak susah untuk masuk ke dalam vaginaku. Syukurlah, ternyata tak sesulit yang kubayangkan karena lubang vaginaku telah penuh dengan cairan dari dua orang yang terdahulu.

Benar saja, terasa sangat mantap dan nikmat ketika senjata Eko menggesek lubangku yang sudah terasa panas dan semakin tebal rasanya. Napasku sampai terengah-engah dibuatnya…

“Rat…. iseeepp yang kuaaattt….,” ternyata Andi tidak kuat dengan isapan mulutku. Ia akan segera mencapai klimaks. Aku pun segera mematuhi perintahnya dengan mengisapnya lebih kuat lagi….

Penis Andi pun memuncratkan cairan maninya di dalam mulutku. Terasa air mani Andi lebih strong aromanya, lebih hangat, lebih kental, dan lebih banyak memenuhi mulut dan tenggorokanku. Aku sampai agak gelagapan karena mulutku jadi penuh dan hampir tersedak…. Namun aku berusaha untuk tenang… Pelan-pelan kutelan sperma Andi yang membludak. Sementara bibirku tetap mencengkram penis Andi supaya tak lepas…. Setelah penis Andi kering benar dan mulai mengkerut, barulah aku melepaskannya…. Ia pun lalu tergeletak di atas kepalaku.

Sekarang tinggal aku dan Eko…. Eko pun lalu mengubah posisinya menjadi ‘missionary position’. Sambil penisnya terus mengocok kemaluanku, tubuhnya pun menindih tubuhku. Wajah kami pun berhadap-hadapan dekat sekali… Sambil terus beraktivitas, Eko tersenyum padaku.

“Rat, kamu hebat sekali…,” katanya.

Aku pun tersenyum malu.

“Oh, Eko…,” bisikku. Lalu seperti sepasang kekasih, kami pun saling berciuman bibir.

Tak lama kemudian, Eko juga menggeliat menyemburkan cairannnya ke dalam lubang kemaluanku. Tubuhku terasa lemas tetapi bergetar kuat mengiringi muncratnya cairan Eko. Eko semakin mendorong pangkal pahanya ke pangkal pahaku supaya cairannya masuk semua ke tubuhku… Rasanya aku sudah orgasme enam kali ketika akhirnya Eko menggelepar dan terbaring tepat di samping tubuhku. Kami pun lalu berbaring telentang sambil berpelukan dan menikmati hasil persetubuhan kami….

Selesailah pertempuran besar antara aku dan kelima cowok siang itu di ruang karaoke. Walaupun ber-AC, namun udara saat itu tetap terasa panas. Badan kami bercucuran keringat. Apalagi aku, karena selain basah oleh keringatku sendiri, juga bercampur dengan keringat kelima cowok yang barusan menyetubuhiku…. belum lagi dengan tumpahan air mani mereka yang berceceran di seluruh bagian tubuhku….

Setelah itu, semuanya terdiam. Tak ada satu pun di antara kami yang saling bercakap. Beberapa cowok tertidur karena kelelahan. Akhirnya, beberapa puluh menit kemudian, kami pun berbenah-benah.

Celakanya, di kamar itu tidak ada kamar mandi. Akhirnya, aku hanya mengelap cairan kelima lelaki yang memenuhi lubang vaginaku dan menetes ke pahaku dengan bra dan celana dalamku saja. Lalu aku memakai bra dan celana dalamku yang agak basah dan lengket itu. Disusul dengan blouse, rok serta blazer yang tadinya bertebaran di lantai. Yang membuatku senang, Eko ikut membantuku berpakaian. Paling tidak, aku merasa dihargai dan tidak sekedar menjadi pemuas nafsu mereka…. Mereka pun segera memakai kembali baju dan celananya.

Jam lima sore, kami keluar dari karaoke itu. Berarti empat jam sudah kami berada di dalamnya karena kami masuk pada pukul satu siang. Sedangkan aku sendiri digilir oleh mereka lebih kurang selama satu setengah jam non-stop. Waah, aku kagum juga dengan daya tahanku…. walaupun rasanya kakiku pegal-pegal dan ngilu. Begitu juga selangkanganku dan mulutku….

Waktu melewati kasir rasanya aku malu juga. Walaupun mereka tidak tahu apa yang terjadi di dalam tapi wajahku tetap merasa memerah. Make up ku telah berantakan dan rasanya minyak wangiku telah berubah menjadi bau aroma air mani….

Mungkin kasir wanita itu bisa mengendus baunya… atau malah mungkin ia sedang membayangkan kejadian yang baru saja kualami. Sementara itu, di paha dan kakiku terasa mani mereka merembes mengalir keluar dari lubang vaginaku.

Untung sesampainya di rumah, suamiku belum pulang… Cepat-cepat aku ke kamar mandi membersihkan tubuh dan pakaianku.

Ternyata, malamnya suamiku menagih jatahnya juga… Untung aku sudah membersihkan badanku dan menyemprotkan minyak wangi untuk menghilangkan aroma sperma kelima cowok itu…

Walaupun komentar suamiku membuatku deg-degan, mudah-mudahan ia tidak curiga….

“Rat, punyamu kok rasanya lain banget… tebel…,” bisik suamiku di telingaku…

“Terima kasih, ya… Enak…,” lanjut suamiku setelah ia menyemprotkan cairannya beberapa menit kemudian. Lalu ia tertidur pulas di sampingku. Ia tidak tahu sudah jadi orang keenam hari itu yang memuncratkan cairannya untukku.

« Halaman SebelumnyaHalaman Berikutnya »

Blog pada WordPress.com. | The Pool Theme.
Entries dan komentar feeds.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.